Langsung ke konten utama

PE LABEL AN

Bekerja di fasilitas kesehatan harus siap menerima pelabelan dari masyarakat, kalau kita adalah dokter atau perawat atau bidan, atau merangkap ketiganya. Gak sama semua orang kita bisa menjelaskan kalo kita itu bukan dokter, bukan bidan, bukan perawat, tapi tukang sapu, tukang fotokopi, tukang buat kopi, tukang ngeprint atau tukang catat status. Banyak bagian di fasilitas kesehatan sebenarnya, gak dokter perawat bidan aja. 

Mamak mengalaminya. Sama yang dekat, kaya tetangga atau teman, ya mereka ngerti mamak bukan tenaga kesehatan. Tapi kalo ibu guru sekolah anak bayi, itu sering konsultasi masalah kesehatan sama mamak. Padahal dah 1000 x mamak jelaskan, mamak bukan dokter, bukan perawat, bukan bidan.

Sering terjadi dialog absurd kek gini, 

Guru TPA : "buk, anak saya sakit, badannya merah, tapi gak demam, sakit apa ya bu?"

Mamak : (diam)

Guru TPA : "saya gak enak buk, mau bawa anak saya puskesmas, saya keseringan ke puskesmas."

Mamak : (mikir keras) bawa aja bu ke puskesmas, saya gak tahu bu. Saya bukan dokter."

Lain hari, 

Guru TPA : "buk, saya menggigil, beli obat apa ya bu?"

Ini mamak gak sanggup ngomong lagi, sebenarnya pengen jawab, 

"Saya tukang sapu bu, gak ngerti obat-obatan."

Tapi ya pastinya guru anak bayi gak percaya karena mamak bohong. 

Tadi pagi pas mamak antar anak bayi, mamak sempatkan ngobrol sama guru anak bayi, 

Mamak : "ibu Mawar gak datang bu? Biasanya selasa ibu mawar yang piket pagi."

Guru TPA : "iya bu, wasirnya kambuh. Kok bisa ya bu?"

Kok bisa? Mana mamak tau, tapi demi menjaga wibawa, mamak jawab, 

Mamak : "iya buk, itu gak boleh makan pedas, indomi sama cabe."

Guru TPA : "beliau gak pernah makan itu lagi bu."

Rasanya ilmu mamak habis sampai di sana. Lalu kenapa kambuh, kenapa? Ibu guru seperti menuntut jawaban.

Mamak : "keknya karena beliau sedang mencret bu, kalau mencret kambuh wasirnya." 

Entahlah, apakah jawaban ini benar atau tidak. Yang pasti ibu guru puas dan gak nanya lagi. 

Sulit memang menghilangkan label dari masyarakat. Semua yang melekat pada diri kita, ada label nya. Kerja di sekolah, semua orang menyangka guru, padahal bisa aja yang jaga kantin. Kerja di bagian keuangan, semua orang nyangka sarjana ekonomi. Begitulah masyarakat. Suka menebak-nebak dan menyimpulkan sendiri. 

Ya wajar lah, manusiawi. Mamak juga gitu. Setiap orang baju putih, mamak bilang perawat, padahal bidan bajunya juga putih, biarawati bajunya juga putih. Semua orang boleh punya kesimpulan masing-masing. Asal sesuai koridor, gak memvonis dan berburuk sangka. Dan asal tepat. Jangan sampai udah jelas kerja di puskesmas sebagai bidan, kita paksa ngaku perawat. Kaya foto di bawah ini,


Udah jelas ada tulisan motor dilarang parkir, masih maksain parkir di sana. Ini yang punya motor laki-laki keknya, soalnya suka maksa (tu kan, mamak jadi ikut melabelkan sesuatu secara paksa).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NGERUMPI PULANG NGAJI

Ngobrol sama si kakak akhir-akhir ini seperti ngomong sama anak smp. Entahlah. mamak juga heran, kenapa anak sekarang cepat dewasanya. Padahal, sekolah masih teka, baca belum bisa, makan aja masih disuapin, eek masih dicebokin, tapi kalo pola pikir, kalah anak sd. Cita-cita aja gak ngerti artinya, malah bahas pacaran. Ampun sama si kakak. Kakak tiap maghrib sampai isya di mesjid, ngaji sama sholat berjamaah. Pulang ngaji, dia suka cerita sama mamak. Ceritanya macam-macam. Mulai dari yang penting, kaya.... Kakak : "bund, cita-cita itu apa?" Mamak : "apa yang ingin kakak lakukan ketika sudah besar." Kakak : "oh gitu." Mamak dah yakin, pasti si kakak bahas masalah jadi kasir. Cita-cita abadi kakak dari masih kecil adalah jadi kasir di serba 6000, dengan tujuan supaya bisa bebas ambil mainan. Kakak : "jadi, kalau kita ingin jadi kasir itu cita-cita." Mamak : "iya kak." Kakak : "oohhh, kakak pikir ci...

MAMAK MAUNYA APA

Ini pertanyaan yang sedang mamak ajukan ke diri mamak sendiri, berkaitan dengan si kakak (halah). Rasanya, ilmu psikologi yang mamak pelajari selama 4.5 tahun sia-sia, karena anak sendiri pun gak bisa mamak kendalikan kelakuannya.  Jadi di rumah mamak, ada tetangga baru, rumah yang dulunya kosong, kini terisi kembali. Hati mamak gembira sekali, mana tetangga mamak ini bakul kue pulak. Ah, cocok kali rasa mamak kan. Tapiiiiiii.... si kakak, yang sangat antusias tetanggaan sama teman satu sekolah, euforianya keterlaluan. Buka mata pengen langsung main ke tetangga, dan jadi sering ngebentak-bentak kalo dibilang jangan pergi main. Yah, kan gimana ya, namanya juga orang, pengen tidur, istirahat, makan dan punya banyak waktu bersama keluarganya. Dan kalau si kakak main disitu berjam-jam, yang punya rumah pasti eneg, mau nyuruh pulang gak enak, mau dibiarin makin gak enak. Mamak udah ngasi ceramah sama si kakak, semua stok ceramah agama mamak udah mamak keluarkan. Tapi gak me...

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...