Langsung ke konten utama

TPA ATAU?

Kehamilan adalah hal yang membahagiakan bagi setiap ibu. Punya bayi yang menggemaskan, lucu, imut. Senanglah pokoknya. 

Tapi dilema muncul, abis beranak, lagi gemes-gemesnya sama anak, ehhhh, jatah cuti yang cuma 2 bulan berlalu begitu saja. Lalu mamak kudu piye?

Ini masalah baru dalam hidup mamak. Waktu jamannya si kakak, mamak masih santay kek di pantay. Masih tinggal sama wawa, cuti melahirkan dapat 3 bulan, dan jauhhh sebelum si kakak lahir, wawa udah nyariin bude yang bakal ngerawat si kakak kalau mamak kerja. 

Pas anak bayi lahir, mamak udah hijrah ke siak, kerja jauh juga dari rumah. Jadi memang harus benar-benar difikirkan gimana jalan keluarnya. Mamak hampir putus asa , 2 minggu sebelum cuti habis, belum ada juga solusi terbaik. Mamak benar-benar galau. Pengen berhenti kerja, berkali-kali mikir buat berenti kerja aja. Tapi apakah semudah itu mengambil keputusan? 

Datanglah si ibu, ngasih tau, ada TPA aka. Tempat Penitipan Anak dekat rumah mamak. 10 menit lah kalau naik motor. Dua hari sebelum mamak kerja, mamak datang ke TPA itu, rencananya mau gladi resik. Anak bayi dititipin sampai jam 12 siang. Rewel gak dia, serasi gak dia. Sampai sana mamak shock, yang megang anak bayi keliatan masih kinyis-kinyis, kecil banget. Mamak sampai mikir, anak ni sanggup gak gendong anak bayi, bisa gak ngurusin bayi. Walaupun ibu gurunya ada 5 di TPA itu, tapi dengan jumlah anak yang hampir 10 orang, tentu gak mungkin meminta anak bayi diistimewakan. Gak bisa milih-milih anak bayi dipegang oleh siapa dan siapa. 

Jadilah mamak meninggalkan anak bayi di TPA sambil menangis lebay. Nangis yang terisak-isak. Sampai rumah mamak beberes pun sambil nangis, si bapak sampai esmoni ngeliatnya. Jam setengah 12 mamak jemput anak bayi, dia lagi tidur dengan nyenyak di ayunan. Sementara mamak udah nangis sampai mata bengkak. Kata ibu gurunya anak bayi senang-senang aja main disana. Mamak makin sedih, kok anak bayi gak ada posesif-posesifnya sama mamak.

Bagi ibu bekerja, TPA adalah solusi. Ketika anak tidak bisa ikut siapa-siapa saat orang tua bekerja. Dalam memilih TPA pun tidak bisa sembarangan. Carilah yang gurunya tampak sayang dengan anak-anak, lingkungannya baik, religius. Dan alhamdulillah, TPA anak bayi paket komplit. Guru-gurunya sayang sama anak, guru-gurunya juga lulusan sekolah agama, ada juga yang lulusan sekolah kesehatan. Mamak sangat bersukur berjodoh sama TPA anak bayi ini. Mamak tenang meninggalkan anak bayi dari umur 3 bulan sampai sekarang, 10 bulan.

Mamak-mamak jangan underestimate dengan TPA. Gak perlu banding-bandingkan anak yang dirawat ibu sendiri sama yang dirawat di TPA akan beda, jangan ngomongin ibu bekerja itu percuma sekolah tinggi kalo yang jaga anaknya tamat SMP. Seriusan ini, di TPA anak bayi, gurunya rata-rata s1. Semua orang punya problem masing-masing. Ibu bekerja pun bukan merasa 'bebas' meninggalkan anaknya di TPA. Sehari sampai berkali-kali nelpon ibu guru untuk memastikan anaknya baik-baik saja. 

Jangan menjudge pilihan ibu yang menitipkan anaknya di TPA. Memang hanya itu pilihan terbaik. TPA tidak selamanya buruk, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi karena di TPA mereka dihadapkan dengan banyaknya anak lain. Namun tak dapat dipungkiri, anak TPA rentan sakit. Sakit satu, sakit semua. Jadi memang kita yang harus menjaga imunitas anak kita. 

Semua pilihan ada resikonya. Dunia bukan hanya tentang hitam dan putih. Banyak warna lain yang menghiasinya. Jangan memandang baik buruknya hidup seseorang dengan kacamata hidup kita. Karena air mata tiap keluarga itu berbeda. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PASIEN EXIT

Bekerja di rumah sakit itu bagiku adalah anugrah. Disini aku belajar banyak bersyukur. Setiap melihat pasien sakit, korban kecelakaan dan kematian, aku berterimakasih pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk bernafas. Seringkali pasien sakit parah itu merintih-rintih. Entah berapa kali pula aku melihat peristiwa sakaratul maut. Terkadang aku berfikir, bagaimanakah peristiwa sakaratul mautku kelak? Apakah akan berteriak pilu seperti pasien kecelakaan yang aku lihat 2 bulan lalu, atau seperti pasien asma kemarin, yang melewati saat-saat terakhirnya dengan zikir. Mudah-mudahan aku pergi dalam keadaan baik.  Setahun belakangan ini, aku tidak lagi ditempatkan di ruang rawat. Tapi pindah ke bagian administrasi. Mungkin karena latar belakang ilmu komputer yang aku miliki, jadi walaupun pendidikanku perawat, tapi aku dianggap mampu untuk menghandle bagian administrasi. Sebenarnya aku kurang suka pekerjaanku yang baru ini. Mungkin karena belum terbiasa. Ditambah lagi, aku mengur...

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...

SEMUA WANITA PENGEN CANTIK

Itu udah kodrat banget kayaknya... Semua wanita ngerasa ada aja yang kurang sama fisiknya. Yang gendut pengen langsing, yang kurus pengen agak berisi, yang hidungnya pesek pengen mancung. Bahkan seseorang yang udah semurna di mata orang lain aja masih juga ngerasa ada yang kurang. Siapa juga yang gak pengen secantik barbie... waktu kecil aku punya banyak boneka barbie. Sebagai anak perempuan yang lugu dan suka berkhayal, kalo udah dewasa aku pengen secantik barbie. Tinggi, langsing dengan rambut panjang dan ikal. Setelah dewasa aku tumbuh menjadi wanita yang pendek, gendut dengan rambut ikal nyaris keriting yang susah banget panjangnya.... Kenapa ya cewek2 cendrung kepengan lebih cantik, kalo cowok kayanya jarang ngerasa ada kekurangan di fisiknya. Kemaren, waktu ke Dumai dan jumpa dengan teman cowok yang baru nikah. aku nanya ma dia, ini dialog yang terjadi : "Gimana rasanya nikah bang?" terus si abang menjawab, "Enak, makanya jangan kelamaan pacaran..." ...