Langsung ke konten utama

BELAJAR MEMBACA

Si kakak adalah anak kekinian yang hobby nya main henpon dan nonton tipi. Minat belajar rendah dan tanggung jawab kurang. Padahal umurnya dah 6 tahun. Tapi ilmu-ilmu kehidupannya masih kaya anak 3 tahun. Bentar lagi si kakak masuk esde. Masuk esde jaman now itu, entah kenapa anak-anaknya harus bisa membaca dan menulis. Keknya jaman mamak dulu, pas kelas 1 sd lah baru belajar hal-hal dasar, membaca, menulis dan berhitung. 


Sedikit banyak, mamak merasa agak tertekan juga, walaupun sebenarnya mamak gak pengen maksain si kakak belajar membaca, tapi mamak pengen minimal si kakak bisa menulis nama lengkapnya sendiri.

Agak maksa ketika mamak cabut colokan tipi, dan nyuruh kakak ngambil buku sama spidol. Fyi, si kakak lebih suka nulis pake spidol daripada pensil. Buku yang dipake juga bukan buku, tapi sampul buku. Karena isinya udah sobek buat main. Mamak mikir, ya udahlah, yang penting bisa nulis. 

Mamak : "Tulis nama kakak."

Kakak : "Huruf apa duluan bund?"

Mamak : "Nama kakak nayla. Coba kakak sebut, NAYLA, huruf apa duluan."

Kakak : "NAYLA NAYLA NAYLA NAYLA NAYLA. Kakak bingung bund."

Mamaknya setep. İtulah si kakak. Dia gak tau huruf apa aja yang dipakai untuk menulis namanya. Mamak ngomel-ngomel gak jelas, panjang dan lama. Si kakak seperti biasa, nunduk dan pura-pura nurut. Sok-sok paham gitu kalo dinasehatin.

Mamak : "Jadi gini kak, coba kakak tulis SA."

Kakak : "Sa itu huruf ngaji bund, huruf hijaiyah. Temannya ba, ta, sa."

Masya Allah. Mamak harus gimana lagi mgomongnya sama si kakak. 

Mamak : "Kakak kan bisa nulis PAPA. Pe a pa, pe a pa. Papa. Nah, coba kakak tulis SASA. Papa sama sasa kan sama tu, satu pola kak."

Kakak : "Sasa. Es sama es bund."

Mamak : "Bukan kak. Coba kakak bilang. S A S A. Sasa. Apa aja coba hurufnya."

Disinilah anehnya si kakak. Dia udah bisa nulis dan baca kata yang berulang. Kaya papa, mama, wawa, pipi, lala, kaka, dada, dll. Tapi pas mamak suruh nulis sasa, kaya ngenyek gitu, sengaja bikin esmosi. 

Kakak : "Sasa sasa sasa. Es samaaaaa,, ayo mikir mikir mikir." Dengan gaya mukul-mukul kepala. Emang korban sinetron anak ini. 

Mamak : "Es sama apa?"

Kakak : "Es sama de bund."

Mamak : "Jadi menurut kakak, sasa itu hurufnya es sama de. Kalo es sama de dibacanya apa kak?"

Kakak : "es de bund."

Tukan ngenyek banget si kakak. Dia tau tapi gitulah. Emang gak ada pengen-pengennya dia belajar. Tapi yah, namanya mamaknya, dengar anak ngomong kek gitu, mamak spontan senyum. Lucu aja rasanya. Pas mamak senyum, si kakak ngomong dengan sotoy nya,

"Nah, gitulah bund. Ngajarin anak harus sabar, baik-baik. Kan enak. Jangan marah-marah bund."

Masya Allah si kakak. Pengen mamak lem mulutnya pake lakban. 

Komentar

  1. Anaknya persis mamaknyaaaa..hahahhahaa
    Lucu kali nayla ne. :D Tagalak2 aq di hari senin awal tahun 2018 ne bund.

    BalasHapus
    Balasan
    1. İhhh enak aja, anaknya nyebelin kek bapaknha, bukan kek mamaknya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PASIEN EXIT

Bekerja di rumah sakit itu bagiku adalah anugrah. Disini aku belajar banyak bersyukur. Setiap melihat pasien sakit, korban kecelakaan dan kematian, aku berterimakasih pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk bernafas. Seringkali pasien sakit parah itu merintih-rintih. Entah berapa kali pula aku melihat peristiwa sakaratul maut. Terkadang aku berfikir, bagaimanakah peristiwa sakaratul mautku kelak? Apakah akan berteriak pilu seperti pasien kecelakaan yang aku lihat 2 bulan lalu, atau seperti pasien asma kemarin, yang melewati saat-saat terakhirnya dengan zikir. Mudah-mudahan aku pergi dalam keadaan baik.  Setahun belakangan ini, aku tidak lagi ditempatkan di ruang rawat. Tapi pindah ke bagian administrasi. Mungkin karena latar belakang ilmu komputer yang aku miliki, jadi walaupun pendidikanku perawat, tapi aku dianggap mampu untuk menghandle bagian administrasi. Sebenarnya aku kurang suka pekerjaanku yang baru ini. Mungkin karena belum terbiasa. Ditambah lagi, aku mengur...

TUPPERWARE

Sumini ikut mengerumuni mba Lis, pedagang tupperware di TK Sekar, anaknya. Sejak ada mba Lis, wali murid di TK Sekar seakan berlomba, mengoleksi tupperware. Jangan sampai, koleksi tupperwareku kalah sama yang lain, batin Sumini.  "Ayo mba Sumini, ini bagus loh. Senwid kiper, ada botol minumnya sekalian, gambar kuda poni warna ping," mba Lis mulai promosi. Kebetulan cicilan tupperware Sumini memang sudah lunas. Jadi, apa salahnya ambil baru? "Apa mba Lis? Senwid kiper? Apa sih itu?" Tanya Sumini.  "Tempat bekal khusus buat senwid mba Sum," Sumini mengucapkan o panjang, padahal dalam hati dia bingung, senwid itu apa. İbu-ibu lain mulai menjatuhkan pilihan tupperware yang mereka inginkan. Sumini panas, dia juga harus beli, jangan kalah dengan yang lain. "Aku pesan senwid kipernya mba Lis. Sepuluh kali bayar ya," kata Sumini. Mba Lis mencatat pesanan Sumini, dan mengambilkan barangnya di mobil.  "Kalau sepuluh kali bayar, ga...

SEMUA WANITA PENGEN CANTIK

Itu udah kodrat banget kayaknya... Semua wanita ngerasa ada aja yang kurang sama fisiknya. Yang gendut pengen langsing, yang kurus pengen agak berisi, yang hidungnya pesek pengen mancung. Bahkan seseorang yang udah semurna di mata orang lain aja masih juga ngerasa ada yang kurang. Siapa juga yang gak pengen secantik barbie... waktu kecil aku punya banyak boneka barbie. Sebagai anak perempuan yang lugu dan suka berkhayal, kalo udah dewasa aku pengen secantik barbie. Tinggi, langsing dengan rambut panjang dan ikal. Setelah dewasa aku tumbuh menjadi wanita yang pendek, gendut dengan rambut ikal nyaris keriting yang susah banget panjangnya.... Kenapa ya cewek2 cendrung kepengan lebih cantik, kalo cowok kayanya jarang ngerasa ada kekurangan di fisiknya. Kemaren, waktu ke Dumai dan jumpa dengan teman cowok yang baru nikah. aku nanya ma dia, ini dialog yang terjadi : "Gimana rasanya nikah bang?" terus si abang menjawab, "Enak, makanya jangan kelamaan pacaran..." ...