Langsung ke konten utama

NO HARD FEELING


Kalo kata anak sekarang, jangan baper. Hidup dalam lingkungan manapun, jangan mudah baper. No hard feeling. Dimanapun, kapanpun.

No hard feeling, udah capek-capek masak, bangun jam 4 pagi, masak untuk lakik, terus lakik malah pengen beli lauk. No hard feeling. Mungkin lakik pengen variasi, bosan makanan rumahan, atau lagi gak enak badan, pengen makan yang hangat-hangat. Secara masak dari subuh pasti masakannya udah dingin.

No hard feeling, kawan seruangan jutek, gak senyum dari pagi, diajak ngomong diem aja. Mungkin dia pms, mungkin ada masalah, mungkin dompetnya kosong atau mungkin berantem sama pasangannya. 

No hard feeling, yang punya kontrakan nagih duit bayaran rumah, padahal belum waktunya bayar. Mungkin dia butuh uang, atau anaknya sakit dan anak yang satu lagi belum bayar uang sekolah. 

No hard feeling, kalo lakik seharian diam aja. Pasti banyak yang difikirkannya, kerjaan, keluarga, kampung halaman, cicilan, atau mikirin kenapa mukak bininya makin lama makin horor. 

No hard feeling, sahabat yang biasanya keep in touch tiap hari, udah sebulan gak japri. Mungkin kerjaannya banyak, anaknya sakit, lakiknya keluar kota, atau laporan bulanannya numpuk. 

No hard feeling, ketika anak yang biasa ceria, tetiba murung. Mungkin kita sering marah, tak mau mendengarkan ceritanya, lebih banyak bercumbu sama handphone, mengabaikan semua keluhannya. 

No hard feeling, pas beli sarapan, udah bayar, dijutekin, diomelin sama penjualnya. Bisa saja anaknya yang kerja jauh lagi sakit, bisa saja dia berantem sama lakiknya, bisa saja dagangannya gak laku, bisa saja sebenarnya dia lelah karena gak bisa tidur semalaman. 

Jadi, no hard feeling. Yang kita rasakan, belum tentu sama dengan yang orang lain pikirkan, yang kita pikirkan, belum tentu sama dengan yang orang lain rasakan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...

SEMUA WANITA PENGEN CANTIK

Itu udah kodrat banget kayaknya... Semua wanita ngerasa ada aja yang kurang sama fisiknya. Yang gendut pengen langsing, yang kurus pengen agak berisi, yang hidungnya pesek pengen mancung. Bahkan seseorang yang udah semurna di mata orang lain aja masih juga ngerasa ada yang kurang. Siapa juga yang gak pengen secantik barbie... waktu kecil aku punya banyak boneka barbie. Sebagai anak perempuan yang lugu dan suka berkhayal, kalo udah dewasa aku pengen secantik barbie. Tinggi, langsing dengan rambut panjang dan ikal. Setelah dewasa aku tumbuh menjadi wanita yang pendek, gendut dengan rambut ikal nyaris keriting yang susah banget panjangnya.... Kenapa ya cewek2 cendrung kepengan lebih cantik, kalo cowok kayanya jarang ngerasa ada kekurangan di fisiknya. Kemaren, waktu ke Dumai dan jumpa dengan teman cowok yang baru nikah. aku nanya ma dia, ini dialog yang terjadi : "Gimana rasanya nikah bang?" terus si abang menjawab, "Enak, makanya jangan kelamaan pacaran..." ...

NALURI KEIBUAN

Apa siyh naluri keibuan? Naluri keibuan itu naluri ibu-ibu. Naluri being a lovely mom. Karena itulah wanita memiliki berkah rahim, udah fitrahnya memiliki sifat penyayang. Jadi, mamak ini, punya naluri keibuan sedikit. Tapi itu duluuu. Kalau kata dosen mamak waktu kuliah, beliau bilang, "kamu ini kaya mesin diesel ya, panasnya lama." Beliau bilang gitu karena eh karena, nilai mamak stabilnya itu pas semester 7 dan 8. Udah gak bisa ngejar ipk bagus. Emang melonjak jauh nilai mamak. Sama kaya sekarang, pas udah lahir anak bayi, barulah naluri keibuan mamak muncul sepenuhnya. Waktu kuliah, mamak ingat banget, waktu mamak mengadakan observasi ke TPA, mamak berempat satu kelompok, anak TPA itu kayanya gak respon sama mamak malah mamak dilempar pake mainan. Aura gak suka sama anak-anak emang kelihatan ya. Jangankan naluri keibuan, lihat anak-anak tantrum aja mamak bisa mendelik ke mamaknya, juga anaknya, sambil ngomong dalam hati, mending gak usah keluar daripada anak tantrum ...