DUMAI EXPO (R)


Hahoy.... Untuk pertama kalinya seumur hidup ngeliat Dumai Expo. Kalo di Pekanbaru, segala EXPO aku gak pernah ada minat buat ngeliat. Tapi disini, acara seperti itu merupakan satu-satunya ajang untuk melepaskan diri dari gejala-gejala Austism. Lama-lama tinggal sendiri, aku gak bakalan ngerti lagi gimana caranya berkomunikasi dengan orang lain, lupa cara ngomong, lupa cara senyum. Dan akhirnya menjadi psikopat. TIDAAAKKKKKK....... Karena gak mau hal itu terjadi, aku memutuskan untuk ikut Rika, hari Kamis sore ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Dumai, di sana Dumai Expo diadakan. Dengan semangat, aku, Rika dan Tiwi, adik sepupu Rika meluncur menuju ke TPI.

Udah kebayang yang muluk-muluk aja sepanjang jalan. Acara keren dengan banyak stand makanan, minuman, souvenir, jilbab, bros lucu-lucu dan macam-macam. Sampe sana, hati langsung dihantam rasa kecewa. Ternyata biasa aja. Cuma ada stand-stand perusahaan, dinas pemerintahan, sekolah, jualan buku. Terus di luar ruangan ada permainan anak-anak, jadi kaya pasar malam. Emang, di luar pameran banyak warung tenda, tapi yang dijual standar aja, juice, teh es, indomie, dll. Biasanya kan kalo pameran ada banyak makanan khas daerah, yang aku temui cuma keripik cabe IKA yang udah biasa aku beli kalo ada request dari Pekanbaru.

Ini  stand-stand Dumai Expo yang sempat aku foto

Stand PT. Pelindo Dumai



Stand Pemerintahan Negeri Melaka
 
 
 
Stand Kemitraan Usaha Kecil Dan Koperasi



Stand Pertamina



Stand Dewan Kesenian Dumai
 
 
 
Itu cuma sebagian kecil dari stand-stand yang ada. Aku gak pernah ngeliat gimana Dumai Expo yang sebelumnya, tapi kalo penilaian aku pribadi, Dumai Expo kali ini, kurang menarik. Mungkin ramenya karena di Dumai emang minim tempat hiburan, makanya orang berbondong-bondong ke sana. Standnya juga gak penuh. Di lantai 2 pameran, kosong banget. Paling kurang dari sepuluh stand yang ada.

Jadi, setelah merasa sia-sia mengelilingi pameran, mata kami terpaku ngeliat laut. Di belakang TPI  ternyata ada laut lepas, cantik banget. Dengan binal, kami berambisi ke sana, gak perduli langit udah gelap. Melalui jalan yang penuh aral melintang, melewati tebing curam dan jembatan kayu yang mau roboh, kami sampai dengan selamat. Emang cantik, dibandingkan dengan laut yang dekat rumahku, kalah jauh....






Itu foto narsis di pinggir laut, sekaligus awal kejadian naas untuk Rika. Setelah melihat Dumai Expo, Rika langsung melakukan Expo (R) hape secara tidak langsung kepada orang lain, melalui perantara tempat duduk batu di pinggir laut Dumai. Gak ngerti juga kejadian persisnya gimana, yang jelas, setelah hari makin gelap kami pulang, menempuh jalan hidup masing-masing. Pas baru nyampe rumah, Rika nelpon aku, nanyain, hape nya ada kebawa gak. Aku bingung, jangankan terbawa, megang aja nggak. Kesimpulannya, hape Rika ketinggalan di batu tempat kami duduk itu. Langsung Rika sama Bang Anto balik lagi ke sana, Alhamdulillah, hapenya udah raib. Malang tak dapat diraih, untuk tak dapat ditolah, sisiak bana nan tak elok, Tek Rika...

Ini wajah Rika yang tampak bahagia melihat Dumai Expo sebelum melakukan Expo (R) hape



Setelah kejadian itu, jangan ditanya gimana keadaan Rika sekarang. Dia langsung tergeletak lemah tak berdaya di tempat tidur selama 1 x 24 jam, berat badannya turun drastis, rambut rontok, gak mau mandi, gak mau makan nasi, nangis darah sampai mata bengkak, gak mau keluar rumah, trauma lihat laut. Banyak gejala-gejala abnormal yang dialaminya. Maaf Tek, saya tak bisa bantu apa-apa, hanya bisa bantu.... bantu.... bantu apa ya, emang gak ada yang bisa saya bantu... Maaf ya.... Mudah-mudahan Tuhan memberimu hape yang lebih baik dan tidak sombong.... Amiinnnn.....

WE ARE SURVIVE WITHOUT LIGHT






Hidup itu berat, yang meringankannya hanyalah saat kita ikhlas menerima segala kenyataan yang ada di depan mata. Kami disini tetap  Bahagia, tersenyum dan tertawa, meskipun kami menyadari, hanya "matahari" yang menjadi akan "sinar" bagi kami, baik siang maupun "malam"



Mr. Havis in Otomotif Workshop 


Durian party Mr. Hutabarat


Mr. X menyediakan jasa potong rumput GRATIS


DON'T TOUCH HIS CHEST!!!


New Comer on 3G team....... Say Peace Miss.......


PS, WTS, AS  


 Backstage Crew  


We are "light" in The Dark















SOMETHING BOTHERING AND WORRYING YOU????




 DOES STUDYING EXHAUST YOU? 
 IT DOESN'T EXHAUST THEM

VILLA ANGGREK YANG SEDERHANA








Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.....

Hehehee.... Merasa sangat sempurna setelah bisa onlen lagi menggunakan laptop ini, walopun cuma onlen pake Telkom Fleksi bukan Telepon biasa, dengan speed 0 bps sampe 4 kbps, nunggu konek bisa sambil mengggoreng pisang setandan, tak masalah. Yang penting sabar dan ikhlas.

Okehhh... Dua bulan menjadi warga Dumai adalah waktu yang terlalu singkat untuk mengenal Dumai secara dalam. Apalagi aku, yang nyaris sebatang kara di sini. Gak banyak yang bisa aku promosikan tentang Dumai selain akan ada PILKADA bulan Juni nanti. Lagi gencar-gencarnya kampanye. Hebat, tiap ada yang meninggal, kawinan, ato hanya arisan keluarga, bakalan ada karangan bunga sebesar gaban yang datang dari salah satu pasangan calon. Kelihatan banget lagi kampanye. Ntar pengen liat, kalo udah terpilih, masih seeksis itu gak mereka...... 

Baiklah, dimulai dari yang paling sederhana. Rumah kami di Dumai, yang terletak di jalan Anggrek. Gak tau ya, kata Rika, Villa Anggrek. Mungkin karena posisi rumahnya agak tinggi dari yang lain. Asal tau aja, Dumai ini sering banjir. Air pasang, banjir, hujan deras, banjir. Makanya kami sangat bersukur karena rumah ini bebas dari segala bentuk banjir, mudah-mudahan untuk seterusnya. Rumah kami sederhana, kecil, tapi tinggal di sini membuat kami nyaman. Kelihatan bersih karena rumah ini baru selesai dibangun. Kami lah yang dengan sukses memerawaninya. Rumah itu kami dapatkan dengan susah payah, setelah selama 2 minggu menempuh hujan panas, mengelilingi kota Dumai, menjajah motor Rika, menghabiskan stok makanan di rumah Rika, akhirnya rumah itu kami temukan #terharu. Padahal, itu rumah yang pertama kali liat, dapat referensi dari teman ibu, kebetulan masih ada yang kosong satu. Tapi dengan sombongnya kami berusaha mencari rumah lain, bak kata lagu Katon, tak bisa ke lain hati, ke rumah itu juga kami akhirnya pergi. Iseng aja nelpon tante yang punya rumah, karena udah putus asa mencari, ternyata masih ada yang kosong. Kalo jodoh emang gak kemana...... Dengan bahagia, aku dan homemaidku, Kak Rina, mengemasi seluruh barang-barang dari Pekanbaru untuk memperindah rumah mungil itu, walopun akhirnya semua sia-sia, rumah nya ya tetap gitu-gitu aja. Thanks so much untuk Rika dan pria dengan "Grandmax" nya, mereka itu yang mengangkut barang-barang yang kami bawa. Mulai dari kasur sampe motor. Berlebihan banget pokoknya waktu itu. Thanks juga untuk papa Rika yang mengikhlaskan embernya kami curi sebiji, dan mama Rika yang (terpaksa) merelakan mangkok-mangkok, gelas-gelas, toples-toples, gorden nya kami bawa ke rumah kami. Maaf Ma, kami melakukan itu tanpa sepengetahuan Mama....... Walopun awalnya malu-malu sama keluarga Rika, sekarang ini, kalo ke rumahnya, langsung mencari apa yang kira-kira bisa dibawa pulang. Biasanya dengan penuh inisiatif membungkus ayam, kue, kerupuk atau apapun yang bisa digunakan. Lumayan, menghemat pengeluaran......

Home Sweet Home....







Itu gambar rumah tampak depan. Emang gitu rumahnya, panjang ke belakang dan gak ada halaman.





















Dalamnya gini. Cuma ada ruang depan, dua kamar terus dapur. Yaahhhhh, kalo buat main petak umpet, tempat sembunyi paling aman cuma masuk ke dalam sumur atau bunker. 

Sebenarnya sih, dalam hati yang terdalam pengen punya rumah yang lengkap gitu. Sekalian ada bar nya, terus minuman sebangsa wine, cognag, liqeur, brandy, vodca, whiskey, tequila, lengkap dengan gelas dan garnishnya. Pasti keren, rumah kecil tapi bar nya lengkap. Apalah daya, gunung mau dipeluk, tangan tak sampai, bukannya bar tapi hanya ini, 



Sebuah dapur dengan tungku minimalis, dan penuh dengan stok indomie, kerupuk, bawang, beras, kecap, cuka, dll. Jauh dari khayalan bar lengkap itu temans, jauuuhhhh.... Yang hijau di sebelahnya itu, bunker buat nampung air. Kan air beli di sini, jadi itu penampungannya. Besar juga, muat sampe 5000 liter air. Kalo hujan, ditampung juga, pake selang yang orange itu, di atap dipasang corongnya. Seandainya nanti kami terkena penyakit DBD, Malaria atau chikungunya, salahkanlah bunker itu. Karena di situlah pusat pengembang biakan nyamuk.Jadi kalo hujan bukannya makin enak tidur, tapi makin stres karena takut kebanjiran. Udah pernah kejadian sekali, airnya melimpah, sukses banjir. Kamarku tenggelam, kasurku hanyut terbawa arus. Pengalaman pahit yang menimbulkan trauma berat sampe sekarang. Untung aja kejadiannya tengah malam, kalo nggak, kan udah bisa buka kolam renang untuk umum, lumayan juga untuk tambahan.


Ini bagian belakangnya. Tempat nyuci, jemur kain, nyuci piring, dll. Itu sumur yang airnya gak layak buat dikonsumsi. Makanya kami tutup aja pake kawat nyamuk supaya gak makin meraja lela nyamuk-nyamuk nakal itu....

Jadi, emang cuma segitu aja rumahnya. Gak besar kan? Jadi kalo ada gosip simpang siur yang berlebih-lebihan bilang rumah kami tingkat tiga, itu salah besar. Kenyataannya hanya sebesar daun kok. 

INTERMEZO.....

Dumai ini kota mahal. Biaya hidup tinggi. Sebagai wanita yang cerdas, aku punya siasat untuk menghemat pengeluaran..... Pertama, datanglah ke rumah orang saat jam makan, tapi jangan terus-terusan, atur waktu supaya gak terendus oleh orang yang bersangkutan maksud sebenarnya. Kedua, stok lah indomie sebanyak-banyaknya, jadi saat kepepet dan gak ada lagi yang membantu, peluklah indomie itu dengan erat, lalu bakar dia dalam air mendidih. Ketiga, usahakan cari teman serumah yang cocok, aku cocok dengan Kak Rina yang vegetarian sejati, kalo beli miso cukup satu aja, bawa pulang kerumah lalu diolah kembali dengan smart, Kak Rina makan mie nya aja, aku makan mie campur ayam. Dan yang Keempat, hadirilah setiap undangan yang datang ke kantor. Ini baru tadi aku praktekkan, yang ngundang gak jelas siapa, tapi jam setengah 12 udah ready mau pergi makan siang ke sana.... Hakhakhakak..... Niat banget. Abis makan langsung pulang, gak ada salaman sama pengantinnya yang belum siap tempur.....


KESALAHAN FATAL (LAGI!!!!)





Kesendirian itu menyedihkan, menyesatkan dan kadang meninggalkan bekas yang berakibat fatal. Begitu juga kesendirian yang aku alami selama 4 hari kemarin. Homemaid ku, Kak Rina tidur sama keluarganya di hotel, sebenarnya aku cukup bahagia, karena tiap pagi aku datang mengunjungi mereka  dengan rasa lapar, dan ikut sarapan sempurna di sana. Tapi, di hari kedua home alone, aku bangun terlalu pagi. Selesai beresin rumah, tetap aja masih pagi, gak mungkin jam 6 pagi aku muncul ke sana, sangat memalukan kalo itu terjadi. Maka aku pun duduk di dekat parit belakang rumah. Kesendirian memunculkan banyak ide di kepalaku untuk melakukan sesuatu.

Ritual Pertama : Menggunting kuku tangan.

Ritual Kedua : Memandang kuku kaki, dan memutuskan belum layak untuk di eksekusi.

Rituan Ketiga : Masuk kamar dan menyisir rambut, mengamati poni yang udah terlalu panjang.

Ritual selanjutnya, dengan penuh birahi, mengambil gunting, kaca hadiah kawinan dan kembali duduk di dekat parit belakang rumah. Berusaha menyamakan posisi poni bagian kanan dan kiri, lalu tanpa mengucapkan Bismillah, poni itu di sunat dengan hinanya. Cukup sekali aja, dan aku sadar aku telah melakukan kesalahan fatal. Terlalu Pendek, Sodara-sodara. Kesendirian dan kehampaan yang aku rasakan, berakibat terlalu jauh. Aku merendahkan martabat poni ku sendiri.

Tiba-tiba ingatanku kembali ke masa lalu, saat aku masih bersama ibuku tercinta. Kami ke salon dan aku bilang aku mau potong poni seperti Dora The Explorer, ibu berkata dengan wajah iba, "Jangan Nak, wajahmu terlihat tambah lebar jika hal itu benar-benar kau lakukan." Apa kata ibu jika melihat poni tak rata hasil karya anaknya ini? Dan memory ku melayang lagi pada Untochable Man, si Kabogoh yang bodoh itu. Aku pernah bertanya dengan manja,

Aku : "Yank, aku mau potong poni ya....."

Untouchable Man : "Udah, gak usah macam-macam. Rambut cuma tiga helai itu aja mau dimacem-macemin."

Aku : "Tapi kan lucu."

Untouchable Man : "Udah gak usah. Ntar mirip JAMAIKO!!!"

Jangan heran, Untouchable Man itu cukup bodoh untuk mengerti bahwa ADIK nya GIANT itu JAIKO bukan JAMAIKO. Pasti hanya penghinaan yang akan aku dapatkan seandainya dia melihat poniku ini.... Kependekan dan bentuknya seperti jalanan arah ke kantor, gak rata.....




Begitulah hasil poni yang difoto secara close up. Moga-moga, poni itu cepat panjang sehingga jejak-jejak ketidak merataan nya bisa terhapus dan luput dari mata ibu dan untochable man..... ...

Waktu Kak Rina back to home. Aku sengaja mau buat surprise tentang poni ini. Jadi, sore-sore dia lagi jongkok-jongkok bersihin parit belakang, aku menyisir poni ku dengan cute. Terus aku tanya, "Kak, cute gak?" Wanita berdarah dingin itu, melirik ku sekejap dengan sinis, lalu berkata datar, "Cute." dan dia membersihkan parit lagi. Mungkin aku akan tetap merasa cute kalau tadi sore dia gak meralat ucapannya. Ternyata hanya di mulut saja kata "Cute" itu di lafazkannya, di hatinya kata "CULUN". Dia gak sanggup hidup dalam kebohongan seumur hidup.......
Apapun kata mereka, aku tetap merasa, poni itu cukup imut kok #walopunberderaiairmata.

PERSAHABATAN ITU SEDERHANA

Sahabatku bilang,

Persahabatan itu sederhana. 
Mungkin sesederhana embun yang menetesi daun di pagi hari, atau sesederhana bunga yang merelakan madunya dihisap oleh lebah kapan saja.

Persahabatan itu sederhana. Hanya masalah kejujuran. Saat ingin marah, saat ingin menangis, saat ingin berbagi duka, bahkan saat berkhianat pun, jujur saja pada sahabatmu. Biarkan dia memilih, persahabatan atau pengkhianatan itu yang akan disimpan dalam Long Term memory nya.

Sesederhana sebuah maaf. Ketika hati tersakiti, untuk apa diperpanjang masalah yang ada. Obati saja dengan mengingat tahun yang telah dilewati bersama. Seperti penghapus yang menghapus kesalahan pensil. Begitulah seharusnya persahabatan itu. Saling menutupi kekurangan, menghapus kesalahan. Meniadakan khilaf yang kecil. 

Aku, dan sahabatku. Bukan orang yang sama. Tapi kami tahu, hati kami bertaut dalam satu wadah persahabatan yang tulus. Tak banyak waktu yang kami lewati bersama. Namun saat gundah, gelisah, sedih,  marah atau bahagia, kami tahu kami ada untuk satu dan yang lainnya. Kami pun tahu, saat kami saling menyakiti, bukan permusuhan yang akan menyelesaikan semuanya, tapi kesabaran dan kesadaran bahwa kami sedang berada dalam "masa-masa gelap". Belum bisa untuk saling menerangi. 

Aku bukan siapa-siapa. Sahabatku pun hanya orang biasa. Kami hanya orang-orang yang sangat biasa. Yang saling menopang untuk tetap bisa berjalan, yang saling merangkul saat menemukan kesulitan, yang saling memaafkan saat ada kekhilafan. Hanya begitu saja kami. Mungkin orang tak mengenal kami, tak menyadari akan kehadiran kami. Siapa yang perduli. Saat kami tahu kemana kami harus berlari saat kesendirian tak lagi mampu menyelesaikan masalah yang ada, semua pendapat orang lain tak lagi berarti.

Aku dan sahabatku hanya manusia yang sederhana. Justru karena itulah, persahabatan yang terjalin pun persahabatan yang sederhana. Saat jarak dan waktu bukan masalah untuk saling menyanyangi, saat luka yang ada tak menjadi alasan untuk saling benci, saat memaafkan merupakan solusi untuk semua masalah yang ada, saat kejujuran menjadi tiang kokohnya hubungan, saat setiap kesalahan yang terjadi bisa ditoleransi dalam bentuk dukungan sepenuh hati. 


Dan sekarang, aku sangat berterimakasih pada Tuhan, yang telah mengirimkan sahabat-sahabat terbaik dalam hidupku, yang mengerti akan semua kekuranganku, yang bisa menyimpan semua rahasiaku, dan mempercayakan rahasianya padaku.  Terimakasih karena kalian tak pernah "meremove" ku dari kehidupan kalian bahkan ketika aku melakukan kesalahan.

DISKUSI SERU

Cuma lewat fb, diskusi ma orang yang dulu2 malah gak pernah ngomong kalo ketemu. Tapi sumpah, seru banget. Dengan kesimpulan2 nya yang keren, gak bisa diduga,ilmiah dan penuturan yang rapi, aku jadi ngerasa mentah, patah dan dangkal... AAAAHHHH.... SUNGGUH PENGEN NGELANJUTIN STUDY.... PENGEN PENGEN PENGEN... Mudah2an ada jalannya... Amiiin...

Makasi ya Alit As Sofie atas pencerahan2 nya mengenai hirarki Maslow. Terimakasih untuk kesimpulan yang sangat mudah aku mengerti..... Jadi, hirarki kebutuhan itu bukan seperti tumbuh kembangnya seorang manusia yang melalui tahap demi tahap, tapi lebih kepada kecendrungan perilakunya saat mencapai aktualisasi diri. Bahkan saat seseorang lapar (kebutuhan biologis, Maslow), tapi gak mencuri karena dia tahu mencuri itu salah(superego, Freud), dia merasa gak bermakna kalau dia mencuri untuk makan (meaning life, freankle), itu aja udah sampai pada tahap aktualisasi. Uuuugggghhh, keren keren keren... Mungkin biasa aja ya,tapi jujur, selama ini teori maslow itu emang ngambang buatku. Apalagi pendapat dosen2 gak sama,tapi waktu share sama dia, aku ngerti, aku paham dan aku setuju dengan pendapatnya. Gak kaku, gak sok2 ilmiah dan mudah dicerna.... Huhuy... Once again tengkyu somach....

SEBUAH TANGGUNG JAWAB

Back to Real Life... Menjadi gembel di Dumai... Hehehe

Ternyata kondisi kantor tak seindah biasa, sepi lagi sepi lagi... Ughh...

Akhirnya,aku sampai pada tahap 'tenaaang' setelah lama gelisah karena pindah ke Dumai. Sekarang aku lagi sendiri di rumah. Homemaid ku, kak Rina, lagi sakit. Matanya bengkak gitu,heran juga, hamil bisa di mata ya.... Cepat sembuh sista... Wajar kalo kau sakit kakak, kacang sebungkus besar itu kau makan sendiri... Ingat umur,udah banyak penyakit... Hehehehe...

Ehm... Sebenar benar nya,aku ngerasa gak adil. Okeh, kami 10 orang dengan jabatan dan status yang sama, penempatan sama, knapa cuma 7 orang yang bener2 stay di sini?? MANA YANG LAIN?? Batang hidungnya gak ada muncul. Tapi sudahlah. Toh bukan aku yang bayar gaji mereka, bukan aku yang kasih makan mereka. Aku ngerti kok, ngerti banget dengan kondisi mereka. Si A, B dan si C gak mau pindah karena alasan keluarga. Emang aku gak punya keluarga?? Itu kan pilihan kita. Harusnya kan mundur aja sekalian, daripada makan gaji buta. Mungkin mereka beralasan, di kantor kan belum ada kegiatan bla bla bla... Yah...emang gitu,tapi apa kalian gak punya sebuah rasa yang bernama TANGGUNG JAWAB?? Ada atau gak ada kegiatan, kita tetap di gaji... Artinya kita harus ada di tempat kerja kita, di Dumai... Sekarang atau nanti sama aja. Mengertilah akan kesulitan orang lain. Jangan karena alasan:

"Mau makan apa kita di sana gak ada pelatihan?"

hey, aku selama ini makan layak kok. Apa bedanya kamu sama aku? Justru karena keberadaanmu yang entah dimana tapi tetap menerima gaji yang sama dengan kami di sini, makanan yang kamu makan 'MUNGKIN' menjadi tidak layak bagimu, karena kamu gak berhak mendapatkannya. Kalo saja mereka tahu, salah seorang security di kantor hanya bisa makan ubi karena udah gak ada uang buat beli beras, pasti mereka bersukur karena mereka mendapatkan gaji yang lebih dari cukup.

Atau beralasan:

"Anak aku masih sekolah jadi belum bisa pindah"

kalo aku jadi bos, aku bakalan bilang : "ya gak papa,tapi kamu gak gajian sampai anak kamu tamat sekolah"

Hmmmm, mungkin TK jaman sekarang canggih ya. Kalo pindah, bakal batal sks yang udah diambil... Hallllooo... DUMAI ini bukan daerah terpencil yang gak ada sekolah. Semuanya ada di sini, TK, SD, SMP, SMA sampe perguruan tinggi ada. Listrik ada, air ada, apa lagi yang kurang??? Kalo gak memulai sekarang, besok2 akan lebih sulit.

Ya sudahlah, orang hidup kan punya cara masing2. Aku memilih cara ini, pindah total walopun aku takut awalnya. ALHAMDULILLAH sekarang aku tenang. Belum tentu aku sebahagia sekarang kalau aku tidak berada di sini...

Banyak hikmah yang aku ambil dengan berani memutuskan pindah. Salah satunya mengajarkan aku untuk selalu bersukur atas segala rezeki yang Allah kasih ke aku. Aku masih ada uang untuk beli beras saat beberapa langkah dari tempatku berdiri, ada yang gak mampu beli beras, dan terpaksa puas dengan makan ubi... Aku masih ada uang untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak saat yang lain harus ikhlas tinggal di kantor, gak ada listrik dan terpaksa tidur rame2 di selasar... Aku juga menggali hal positif dari dalam diriku, ternyata aku punya rasa TANGGUNG JAWAB. Walopun gak terlalu besar,tapi aku merasa dengan pindah ke sini aja udah menunjukkan suatu bentuk tanggung jawab terhadap rezeki pekerjaan yang dikasih Allah. Mudah2an, langkah kecil yang aku ambil sekarang, akan 'membesarkanku' di masa yang akan datang... Thanks so much Allah for all my life...