Langsung ke konten utama

JAJAN

Bagi anak-anak, jajan itu adalah kebutuhan pokok setelah sandang, pangan, papan. Bagi mamak juga. Kecuali si bapak. Di rumah mamak yang mungil, cuma si bapak yang gak hobi jajan. Yang lain jangan ditanya, kalo dapat, gak usah masak, jajan terusssss. Tapi gak mungkin lah ya gak pake masak, bisa boros hidup mamak. Anak bayi yang masih kecik nonet aja, kalo liat jajanan suka histeris dan sibuk kesana kemari ngejar jajanan. Haduh, keknya mamak yang salah asuhan ini.

Pas mamak masak sarapan enak (maksudnya enak bentuknya, belum tentu enak rasanya) pengen gitu mamak bawa bontot ke kantor, sarapan di kantor pake bekal sendiri. Tapi kembali ke judul, godaan jajan itu gak tertahankan bagi mamak. Soto medan, indomi goreng, bakwan, capucino, semua manggil-manggil. Akibatnya, baju kerja mamak mulai menunjukkan tanda-tanda penyusutan (menolak timbangan geser kanan, dan menolak makin gendut, salahkan baju yang menyusut). 

Berhubung bulan semakin tua, duit semakin menipis dan timbangan mamak makin naik, mamak berinisiatip lah bawa bekal hari ini, biar mamak gak bablas jajan, duit mamak pun gak habis, cukup untuk jajan sampai akhir bulan #eh. Tapi bawa bekal sebenarnya memang lebih baik, porsinya diatur, bisa bawa sedikit. Coba kalau jajan, beli lontong porsinya jumbo, gak dimakan mubazir, dimakan kekenyangan (pencitraan mamak). 

Dengan niat tulus, mamak ngebontot lah. Bawa nasi oyeng hand made ala mamak. Dasar mamak tukang jajan, sampai di koperasi, mamak belok kiri, hunting-hunting kue, mana tau ada yang sreg di hati. Tapi mamak menguatkan hati, sugesti positip diri sendiri, kalau nasi goreng aja cukup untuk sarapan. 

Kenyataan yang terjadi setengah jam kemudian, begini, 


Beli gorengan, terus ada yang ngasi red velvet, kerupuk. Entahlah entahlah. Lost control mamak kalo kek gini. 

Si kakak, anak gadis kesayangan mamak, tiap hari nitip jajanan. Mamak gak boleh marah, mak. Ingat-ingat, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Gimana mamak berharap yang muluk anak gadis gak suka jajan, kalo semangat jajan mamaknya makin hari makin membara. 

Komentar

  1. Abg aq juga tipe gak pejajan kk, tapi sekarang beliau jadi agak pejajan. Bakso tusuk, bakso, batagor, roti, cemilan2 gtu lah kk. Katanya ini gara2 aq dia jadi suka jajan.

    Tapi itu jajannya terstruktur kk, soalnya abg aq sarapan terus. hari ini aq bawa sarapan ifu mie kk..hmm..enaaakkk :D klo beli di luar 13.000/porsi. klo buat sendiri bisa untuk 5 hari sarapan pagi. :)

    BalasHapus
  2. Wah hebat mu masak ifumie kunil, kalo aku sebatas nasi oyeng tulah kemampuan aku. Iyaa, aku suka gt2, bakso bakar, bayagor, enyak nil. Makin babal.

    Aku bw sarapan pun jajan nil, jadi aku tetap gak bs hemat nil.

    BalasHapus
  3. Lah mba ini maunya judulnya jajan bagi mamak. Hehe..
    Salam kenal mba, oya mba medannya di mana?
    Saya di dr mansyur.

    BalasHapus
  4. Hihihi iya mba, mamak jaim mba, malu ketahuan suka jajan. Salam kenal kembali mba, terimakasi sudah mampir, saya di riau mba, bukan di medan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...

PASIEN EXIT

Bekerja di rumah sakit itu bagiku adalah anugrah. Disini aku belajar banyak bersyukur. Setiap melihat pasien sakit, korban kecelakaan dan kematian, aku berterimakasih pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk bernafas. Seringkali pasien sakit parah itu merintih-rintih. Entah berapa kali pula aku melihat peristiwa sakaratul maut. Terkadang aku berfikir, bagaimanakah peristiwa sakaratul mautku kelak? Apakah akan berteriak pilu seperti pasien kecelakaan yang aku lihat 2 bulan lalu, atau seperti pasien asma kemarin, yang melewati saat-saat terakhirnya dengan zikir. Mudah-mudahan aku pergi dalam keadaan baik.  Setahun belakangan ini, aku tidak lagi ditempatkan di ruang rawat. Tapi pindah ke bagian administrasi. Mungkin karena latar belakang ilmu komputer yang aku miliki, jadi walaupun pendidikanku perawat, tapi aku dianggap mampu untuk menghandle bagian administrasi. Sebenarnya aku kurang suka pekerjaanku yang baru ini. Mungkin karena belum terbiasa. Ditambah lagi, aku mengur...

NGERUMPI PULANG NGAJI

Ngobrol sama si kakak akhir-akhir ini seperti ngomong sama anak smp. Entahlah. mamak juga heran, kenapa anak sekarang cepat dewasanya. Padahal, sekolah masih teka, baca belum bisa, makan aja masih disuapin, eek masih dicebokin, tapi kalo pola pikir, kalah anak sd. Cita-cita aja gak ngerti artinya, malah bahas pacaran. Ampun sama si kakak. Kakak tiap maghrib sampai isya di mesjid, ngaji sama sholat berjamaah. Pulang ngaji, dia suka cerita sama mamak. Ceritanya macam-macam. Mulai dari yang penting, kaya.... Kakak : "bund, cita-cita itu apa?" Mamak : "apa yang ingin kakak lakukan ketika sudah besar." Kakak : "oh gitu." Mamak dah yakin, pasti si kakak bahas masalah jadi kasir. Cita-cita abadi kakak dari masih kecil adalah jadi kasir di serba 6000, dengan tujuan supaya bisa bebas ambil mainan. Kakak : "jadi, kalau kita ingin jadi kasir itu cita-cita." Mamak : "iya kak." Kakak : "oohhh, kakak pikir ci...