Langsung ke konten utama

WEEK END RASA WEEKDAYS


Saat ini mamak sedang rindu. Rindu masa lalu. Ketika hari minggu adalah benar-benar hari minggu. Bangun pagi, nonton doraemon, crayon sinchan, sailormoon, detective conan, ninja hattori, dan masih banyak lagi. Mamak rindu masa pulang sekolah, masuk kamar, baca novel, ngemil citato ato mi goreng mentah (pada tau kan? Mi goreng gak dimasak, tapi bumbunya di aduk. Syedappppp). Itu indah sekali. Masa-masa penuh harapan sebagai perawan. Masa-masa gak mikirin makan sekeluarga, handuk kotor, seprei kotor, minyak goreng habis, pempes habis, listrik belum bayar (curhat ini mak, kenapa semuanya kenyataan pada hidup mamak).

Tapi beneran, masa lalu itu enak ya. Masih tinggal sama wawa. Yang gak suka maksa. Mamak bebas. Mau dikamar seharian pun gak papa. Mau beli novel banyak-banyak boleh. Ishhhhh, mamak bisa minta tolong doraemon gak ini ngeluarin pintu kemana saja. Biar mamak bisa ngulang semuanya. Karena sungguh, mamak sangat perlu berhenti sejenak, dan ngelurusin pinggang. Mamak membabu dari hari sabtu, dan belum kelar juga (nangis darah).

Sebagai ibu setrong, mamak harus tetap melek ketika si bapak dan si kakak sudah tidur, kenapa? Karena anak bayi belum tidur. Dan ketika anak bayi sudah tidur, mamak masih tetap melek, kenapa? Karena si bapak pengen mamam mie (ini hampir pitnah, karena biasanya bapak masak mie sendiri, kecuali kalo gak mood), ato ngasi tau ada pilem hantu, atau kegiatan yang lain yang sulit dilakukan pada siang hari (seperti apa mak? Ya seperti itulah). Dan ketika hari minggu tiba, si bapak menghabiskan waktu ngurusin burung, si kakak ngabisin waktu menggambar dan main plastisin, mamak ngabisin waktu momong anak bayi, sambil masak, sambil nyuci, sambil nyapu, sambil ngepel. Ahhhh, mamak lelah. Mana me time? Manaaaa? (Ngomong sama cermin). Habis itu, ketika anak bayi bobo siang, mamak masih mikirin setrikaan. Walopun tulang rasanya rontok, tetap meneguhkan hati untuk nyetrika. Demi apa? Demi baju sekolah si kakak yang belum disetrika. Si bapak dan si kakak bobo siang juga. Mamak sirik liat mereka. Pengen ledakin petasan pas di kuping si bapak, supaya bapak bangun, dan gak bisa bobo lagi (ketawa setan). Tapi gak boleh, dosa. 

Jadi ya udahlah, detik-detik weekend berakhir, mamak jadi mamak multi tasking, nyetrika, nyuci, sambil momong anak bayi. Istirahatnya kapan mak? Apa itu istirahat? Gak kenal mamak kata-kata itu. 

Bagi mamak weekend atau weekdays sami mawon. Gak ada bedanya. Sama-sama capek, sama-sama banyak kerjaan, sama-sama sibuk, sama-sama gak pake istirahat, sama-sama dapat pahala (insya allah). Karena dunia ini memang tempat berlelah-lelah kan? Lelahnya mamak adalah lelah mengurus rumah, memastikan rumah bersih, pakaian bersih dan makanan yang enak tersedia untuk suami yang sehat dan anak-anak yang sehat, alhamdulillah. 

Karena anak-anak masih butuh banyak perhatian. Ketika nanti, anak-anak sudah besar, sibuk dengan dunianya sendiri, mamak malah rindu masa sekarang, masa dimana anak-anak sangat membutuhkan mamaknya, masa dimana rumah gak kenal kata bersih, masa dimana si kakak gak ngerti kalo plastisinnya bikin lantai rumah lengket dan mamak udah 5 x ngepel masih lengket juga. Nikmati saja capek ini, pahalanya gede loh Mak (suggest positip, menguatkan hati tetap nyetrika). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NGERUMPI PULANG NGAJI

Ngobrol sama si kakak akhir-akhir ini seperti ngomong sama anak smp. Entahlah. mamak juga heran, kenapa anak sekarang cepat dewasanya. Padahal, sekolah masih teka, baca belum bisa, makan aja masih disuapin, eek masih dicebokin, tapi kalo pola pikir, kalah anak sd. Cita-cita aja gak ngerti artinya, malah bahas pacaran. Ampun sama si kakak. Kakak tiap maghrib sampai isya di mesjid, ngaji sama sholat berjamaah. Pulang ngaji, dia suka cerita sama mamak. Ceritanya macam-macam. Mulai dari yang penting, kaya.... Kakak : "bund, cita-cita itu apa?" Mamak : "apa yang ingin kakak lakukan ketika sudah besar." Kakak : "oh gitu." Mamak dah yakin, pasti si kakak bahas masalah jadi kasir. Cita-cita abadi kakak dari masih kecil adalah jadi kasir di serba 6000, dengan tujuan supaya bisa bebas ambil mainan. Kakak : "jadi, kalau kita ingin jadi kasir itu cita-cita." Mamak : "iya kak." Kakak : "oohhh, kakak pikir ci...

MAMAK MAUNYA APA

Ini pertanyaan yang sedang mamak ajukan ke diri mamak sendiri, berkaitan dengan si kakak (halah). Rasanya, ilmu psikologi yang mamak pelajari selama 4.5 tahun sia-sia, karena anak sendiri pun gak bisa mamak kendalikan kelakuannya.  Jadi di rumah mamak, ada tetangga baru, rumah yang dulunya kosong, kini terisi kembali. Hati mamak gembira sekali, mana tetangga mamak ini bakul kue pulak. Ah, cocok kali rasa mamak kan. Tapiiiiiii.... si kakak, yang sangat antusias tetanggaan sama teman satu sekolah, euforianya keterlaluan. Buka mata pengen langsung main ke tetangga, dan jadi sering ngebentak-bentak kalo dibilang jangan pergi main. Yah, kan gimana ya, namanya juga orang, pengen tidur, istirahat, makan dan punya banyak waktu bersama keluarganya. Dan kalau si kakak main disitu berjam-jam, yang punya rumah pasti eneg, mau nyuruh pulang gak enak, mau dibiarin makin gak enak. Mamak udah ngasi ceramah sama si kakak, semua stok ceramah agama mamak udah mamak keluarkan. Tapi gak me...

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...