Langsung ke konten utama

ROMANTİSME SUAMİ

Hujan dan pagi itu ujian. Otak mikir harus bangun, tapi badan masih minta tidur. Jadi seperti dualisme yang tak akan pernah menyatu (apa sih mak). Hujan itu berkah. Hujan itu rahmat. Hujan itu anugerah. Doa yang kita panjatkan di saat hujan adalah doa yang tak tertolak. Tentu saja doa yang baik. Hujan itu juga romantis. Seperti suami.

Apakah si bapak romantis? Jawabnya totally NO. Gak ada romantis-romantisnya si bapak. Sejak dulu sebelum nikah, sampai sekarang, sikap si bapak yang satu ini selalu konsisten. DİNGİN kek kulkas. Tapi, namanya hidup ya mak, kalo mau cari suami yang sempurna, nyari sampai ke ujung dunia pun gak bakal ketemu, begitu juga kita, sebagai istri, kita gak sempurna. Jadi kalau ada kekurangan suami yang sulit kita terima, ingatlah kekurangan kita sendiri yang pasti suami juga sulit terima (mamak juga bisa bijak.)

Romantis suami itu tentu berbeda-beda. Ada yang suaminya rajin kasi bunga, rajin bilang ai lop yu, rajin transfer duit (ini suami idaman semua wanita). Semua istri kan punya standar sendiri ya, gak bisa di generalisasi kan.

Tapi sebagai wanita qonaah, yang cinta dan sayang suami, mamak bersukur walopun si bapak gak romantis. Bagi mamak, ketika si bapak mau momong anak bayi ketika mamak nyuci, beres-beres rumah, itu udah romantis. Ketika si bapak becanda sama mamak dan anak-anak itu romantis. Ketika si bapak mau antar jemput si kakak sekolah, itu romantis. Ketika si bapak pergi belikan gorengan untuk mamak itu romantis. Ketika si bapak pergi sholat jamaah itu romantis. Dan yang paling romantis itu, ketika awal bulan bapak ngasi lembaran kertas warna merah yang jumlahnya banyak, so romantic, ini moment yang membuat mamak gak bisa move on dari bapak. 

Karena terbiasa lihat si bapak gak romantis, mamak jadi aneh pas si bapak lebay. Ketika hujan turun pagi-pagi, si bapak ngomong, 

Si bapak : "gak kerja kan bund?"

Mamak : "kerja pak, tunggu hujan reda. Kenapa emangnya?"

Si bapak : "aku mencemaskanmu sayang."

Mamak terdiam. Terus leher merinding. Rasanya melihat sesuatu yang syeram, ganjil, aneh. Aku gak biasa diginiin pak. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NGERUMPI PULANG NGAJI

Ngobrol sama si kakak akhir-akhir ini seperti ngomong sama anak smp. Entahlah. mamak juga heran, kenapa anak sekarang cepat dewasanya. Padahal, sekolah masih teka, baca belum bisa, makan aja masih disuapin, eek masih dicebokin, tapi kalo pola pikir, kalah anak sd. Cita-cita aja gak ngerti artinya, malah bahas pacaran. Ampun sama si kakak. Kakak tiap maghrib sampai isya di mesjid, ngaji sama sholat berjamaah. Pulang ngaji, dia suka cerita sama mamak. Ceritanya macam-macam. Mulai dari yang penting, kaya.... Kakak : "bund, cita-cita itu apa?" Mamak : "apa yang ingin kakak lakukan ketika sudah besar." Kakak : "oh gitu." Mamak dah yakin, pasti si kakak bahas masalah jadi kasir. Cita-cita abadi kakak dari masih kecil adalah jadi kasir di serba 6000, dengan tujuan supaya bisa bebas ambil mainan. Kakak : "jadi, kalau kita ingin jadi kasir itu cita-cita." Mamak : "iya kak." Kakak : "oohhh, kakak pikir ci...

MAMAK MAUNYA APA

Ini pertanyaan yang sedang mamak ajukan ke diri mamak sendiri, berkaitan dengan si kakak (halah). Rasanya, ilmu psikologi yang mamak pelajari selama 4.5 tahun sia-sia, karena anak sendiri pun gak bisa mamak kendalikan kelakuannya.  Jadi di rumah mamak, ada tetangga baru, rumah yang dulunya kosong, kini terisi kembali. Hati mamak gembira sekali, mana tetangga mamak ini bakul kue pulak. Ah, cocok kali rasa mamak kan. Tapiiiiiii.... si kakak, yang sangat antusias tetanggaan sama teman satu sekolah, euforianya keterlaluan. Buka mata pengen langsung main ke tetangga, dan jadi sering ngebentak-bentak kalo dibilang jangan pergi main. Yah, kan gimana ya, namanya juga orang, pengen tidur, istirahat, makan dan punya banyak waktu bersama keluarganya. Dan kalau si kakak main disitu berjam-jam, yang punya rumah pasti eneg, mau nyuruh pulang gak enak, mau dibiarin makin gak enak. Mamak udah ngasi ceramah sama si kakak, semua stok ceramah agama mamak udah mamak keluarkan. Tapi gak me...

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...