Jumat, 29 Januari 2010

FOR MY EVER AFTER GIRL





Menikah......

Bagi wanita middle age mungkin merupakan suatu dambaan, harapan dan angan2.... Begitu juga aku. Sekarang aku lagi pengen nabung, buat pernikahanku kelak. Aku udah mikirin pestanya kaya apa, konsepnya gimana, bahkan aku udah booking "MAN BEHIND THE GUN" untuk foto prewed :)    Walopun rencana untuk menikah belum ada di benakku sekarang, bahkan untuk setahun kedepan.

Dua tahun yang lalu, kehidupan setelah pernikahan masih merupakan hal yang ghaib bagiku. Gak terbayang gimana, senang atau susah, enak atau nggak. Masih out of mind.... Hehehehee....

But now, when my friend go away one by one (Okeh, aku mengakui bahasa inggrisku ngaco dengan skor toefl cuma seratus, tolong mengerti!), maksudnya setelah satu demi satu temanku menikah, dikit2 mulai kelihatan gambarannya.

Ternyata menikah itu seperti HUTAN RIMBA.... Saat kita belum memasukinya, kita ingin masuk, penasaran dengan isi dalamnya, maka kita berusaha untuk masuk dan menerjang semua rintangan. Saat udah berada di tengah2nya, kita bingung, semuanya gelap, dan kita mulai mencari cahaya yang dapat menunjukkan jalan keluar. Baiklah, analogi ini hanya kesimpulan sepihak setelah aku mendengar kehidupan sahabat2 terdekatku yang udah nikah.

Pacar akan berubah 180 derajat saat udah menyandang status SUAMI (emang, ini postingan bias gender yang memojokkan jenis kelamin tertentu kecuali PEREMPUAN). Proses beradaptasi untuk mewujudkan rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah terasa sangat berat. Banyak aral melintang, banyak cobaan dan juga kekerasan. Gak percaya, ini bukti tertulisnya :

Waktu main ke rumah teman yang baru SETAHUN menikah, lantai rumahnya pecah, aku bertanya dengan polos, kenapa. Dan tanpa merasa berdosa, dia menjawab "Oh, abis berantem dengan Mas, aku emosi, aku lempar dia pake piring tapi malah jatuh ke lantai, pecah keramiknya."

Seru sekali sepertinya! Mungkin lain kali sebelum melempar piring, lihat2 dulu, piringnya kaca atau plastik, jadi gak rugi uang buat beli piring lain dan gak rugi waktu karena terpaksa ngeberesin sendiri piring2 yang pecah. Atau bisa juga dijadikan sebagai lahan mencari keuntungan, bagi yang melemparkan piring tapi gak kena, wajib kasih duit ke kubu lawan.

Aku gak bilang menikah itu sama sekali gak enak. Seperti dua sisi mata uang, ada enak dan gak enaknya. Coba aja wawancara, minimal ibu sendiri, mungkin lebih banyak cerita2 gak enaknya.

Ini sekelumit cerita2 temanku yang udah nikah :

Case 1

Nama    : Kwin
Status    : Tiga tahun menikah


Kwin : 
Nikah aja cepat2 Nan, nikah itu enak lho. Kita bisa ngurus suami, bahagia banget pokoknya.
Aku   : 
Ooooo....


TIGA HARI KEMUDIAN


Kwin   :
Jangan cepat2 nikah Nan, nikah itu gak enak. Nikmatin aja dulu masa muda puas2, lebih enak kaya dulu, waktu masih sama orang tua. Sekarang stres mikir. Sampe garam habis pun harus kita yang mikirin.
Aku   :
Haaaa????????????

Case 2
Nama    : Tata
Status    : Empat tahun menikah


Tata  :
Ih,belum tau aja nikah itu enak. Kita bisa masak buat suami, ngurus rumah sendiri, sampe nyediain baju sebelum suami berangkat kerja, itu hal yang indah banget. Gak bisa dibilang kenikmatannya melayani suami dengan tangan sendiri.
Aku  :
Iya lah.....


SEMINGGU KEMUDIAN

Tata   :
Benci aku lihat suami aku. Masa semua urusan rumah harus aku ngerjain. Bayangin aja Nan, aku masak, nyuci, nyetrika, belum sempat istirahat pulang kerja langsung turun ke dapur. Suami aku duduk2 aja, entah kapan hidup aku bisa tenang. Tadi pagi, aku bilang br******, emosi aku. Masa sampe kunci rumah aja harus aku, yang gendong anak juga aku, tangan aku cuma dua.
Aku   :

?????????????


Case 3
Nama   : Kurti
Status   : Lima tahun menikah


Kurti   :
(Menangis) aku gak ngerti juga, apa iya Mas masih berhubungan sama si Ayu, pacanya yang dulu. Aku takut dia selingkuh. Duitnya sering habis, mungkin dia ngebayarin rumah yang dibeli si Ayu, aku udah sering dapat kabar. Dia sering pulang malam, aku dibiarkannya sendiri di rumah. Aku takut, aku pengen ngedatengin si Ayu itu, harusnya dia sadar kalo Mas udah jadi suami orang.
Aku   :
Sabar ya, mudah2an dia gak beneran selingkuh.


ENAM BULAN KEMUDIAN  :

Kurti dan aku lagi ketawa2 di rumah dia, ngeliatin anaknya yang lagi makan. Datang tamu cowok 

Tamu cowok  : "Kur, ada Mas?"
Kurti : "Lho, bukannya dia kerumah Abang?"
Tamu cowok : "Gak ah, aku tungguin dia gak muncul2."
Kurti : "Oh, mungkin ke rumah selingkuhannya, coba aja cari kesana." (senyum lalu ketawa...)

Tamu cowok : (bingung)


Itu cuma beberapa cerita aja. Banyak, sangat banyak cerita pahit dari teman2ku tentang rumah tangga yang dijalaninya. Aku, yang hanya bisa mendengar gak bisa berbuat banyak saat teman2ku bercerita mengenai masalah2 rumah tangga yang dihadapinya. Kadang semuanya membuatku takut untuk menikah. Namun tetap kita manusia dengan fitrahnya untuk menikah. Semua orang ingin menikah.

Gak sedikit juga rumah tangga yang aman sepanjang zaman. Aku udah ngeliat sontohnya. Waktu di Dumai, numpang nginap di rumah Rika (Hay Rika :O ). Gimana mama dan papanya, yang gak bisa dibilang muda, masih saling memandang dengan tatapan penuh cinta, berbicara dengan lemah lembut, berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk pasangan. Bahkan, mama cerita, selama menikah dengan papa, mereka belum pernah bertengkar sekalipun. BELUM PERNAH. Keren banget kan. Kalo dihitung2, usia pernikahannya udah panjang. Kayanya, hampir 40 tahun. Mamanya bilang, dia bingung kalo ngeliat suami istri bertengkar, dia gak pernah menemukan alasan untuk bertengkar dengan papa, karena papa udah ngasih yang terbaik, lebih dari yang mama harapkan. Aku terharu dengarnya, gimana bisa mama dan papa rukun selama menikah. Lain kali perlu dilakukan observasi khusus mama dan papa untuk menguak resep dibalik rumah tangga harmonis sepanjang masa... :)


Ketika seorang wanita, memulai proses pelepasan masa lajang, berpindah status menjadi istri, bertransformasi menjadi seorang wonder woman karena harus mengurus urusan rumah tangga sendiri, semuanya pasti akan terasa berat. Proses adaptasi yang dilewati terasa panjang dan melelahkan. Melewati bulan pertama, tahun pertama bahkan setelah sepuluh tahun pun, proses adaptasi itu belum juga berhenti. Mungkin akan semakin berat karena  ada anak yang harus difikirkan masa depannya. Saat cinta sudah mulai aus, sayang sudah mulai menggerus dan gairah menguap oleh masa, pasangan sering kali hanya menjadi beban. Karena kita harus tetap melayaninya dengan baik, memberikan yang terbaik agar dia tak menemukan setitik cacat pun yang bisa dijadikannya alasan untuk berpaling.

Aku pernah membaca sebuah sajak indah tentang perempuan, lupa aku kutip dari mana, mohon maaf kalau ada yang merasa sajaknya aku plagiat....
Perempuan membawa kekuatan lebih dari yang pria bayangkan. Perempuan bisa menjadi lemah di luar,  tapi kuat di dalam. Perempuan bisa tegar tanpa harus mengeluarkan suara menggelegar. Tetap lembut walau hatinya kalut.

Sekarang, aku hanya mendengarkan cerita teman2ku tentang sulitnya proses yang mereka jalani. Suatu saat mungkin aku juga melewatinya. Menghabiskan malam dengan orang yang sama, berbagi suka dan duka, belajar untuk mengerti, belajar untuk menghargai, belajar untuk tetap berdiri di atas semua perbedaan, belajar untuk menahan air mata saat sang suami mulai berpindah hati, belajar mengutamakan keluarga diatas kepentingan pribadi, belajar memahami ritme hidup keluarga suami, belajar menjadi bunglon karena menjalankan dua kehidupan, karir dan keluarga. Proses belajar yang gak akan pernah tuntas, proses belajar yang tak pernah berhenti di uji. Proses yang panjang, melelahkan, menyenangkan, membosankan, namun kadang mengharukan saat mengenangnya.

Pesan ibuku yang akan terus aku ingat mengenai hidup berumah tangga

Kehidupan berumah tangga itu, ibarat sebuah kapal. Kadang begitu tenang, kadang penuh gelombang. Suami Istri sebagai nakhoda yang mengatur kapal harus bisa melewati gelombang agar kapal tidak karam. Dan ketika gelombang telah terlewati, belajarlah bagaimana melewati gelombang2 selanjutnya. Mungkin kapal akan karam, mungkin juga akan tenggelam, namun bukannya tidak ada jalan, masih ada pelampung yang akan menyelamatkan, masih ada batu karang yang bisa dipegang, masih ada serpihan kayu yang membantu untuk bertahan. Pelampung, batu karang dan serpihan kayu itu adalah para sahabat. Ketika masalah begitu rumit, gak akan mungkin kita berbagi pada keluarga, kita harus tetap menjaga respect keluarga terhadap suami, maka sahabatlah tempat kita mengadu. Bercerita. Membuka kembali pikiran jernih kita. Menganalisa masalah agar bisa mengambil keputusan terbaik. Mendapatkan pandangan2 objektif. Membuat kita kembali melihat sisi positif pasangan kita. Membuat kita mengerti. Memahami. Dan kemudian, menjalani lagi dengan pikiran yang lebih jernih.

Untuk Sahabatku tersayang, seseorang yang selalu ada untuk sedihku, bahagiaku, tangisku, emosiku, seorang sahabat yang penting dalam hidupku, dan akan selalu berarti, apapun perubahan yang terjadi. Semoga goresan pikiranku di atas mempermudah proses hidup yang kau jalani, hanya ini yang bisa ku lakukan. Saat lisan tak lagi punya ruang untuk berdendang, maka tulisan ini yang kuberikan. Tak terlalu bagus memang, banyak kekurangan didalamnya, banyak yang salah dalam rangkaiannya, namun khusus untukmu, untuk memotivasimu, menghilangkan gundahmu, melapangkan hatimu, dan menguatkanmu. You're best friend ever after, terimakasih untuk ikhlas, sabar, sabar dan kesabaran  itu, terimakasih untuk  semua yang pernah ada, yang telah ada dan yang selalu ada. ILU.


Kau yang sedang belajar melewati proses adaptasi menjadi seorang istri, yang sedang mengalami krisis hati, yang merindukan masa2 sendiri dan yang merindukan waktu untuk berbagi. Aku akan mengerti dan memahami perubahan apapun yang akan terjadi padamu. Lewati saja hari2 yang berat ini dengan tenang, karena aku yakin, di saat yang berat, ada seseorang yang menjagamu lebih baik dari siapapun. Mungkin sekarang kau sedang melewati hari2 yang melelahkan, saat kau harus melakukan pekerjaan yang tak pernah kau bayangkan, saat kau harus memikirkan dengan rinci keluar masuknya pundi2, saat kau harus melewati rutinitas 24 jam selama 7 hari dalam seminggu, saat kau harus, harus dan terus hidup dalam keharusan. Aku tak bisa membantumu seperti biasa, aku tak bisa mencampuri hidupmu terlalu jauh, seperti dulu. Namun satu yang pasti, aku selalu ada, saat kau lelah menjalani tugas2mu, saat kau jenuh melalui hari2mu, saat kau memerlukan seseorang untuk membagi kesalmu, sedihmu, tangismu bahkan marahmu.

Ketika kau penat menjalankan kapal mu bersamanya, berlabuhlah sebentar di dermagaku, sejenak saja tertawa, bercerita, membagi semua duka dan melebur semua beban di dada. Agar saat kau berlayar kembali, kapalmu tak lagi oleng di hembus angin, tak akan tenggelam dihempas ombak dan tak akan hilang ditelan gelombang.







Selasa, 26 Januari 2010

MY ICE BREAKER

Kadang hidup terasa begitu berat. Lelah, terlebih saat harapan gak sesuai keinginan....

Aku sebagai seorang makhluk dengan tingkat stres yang terlalu tinggi, sering berfikir keras untuk hal2 gak penting, gak real, gak pasti dan yang gak akan ngaruh apa2 sama hidupku. Begitu terus berulang2... Apa aja dipikirkan. Ada kabar angin dikit, langsung stres, mikir berat, nafsu makan bertambah, stres lagi, pusing, membuat skenario2 hidup kalo terjadi hal yang buruk, mikirin langkah2 yang perlu diambil...... dan kemudian gak terjadi apa2.... Sia2 semua yang dipikirkan.....

Aku perlu ice breaker, agar bisa sedikit rileks, tenang, gak grasa grusu, gak negative thinking, bisa ikhlas menjalankan hidup, bisa bersukur sama Tuhan, bisa mengambil hikmah dari semua kejadian dan bisa kuat menjawab semua tantangan..................

Dan Ice Breaker ku adalah.................

ALLAH SWT..... sering kali aku menjauhiNya, merasa diperlakukan gak adil, merasa gak disayang, merasa gak dijawab semua doa, merasa kan bahwa Tuhan pilih2 dalam memperlakukan umatNya. Tapi, aku malah makin resah, gamang, bimbang, takut. Aku yang salah, kenapa aku menjauh? Terlalu sombong untuk berdoa karena merasa doaku gak pernah di jawabNya, terlalu angkuh untuk meminta karena berfikir permintaanku terus diabaikanNya, terlalu malas untuk memohon karena permohonanku tak pernah terkabul. Saat aku pergi selangkah, Dia tetap ada, saat aku mundur seribu langkah, Dia tak beranjak kemana2. Namun, saat ku maju selangkah, Dia maju seribu langkah untuk memberikan semua hal terbaik ke hidupku.....

Ibuku......... Kadang kalo aku cerita, tak selalu ibu membenarkan pendapatku. Terlebih terhadap masalah yang aku hadapi sekarang. Aku ingin mundur, Ibu push aku untuk maju, mengabaikan segala keberatanku, meniadakan semua alibiku..... Tapi tetap ibu mendukungku..... Menyerahkan segala keputusan padaku. Meyakinkanku bahwa keputusan apapun yang aku ambil akan didukungnya sepenuh hati......

MY LOVELY MOM



Teman2 Seperjuanganku............ Mereka selalu bisa mencuci otakku dari segala resah. Selalu bikin ketawa, ketawa, ketawa dan ketawa terus. Hmmmmm, dalam beberapa hal seriiiinnnnggggggggg bikin emosi jiwa, tapi lebih sering bikin bahagia. THX GOD, karena telah mentakdirkan makhluk2 mesum itu sebagai teman2 seperjuanganku.........















Ibu2 Tukang Gosip............ Kulin dan Indah my lines friend.... Ngumpul dimanapun tetap menganggu kinerja pelayan yang udah gak sabar mau beresin  meja. Berjam2 bergosip tanpa merasa berdosa. Gak merasa malu saat bulan tua tetap memaksakan diri makan enak. Gak ada yang mau tanggung jawab jadi bandar, jalan keluarnya adalah mengumpulkan uang recehan di depan kasir yang memandang hina... Banyak hal yang dibicarakan kalo lagi sama mereka, waktu tiga jam pun gak terasa. tapi tetap aja omongannya kosong, gak membangun mental, gak merubah kepribadian jadi lebih baik, cuma debat gak jelas tentang masalah gak jelas. Ngomongin investasi, berdebat tentang investasi rumah lebih baik daripada investasi emas, atau sebaliknya. Setelah berbusa2 baru nyadar, kalo diantara kami bertiga belum ada yang mampu investasi rumah dan emas. Kalo lagi ada masalah, jangan harap menemukan tempat bersandar. Mereka akan ngomong kasar "Ah, kau aja yang lebay!" yang bikin hati makin pegal2. Kecuali kalo dipaksa, barulah mereka TERPAKSA membela, merangkul, menenangkan, memberi jalan keluar yang gak jelas. Memang, ngumpul, ngobrol dan bergosip sama mereka sama sekali gak membangun kekuatan mental, gak melatih ketrampilan otak, gak menguatkan batin, gak mengasah intelijensi, gak nambah saldo tabungan, tapi, memberi kebahagiaan luar biasa. Bikin ketawa dan sejenak melupakan segala masalah. Bisa PUAS marah2, ngomel2 dengan intonasi tinggi dan kecepatan suara maksimal, tanpa mendapatkan perlawanan, karena mereka emang udah ngerti, udah kebal, udah gak ngaruh, udah gak ngerasa terluka kalo aku lagi ngomel2, mereka cueeeekkkk aja, lalu ketawa dan mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Aku diabaikan. Baiklah, mereka gak ada bagus2nya ternyata.....


















Sekarang, dalam kondisi pikiran yang sarat akan beban, hati yang penuh emosi, aku bersukur punya tempat berbagi yang tepat, yang mungkin gak selalu bisa memberikan solusi tapi selalu mampu menenangkan pikiran dan menyejukkan hati.

Senin, 25 Januari 2010

BUKAN DOSA TURUNAN

Ahem, isi postingan kali ini agak2 berat, jadi silahkan latihan angkat beban dulu sebelum membacanya....

Lanzut...

Pernah dengar istilah dosa turunan? Gak pernah? Okeh, tante kasih gambaran ya. Biasanya itu istilah untuk menyebutkan dosa2 yang dilakukan orang tua, terus imbasnya ke anak. Contoh, orang tuanya maling, punya anak (maaf ya,,,,) bibirnya sumbing, terus langsung lah masyarakat menyimpulkan bahwa anaknya menanggung dosa turunan dari orang tua. ANEH bgt kan? Gimana bisa anaknya yang menanggung dosa orang tua. Lebih logis kalo Tuhan memberikan teguran buat orang tuanya melalui cacat si anak.

Zaman sekarang, lagi trend seks bebas. Dalam pembahasan ini, aku gak akan membahas masalah perbuatan seks bebasnya. Itu sih terserah inidividunya aja, mau free sex dengan aman pake kondom, mau free sex dengan semua lawan jenis, mau gak free sex sama sekali (ini paling bagus), itu totally hak asasi manusia. Tapi emang jaman udah parah banget ya, pernah teman cowokku, si Jam nanya, kalo mau lepas spiral bagusnya dimana. Aku kan heran, ngapain banget Jam nanya2 masalah spiral. Jam bilang, ada teman dekatnya yang cewek tanya, dia baru putus dari cowoknya, jadi mau lepas spiral. Tau spiral gak? Itu alat KB yang ditanam kan ke dalam rahim. Gimana tepatnya aku juga gak ngerti, pokoknya spiral efektif buat mencegah kehamilan, dan pemakaiannya jangka panjang, mungkin bisa nyampe 20 tahun. Aku kasian sama teman si Jam, rela2 aja pake spiral supaya bisa bebas mau free sex ma pacarnya. Kalo udah putus kan repot. Belum lagi resiko2 nya yang akan ditanggung. Mana tahu aja kan alat itu berdampak negatif kalo dipake  oleh orang yang belum pernah hamil.

Kebiasaan asal posting,  out of focus.....

Back....

Pasangan yang melakukan free sex dengan aman, ya bakalan aman2 aja. Paling juga Malaikat bakalan capek mencatat dosa2 besar yang udah dilakukan. Tapi, kalo yang melakukannya secara gak aman, besar resiko terjadinya kehamilan. Oke lah,, si cowok mau tanggung jawab terus nikahin ceweknya yang lagi hamil. Masalahnya gak akan berhenti sampe disitu, orang2 usil PASTI bakal hitung2, kok cepat banget melahirkannya, nikahnya aja baru. Sanksi sosial yang ditanggung akan lebih berat. Dan ini yang paling kasihan, anak yang dilahirkan bakalan mengalami marginal dalam lingkungan. Baiklah, kita namakan aja anak yang lahir dari hubungan di luar nikah Anak X, ini gak ada maksud apa2, hanya untuk mempermudah pembahasan aja.

Seandainya kita tinggal di Amerika sana, yang udah menganggap lazim kehamilan di luar nikah, mungkin gak akan ada perbedaan perilaku oleh lingungan terhadap anak yang lahir dalam pernikahan syah dan anak X.

Dari sisi agama, anak X banyak kehilangan hak2nya. Aku bukan lah orang yang tau banyak tentang agama, aku juga gak paham2 banget dengan isi Al Quran. Tapi aku mau sharing pengetahuan, seandainya salah mohon diralat...

Dalam Islam,
Anak X perempuan yang lahir dari hubungan diluar nikah, akan kehilangan hak nya untuk dinikahkan oleh ayah biologisnya. Kasarnya nih, anak X bukan anak ayah kandungnya. Kasian kan anak X. Kalo adeknya ntar laki2 gak masalah, gak akan timbul rasa iri. Kalo adeknya perempuan dan berhak dinikahkan oleh sang ayah, pasti anak X  itu heran, kenapa dia dinikahkan wali hakim sementara adeknya dinikahkan oleh ayah mereka.
Logis kan, emang hubungan yang terjadi belum halal, jadi secara Islam, anak yang lahir dari hubungan gak halal adalah anak ibunya. Ayah akan kehilangan hak terhadap sang anak X.

Anak X laki2 gak akan menanggung beban seberat anak X cewek. Yang aku tahu sih, dia akan kehilangan haknya untuk menjadi imam dalam sholat. Jadi, walopun dia udah alim banget , pengetahuan agamanya luas, udah belajar di pesantren bertahun2, gak pernah melakukan tindakan2 asosial, tetap aja gak boleh jadi imam.  Orang yang tahu latar belakang anak X tersebut juga gak boleh jadi makmum jika imam nya anak X.
Pendapat yang ini, aku kurang setuju. Kasian anaknya. Walopun dalam suatu kelompok hanya dia yang pantas jadi imam sholat karena bacaannya bagus, suaranya jernih, sholatnya juga gak bolong2, tetap aja gak boleh karena statusnya sebagai anak X. Aku gak tahu benar atau salahnya, ini cuma pengetahuan yang aku dapat secara turun temurun aja.

Kasian kan anak X, orang tua yang berbuat, aib nya terbawa seumur hidup. Belum lagi masalah warisan, tentu aja anak X gak bakalan dapat bagian dari harta warisan ayahnya.

Keluarga jauh ku, lebih aneh lagi pandangannya mengenai anak X ini. Mereka percaya kalo anak X itu gak boleh dipegang, disentuh, dicium, pokoknya jangan sampai mengadakan kontak fisik dengan anak X. Alasannya, kalo kulit nya bersentuhan dengan anak X, di surga nanti, kening mereka bakal hitam2 gitu. Idiiiiihhhh banget. Ini pendapat gak penting. Emang nya mereka yakin bakalan masuk surga??????

Teman dekatku, Anggra, pacaran lama banget sama Putra. Dari jaman SMA, jadi udah 7 tahunan lah. Anggra heran, kenapa orang tuanya menentang hubungan dia dengan Putra. Mereka emang tetanggaan, tapi gak ada hubungan darah. Tapi dasar Anggra orangnya keras, dia tetap maju terus pantang mundur. Akhirnya, karena udah gak tahan sama sikap keras Anggra, mamanya bilang, jangan nikah sama Putra, karena putra anak X. Mama Anggra yakin kalo Anggra nikah sama Putra, keturunan mereka bakal sial 7 turunan. Halah halah, ini pandangan paling lebay. Apa hubungannya? Emang Putra mau jadi anak X. Siapapun gak akan mau lah jadi anak X. Tapi siapa yang bisa menolak takdir?

Masyarakat kita, sering kali berperilaku salah kaprah. Mengucilkan anak X, menyindir2, melarang keluarga mereka berhubungan dengan anak X, padahal salah anak X itu apa? Mereka hanya korban dari kesalahan orang tuanya. Seandainya bisa memilih, pasti semua orang mau nya lahir dari keluarga baik2 dengan bonus kaya raya. Sekali lagi, takdir gak bisa dipilih. Tuhan udah menentukan hidup terbaik yang akan kita jalani. Jika, dilingkungan kita, ada seorang anak yang kita ketahui latar belakangnya sebagai anak X, perlakukanlah dia dengan baik, biasa aja, jangan dibeda2kan dengan anak lain. Pada hakekatnya, anak X gak berdosa, orang tua mereka lah yang bersalah.

Dan yang paling penting, sebelum kita mengucilkan anak X dan menilai hina terhadap kesalahan orangtuanya, pandangi diri kita dulu di cermin besaaaaaaaaarrrrrrrrr, lalu tanya pada bayangan di cermin itu, sebanyak apa dosa yang udah kita buat? Apakah kita lebih baik daripada anak X dan orangtuanya, apakah kita yakin seumur hidup dosa yang udah kita kumpulkan masih kurang banyak dari dosa orang2 yang melakukan seks bebas????

Sungguh, aku bukan medukung seks bebas. Aku juga gak menganggap bahwa free sex itu benar, aku cuma gak mau anak2 yang lahir dari hubungan di luar nikah menanggung dosa turunan dari kedua orang tuanya.

Minggu, 24 Januari 2010

KETIKA RASA KEHILANGAN HILANG

Aku adalah seorang wanita Virgo yang mempunyai sifat Yin Yang. Maksudnya, sifat burukku membawa pengaruh terhadap munculnya sifat baikku. Aku sangat sangat posesif terhadap apapun yang aku sayangi. Misalnya terhadap teman, waktu remaja dulu aku memiliki kecendrungan membatasi gerak gerik teman2ku untuk berteman dengan orang lain. Alhamdulillah sekarang sifat jelekku itu sudah terkontrol dengan baik. Dampaknya, aku menjadi individu yang setia dan mau berkorban untuk orang2 yang aku sayangi.

Aku juga sensitif. Sering mikirin sesuatu secara berlebih2an. Kalo ada teman yang jawab sms pendek, aku mikir, apa dia lagi marah sama aku, apa aku buat salah sama dia. Gak penting banget pokoknya.

Berhubungan dengan sifat2ku diatas, aku jadi sering merasa kehilangan ketika seseorang yang aku sayangi berubah, pergi atau pindah ke lain hati (heheheee, yang terakhir lebay....)

Pertama kali rasa kehilangan yang membekas adalah saat aku beranjak dewasa, mulai mengalami siklus bulanan dalam hidupku sebagai wanita tulen. Ayahku adalah tipe orang jadul, pikirannya agak kolot. Jadi, sedekat apapun beliau dengan anak perempuannya saat anaknya kecil, kalo udah dapat siklus itu, beliau menjauh dengan sendirinya. Menjaga jarak. Aku tergolong anak yang cepat mendapat siklus bulanan, kelas 5 SD aku udah dapat. Kematangan mentalku gak berjalan seimbang dengan kematangan fisikku. Maka saat itulah aku kehilangan sosok ayah yang biasanya dekat denganku. Aku jadi jarang ngobrol dan gak memiliki kedekatan batin dengan ayah.

Saat memasuki gerbang remaja akhir, aku memutuskan untuk kuliah ditempat yang berbeda dengan sahabat2 SMA ku. Mereka kebanyakan kuliah di tempat yang sama, jurusan yang sama bahkan kelas yang sama. Lagi2 aku merasa kehilangan. Aku iri mendengarkan cerita mereka yang gak mengalami kesulitan adaptasi di lingkungan kampus, karena mereka punya teman seiring sejalan. Aku merasa lebih terpojok saat mereka meresa nyaman dengan teman2 kampus mereka. Aku merasa ditinggalkan saat mereka mulai menemukan kelompok baru di kampus. Dan aku merasa kehilangan saat mereka gak punya waktu lagi untukku karena sibuk dengan urusan kampus. Aku desperate. Putus asa. Aku jadi sering nangis. Aku memang gak biasa tanpa teman, aku merasa nyaman jika ada dalam suatu kelompok.

Sekarang, lagi2 aku mengalami rasa itu. Ketika satu persatu sahabatku mulai pergi. Meninggalkanku untuk memasuki dunia baru, dunia yang belum pernah aku tapaki, yaitu dunia perkawinan. Sehari dua hari baru nikah, masih biasa aja. Setelah sebulan, aku ngerasa ada yang beda, ada yang berubah. Kedekatan yang aku rasakan gak seperti dulu lagi. Berasa ada jurang, berasa ada tembok tinggi yang memisahkan. Pukulan paling telak mungkin adalah yang sekarang aku alami, sahabat terdekatku menikah. Aku bahagia untuknya. Aku ngerti kalo waktu nya udah gak ada buatku. Aku terlalu terbiasa menghabiskan hari dengannya, aku terlalu terbiasa menceritakan apapun padanya, aku terlalu terbiasa dengan keberadaannya didekatku, aku terlalu terbiasa memancing2 kata keluar dari mulutnya yang jarang berbicara. Senang, sedih, tawa dan air mata yang biasa kami bagi berdua, sekarang mulai berubah. Aku berusaha memahami situasi. Aku berusaha menyimpan sendiri semua cerita yang biasa ku bagi. Aku berusaha untuk gak merasakan rasa kehilangan kali ini hingga ke hati. Aku berusaha ngerti. Aku berusaha ngerti. Aku berusaha ngerti.

Jujur, aku jadi takut kehilangan lagi. Sahabatku gak banyak. Aku bukan orang yang dengan mudah mendapatkan sahabat baru. Saat sahabatku yang masih belum nikah, Indah, cerita kalo udah nikah ntar kemungkinan dia bakalan ikut suaminya yang orang Malang, aku takut. Takut banget, karena sekarang hanya dia yang aku punya. Walopun hasrat ku untuk meracuni otaknya tinggi supaya dia pikir2 lagi untuk nikah sama cowok itu, tapi aku gak mau merusak kebahagiaan yang dia miliki. Memang aku belum pernah aku ngeliat Indah sebahagia ini. Aku akan mengerti seandainya kelak aku kehilangan lagi.

Aku udah dewasa, harus punya cara yang baik untuk keluar dari suatu masalah,  minimal jangan sampai larut kedalam suatu masalah.


Ketika rasa kehilangan akan kedekatan ku dengan ayah hilang, aku menemukan pengalaman baru dalam hidup, kelas 5 SD aku mulai memperhatikan lawan jenis. Mulai care sama mereka, mulai mengklasifikasi yang mana cowok yang patut dikecengin dan yang cocok untuk dimusuhi. Mungkin bukan rasa cinta, setidaknya dengan moment itu, aku menaiki satu tangga proses menuju remaja.

Ketika rasa kehilangan akan keberadaan teman2 SMA ku hilang, aku menemukan dunia baru di kampus. Aku berusaha untuk menemukan kelompok baru, yang seide dan yang bisa memberikan pengaruh positif dalam hidupku. Aku jadi mengurangi rasa ketergantungan dengan teman2 SMA ku. Aku belajar mandiri dan memahami bahwa gak ada yang abadi.

Dan sekarang, ketika rasa kehilangan seorang sahabat itu belum hilang, aku tetap belajar memahami. Aku mulai membuka diri untuk bergaul dengan teman2 lainnya. Aku sadar bahwa mungkin suatu saat aku pun akan mengalami fase hidup itu, saat aku meninggalkan seseorang dan ada seseorang yang kehilangan aku. Aku memang gak akan mengklarifikasi apapun, aku gak akan bertanya dengan sahabatku mengenai perubahan2 sikapnya, aku cukup mengerti bahwa arah hidupnya udah berubah. Akan banyak hal2 berat yang harus dipikirkannya. Aku masih berusaha, aku memang belum mengerti, tapi pasti suatu saat rasa kehilangan ini akan hilang.

SURGA DARI SANG BUNDA

Bagi orang2, proses melahirkan itu merupakan hal yang biasa. Udah dari jaman dulu perempuan melahirkan. Gak perlu heboh, gak perlu dibesar2kan. Tapi bagi yang mengalaminya tetap aja proses itu merupakan proses penting. Perjuangan antara hidup dan mati. Pengorbanan untuk mengeluarkan seorang anak dari dalam rahim untuk menghirup aroma hidup. Gak cukup sembilan bulan bebagi nafas, ditambah dengan derita sakit persalinan.

Minggu ini, aku melihat 2 bayi yang baru lahir. Satu tanggal 15 Januari, satu lagi hari ini. Baru hitungan jam dia lahir. Aku aja yang bukan ibunya, takjub ngeliatnya. apalagi orang tuanya ya. Pasti senang, bangga dan terharu. Bahkan mungkin ada sejuta perasaan lain yang gak bisa aku ungkapkan, karena aku belum pernah merasakannya.

Pernah gak, melihat proses persalinan secara langsung? Saat seorang wanita berjuang untuk hidup calon anaknya. Aku belum. Dengar cerita dari teman2 aja aku udah ngilu. Membayangkan gimana sakitnya, gimana rasanya. Saat pembukaan 1 sampe 9 (bayangin aja pembukaan 9 itu berarti tangan dokter udah bisa masuk ke jalan lahirnya), saat mengedan, saat anaknya udah mau keluar, saat vagina (maaf, gak maksud jorok) digunting untuk membuka jalan lahir, saat  vagina (maaf lagi, gak maksud porno) dijahit lagi. yang udah digunting tadi. Aaaahhhhhh, ngilu. Takut. Trauma....

Aku emang belum jadi seorang ibu. Belum pernah hamil dan melahirkan. Belum pernah melihat proses persalinan secara langsung. Namun, saat mendengar cerita teman2ku, saudaraku yang udah mengalaminya, aku sadar, menjadi ibu bukan hal yang mudah. Waktu Dita mau lahir, aku ikut nungguin di rumah sakit.
Ceritanya, kak Kiki, ibunya Dita, tinggal di luar kota, kira2 empat jam dari Pekanbaru. Siang2 dia ngerasa sakit di perut bagian bawahnya, dia langsung berangkat naek speed boat ke Pekanbaru, sampe di sini, dibawa ibu ke rumah sakit. Kata dokter, udah pembukaan dua, kak Kiki langsung rawat inap. Sampe tengah malam, pembukaannya gak nambah2, dengan penuh inisiatif dokter kasih injeksi induksi di punggung. Katanya, induksi itu buat mempercepat proses persalinan. Katanya lagi, sakit yang dialami karena induksi, dua kali lipat dari pada proses alami. Nggak tahu kenapa, pembukaannya gak juga nambah. kak Kiki udah sakit2, suaminya udah nangis2. Ibu bilang ma aku, tolong bilangin ma kak Kiki, minta maaf dulu sama orang tua biar mudah jalannya. Aku sampaikan pesan ibu, kak Kiki minta maaf. Sampe subuh, jalan lahirnya gak juga terbuka. Tetap pembukaan 2. kak Kiki udah merintih2 kesakitan, suaminya udah nangis, gak tega lihat istrinya kesakitan, tapi dia juga gak punya uang untuk caesar. Aku dengar dia bisikin ma kak Kiki, "sabar ya bu, sabar. Kita gak punya uang untuk operasi." kalo diingat sekarang, aneh ya. Istrinya sakit, dia malah bahas masalah itu. Tapi karena waktu itu aku liat gimana Bang Dedi gak lepas2 pegang tangan, ngelus kepala, punggung dan gak pernah beranjak dari sisi kak Kiki, aku terharu pengen nagis. Maklum baru nikah, keuangan mereka masih amburadul. Ibu dan ayah udah gak tahan liatnya. Tapi gak bisa ngomong apa2 juga. Sampe jam tujuh pagi belum ada juga pembukaan, bang Dedi nya gah tahan, sambil nangis2 dia minta kak Kiki operasi aja. Masalah biaya nanti aja dipikirkan. Maka dengan sukses aku ikut naek ambulans yang bawa kak Kiki, dari RSIA Andini ke RS Ibnusina buat dioperasi. Merinding abis naek ambulans dengan sirene ngoeng2 sepanjang jalan. Sampe di Ibnusina, ternyata di OK yang lagi dinas mama nya temanku, Neni. Alhamdulillah, kak Kiki dapat kemudahan. Dibantunya supaya gak terlalu sakit. Soalnya, setelah kak Kiki, ada lagi 1 pasien caesar, pas baru masuk, teriakannya histeris banget. Kami udah kaget. Ternyata dia teriak waktu pasang kateter ke saluran pipisnya. Karena ada mama Neni disana, kak Kiki dibius dulu, baru pasang kateternya. Jam 9 pagi tanggal 9 Agustus 2007 (090807) bertepatan dengan hari jadi Kota Pekanbaru, lahirlah si cantik Dita. Yang kasih nama, aku dan andy. Kami menghilangkan hak mutlak orang tuanya buat kasih nama. Namanya, Nadita Khaira Ananda. Nadita itu singkatan dari Na (Nanan) Di (Andy) T (Tesdayarni, nama ibuku) A (Atharuddin, nama ayahku), egois banget kan???

Dita versi bayi




Dita versi dewasa yang udah bisa diajak perang pake samurai



Percaya atau nggak, aku pernah lho gak teguran dengan Dita... Hakhakahakkk.... dan aku sebagai pihak tua yang disalahkan. Padahal aku gak salah, Dita tu yang suka ngadu domba. Dia nusuk mataku, terus malah aku yang dibilangnya jahat sama ibu. Sukses, aku gak teguran dengan Dita....  Tapi Dita nyerah, saat aku mau pergi, dia gak rela tinggal. Jadi, walopun gengsi, dia terpaksa negur aku duluan, heheheeee..... Tapi aku dimarahin ibu karena sampe mau2nya berantem ma Dita....

Okeh, kembali ke cerita awal. Melihat perjuangan ibu2 melahirkan, aku sadar, gak selayaknya kita ngelawan ibu. Wajar surga ada dibawah telapak kaki ibu. Karena Tuhan menilai ibu sebagai sosok mulia, surga pun berada di bawah telapak kakinya, bukan diatas kepalanya.

Dedicate For My Mom

Ibu, kamu malaikat tanpa sayap untukku. Mungkin engkau tak sesuci Siti Maria. Tak sekudus Bunda Theresa. Tak secantik  Cleopatra. Ibu, bagiku engkau lebih sempurna dari siapapun. Sembilan bulan ku nyaman di rahimmu, kau berbagi nafas denganku, berbagi hidup denganku. Ku tak tau betapa sulit bagimu, harus tidur dengan perut menggembung, harus bekerja dengan perut membesar. Demi ku, tetap kau bahagia, tak pernah berduka dan merasa putus asa. Ketika saatnya tiba, perjuanganmu lebih berat lagi. Kau perjuangkan hidupmu demi hidupku, kau tiupkan nafasmu demi nafasku, kau abaikan mati mu demi nyataku,  kau teteskan air mata demi senyumku, kau tunjukkan dunia padaku, kau bukakan jalan bagiku. Ibuku, mungkin aku menangis saat pertama kali menghirup udara bumi. Sungguh Bu, aku tak nyaman meninggalkan hangat rahimmu. Aku takut tak terlindung seperti rasa aman ku selama di sana. Ibu, kau tetap malaikat tanpa sayapku. Seumur hidupku, tak sekali pun kau mengecewakanku, menolak permintaanku, mendustakan janji padaku. Ibu, aku lah yang sering melukai hatimu, mengabaikan nasehatmu dan menulikan telingaku untuk permintaan tolongmu padaku. Ibu, seluas samudera hatimu tercipta, tak pernah ada dendam untukku, tak pernah ada makian bahkan keluhan pun tak pernah kau suarakan. Kau hapus airmata saat katimu tersakiti, sungguh Bu, mohon ampun untuk semua khilafku, aku takut Bu, takut kala air mata mu menetes karena aku. Takut saat kau memendam duka karena kesalahanku. Ibu, aku bukan anak yang sempurna. Tak ada yang bisa aku berikan, tak ada yang bisa aku persembahkan. Kasihku hanya sepanjang galah saat kau persembahkan kasih sepanjang jalan. Seperti air laut yang takkan pernah berkurang asinnya begitulah kau mencintaiku, tak mau berkurang selamanya.

Ibu tak ada yang bisa aku daya. Aku belum jaya, belum kaya. Belum bisa membuatmu bangga. Aku belum jadi apa2 di dunia ini. 

Ibu, aku ingin berterimakasih untuk setiap peluhmu merawatku. Aku ingin berterimakasih untuk terjagamu dalam lelapku. Aku ingin berterimakasih untuk kasih sayangmu seumur hidupku. Aku ingin berterimaksih untuk cucuran keringat yang telah menetes untuk memenuhi inginku. Aku ingin berterimakasih untuk doamu dalam tidurku. Aku ingin berterimakasih untuk semuanya bu, kesempatan hidup di dunia dan memiliki mu sebagai wanita terindah dalam hidupku. Ibu, ketika suatu saat aku menyakitimu dengan lisanku, mohon marahilah aku. Ketika suatu saat aku menyakitimu dengan tanganku, maka berikan pukulan yang dua kali lipat sakitnya Bu. Sadarkan aku akan agungmu. Sadarkan aku akan kudusmu. Sadarkan aku untuk setiap doa dan air matamu. Sadarkan aku akan hidupmu yang telah kau berikan padaku. Sadarkan aku untuk nyawa mu yang telah kau pertaruhkan untukku. 
Ibu, engkau malaikat tanpa sayap bagiku. Engkau bunga segala musim bagiku. Engkau sahabat sehidup semati untukku. Ibu, aku mencintaimu, dengan seluruh aliran darah yang mengalir di tubuhku. Terimakasih Ibu, untuk kesempatan hidup yang telah kau berikan padaku.... Ibu, bahkan ketika aku berikan surga ke telapak kaki mu pun, takkan cukup untuk membalas semua jasamu seumur hidupku.

Kamis, 21 Januari 2010

BANGSA, BEDA, DAN WARGA YANG HINA

Tahun 2008 lalu, aku mengikuti Diklat selama 6 bulan, mulai dari Juli 2008 hingga Januari 2009. Pelaksanaan Diklatnya dilakukan di daerah Bekasi Barat, tepatnya di Cevest...





Selama 6 bulan mengecap kehidupan di Bekasi, aku sebagai makhluk lugu yang baru sekali menginjakkan kaki ke dalam pesawat dan ke Pulau Jawa, merasa takjub karena banyak perbedaan budaya hidup, antara orang Bekasi dengan kami, orang Riau. Aku akan menceritakan sedikit pengalaman aku dan teman2ku mengenai perbedaan itu, jika ada yang pernah mengalami pengalaman yang sama, harap beri comment pada bagian bawah blog ini, terimakasih :)


BAHASA

Kejadian di Kantin

Orang Riau, orang Sumatera pada umumnya, menyukai makanan yang banyak bumbu dan bercita rasa pedas. Yang masak di kantin kami, seorang ibu yang dari logat bicaranya langsung ketahuan kalo dia Sunda asli. Masakannya enak sih, cuma kelewat polos. Misal : Menu makan siang, ikan goreng, sayur bening, tempe goreng tepung. Udah gitu aja. Orang Riau yang suka pedas, mana tahan makan kaya gitu. Gak hanya aku, semua pesertanya, 31 orang merasakan derita yang sama. Sekali dua kali, kami masih gak tega buat ngomong langsung. Tapi akhirnya, seorang teman, Pak Yus merasa teraniaya dan mengajukan sebuah permintaan kepada Ibu kantin.

Pak Yus : Buk, boleh minta cabe goreng.
Ibu Kantin : Boleh Pak, tunggu sebentar.

Ibu Kantin menyiapkan pesanan, kemudian si Jajang, anak buah ibu kantin datang membawakan pesanan Pak Yus, cabe goreng. Pak Yus bengong, kami semua ketawa, si Jajang bingung. Kami ketawa karena yang ada di piring benar2 cabe utuh yang digoreng. Big mistake.

Di Pekanbaru (Riau) lazim menyebut cabe yang telah digiling kemudian digoreng atau ditumis, dengan nama CABE. Kalo beli nasi padang misalnya, kalo minta banyakin sambelnya, cukup bilang, "banyakkan cabenya ya.". Di Bekasi (Mungkin : daerah Jawa yang lain), menyebutnya SAMBEL ya?

                             1                                                         2                      


Kesimpulan :
Di Pekanbaru = Gambar 1 namanya cabe, gambar 2 namanya juga cabe
              
Di Bekasi = Gambar 1 namanya cabe, gambar 2 namanya sambel

Kejadian di Hotel

Bulan Oktober atau November ya, lupa lagi :), aku dan 7 orang teman lainnya melakukan On The Job Training di hotel. Hal itu dimaksudkan agar kami bisa mengetahui secara real kondisi kerja di hotel. Kami dapat hotelnya di Jakarta, jadi tiap hari kami berangkat subuh dari Bekasi. Aku dan 3 orang teman dapat hotel di daerah Cikini. Di hotel, aku ditempatkan di laundry. Karena saat itu alergiku lagi parah, bersin terus2an, jadi gak boleh kerja di restoran, di dapur dan bagian lain yang langsung berhubungan dengan tamu. Kerjaan di laundry gak berat, pagi2 keliling ke kamar yang berisi, ketuk pintu dan tanya pada tamu ada laundry atau nggak. Setelah itu, semua laundryan di kasih nomor supaya gak tertukar. Habis makan siang, keliling lagi untuk ngambil linen kotor, kaya seprei dan handuk gitu, yang udah dibongkar sama Room Boy. Suatu hari, aku menemukan seprai yang robek. Aku lapor sama Room Boy, kata mas nya bilang aja sama Mba Isma, supervisor laundry and linen dept. Mba Isma biasanya keliling ngecek linen yang kotor, waktu dia datang aku melapor.

Aku : Mba, ada seprei koyak.
Mba Isma : HAH? Kok bisa? Kamu pisahin ya Nan. Nanti aku cek.

Aku kemudian turun ke bawah membawa linen kotor pake trolly. Gak lama, Mba Isma masuk sambil ngomel,

Mba Isma : Mana? Katanya ada koya.
Aku : Ini Mba (Aku menunjukkan bagian yang robek)
Mba Isma : Ini sih robek.....
Aku : Iya, kan aku bilang juga koyak
Mba Isma : Koya apaan sih? Aku pikir tadi di sepereinya ada nama hotel koya Nan.
Aku : Koyak itu ya robek Mba

Maka ngakak lah Mba Isma mendengarnya. Aku heran, emang benar di sana gak kenal istilah KOYAK? Sejak itu, asal lagi keliling ngambil laundry, Mba Isma ngerumpi sama Room Boy tentang koyak itu. Karena gak ngerasa salah, malu ku cuma dikit.

Kejadian di Kelas

Temenku, si Lemah (dia suka bilang dia wanita lemah :o, aku bilang, lemah di luar, sadis di dalam) kelihatan gugup saat melaksanakan tugas akhir. Kami mendapat tugas akhir ngajar di kelas. Kami harus menyusun sebuah materi kemudian mengajarkannya di kelas. Pesertanya adalah anak magang yang mau dikirim ke Jepang. Si Lemah itu, suaranya begetar saat mulai ngajar. Emang beban banget buat pemula seperti kami, apalagi kalo dapat peserta yang kritis, mencecar dengan pertanyaan bertubi-tubi, konsentrasi akan buyar dan semua ilmu menghilang. Kembali kepada si Lemah, dia menggunakan Flip Chart sebagai media mengajar. Setelah menulis sesuatu, dia melihat ke pesertanya sambil bertanya, "Nampak gak", peserta menjawab, "Nampak." aku saat itu duduk di bangku belakang, merasa gak ada masalah saat itu. Sampai aku melihat semua peserta senyum2 sambil saling bertanya, "NAMPAK???"

Emang di Jawa gak mengenal istilah NAMPAK? Itu kan kata dasar dari PENAMPAKAN. Artinya KELIHATAN. Sama aja kan? Emang bener janggal ya? Emang gak lazim ya?


ALAT TRANSPORTASI UMUM


Pekanbaru dan Bekasi sama2 punya oplet, bus kota, ojek dan taksi. Walopun, oplet di Pekanbaru, terklasifikasi berdasarkan warna dan di bekasi berdasarkan nomor dengan nama angkot, secara fisik sama aja. Pekanbaru punya kendaraan tergress, TransMetro, sejenis busway tapi gak punya jalur khusus di Jalan. Yang paling beda, tentu aja KERETA API. Aku, yang seumur hidup belum pernah liat dan naik kereta api, norak2 bergembira saat itu.

Ini tentang warga yang hina ini, bukan tentang perbedaan atau segala macam. Ceritanya, Kabogoh ku pulang ke kampung halamannya di Bogor. Maka aku berniat tulus untuk main ke sana. Aku mulai perjalanan pada hari Minggu pagi, naek oplet ke stasiun Bekasi. Sampe disana, aku melihat jalur keberangkatan. Kok gak ada jalur Bekasi-Bogor. Karena takut salah langkah, aku nanya sama petugas stasiun. Ternyata emang gak ada,  petugasnya bilang, aku harus naek kereta ke manggarai dulu baru nyambung kereta ke Bogor. Maka dengan gagah berani, aku naik kereta ekonomi ke manggarai, disambung dengan kereta ekonomi lagi ke Bogor. Yang menyebalkan adalah si Kabogoh itu, dia berulang kali nelpon. Kereta ekonomi sempiiiittt banget. Tangan kiriku penuh membawa sogokan untuk calon mertua, tangan kananku bertahan agar gak jatuh dengan berpegangan erat pada besi2 di atas kereta. Kalo dia nelpon aku bakalan susah payah ngambil hape di saku, kemudian, besi2 yang aku pertahankan itu telah direbut orang lain. Aku terpaksa bertahan dari desakan penumpang lain dengan menumpang kan tangan di bahu orang. Padahal yang dibilangnya cuma, : "udah nyampe mana? jangan lupa ya, dari depok baru, depok lama, citayem, baru turunnya di bojong ya. jangan lupa." gitu aja. Aku juga bisa nanya kan di mana bojong itu.

Akhirnya, aku sampai dengan selamat. Kabogoh salut!!!! Karena dia tahu, bawa mobil di Pekanbaru sendirian aja aku masih nyasar, apalagi di kampung orang.

Minggu depannya, Sabtu siang, aku udah nongkrong lagi di stasiun Bekasi. Aku mau ke Bogor lagi, karena Kabogoh janji mau ngajak jalan ke Puncak. Sesuai perintah Kabogoh, aku disuruh naek kereta ekonomi ac dari Bekasi ke stasiun Kota, baru nungguin kereta ekonomi ac lagi ke Bogor. Aku nyampe di stasiun Kota, lalu ngantri beli tiket ekonomi ac ke Bogor. Seorang ibu tiba2 ngomong denganku,

Si ibu : titip ya Dek, belikan dua
Aku : emang Ibu mau kemana?
Si ibu : mau ke Depok
Aku : (dengan suara lantang dan yakin) tapi saya mau ke Bogor Bu, disana aja ngantrinya.
Si ibu : iya ke Bogor, titip yah.
Aku : Tapi mau ke Depok, ini antrian ke Bogor
Si ibu : iya, ke Bogor kan ngelewatin Depok

Aku malu, si Ibu ketawa, orang2 disekitarku ketawa. Saat itu aku sangat ingin lari sambil joget india. Dengan perjuangan panjang itu, aku sampe di tempat Kabogoh. Malamnya kami ke Puncak, aku heboh ngeliat IPB, bangga ngeliat tajur dan deretan distro. Tapi, perjuangan gagal, hujan dan dingin menyebabkan kami harus mundur sebelum perang. Jadi akhirnya, cuma duduk aja di warung2 pinggir jalan sambil minum kopi. Kabogoh yang pada dasarnya udah gak romantis, gak berusaha untuk menciptakan suasana romantis. untuk menghiburku. Dia membuka pembicaraan dengan gembira, "Gak nyangka ya, kita pacaran bisa sejauh ini dari Pekanbaru. WOW...." aku menderita, aku kan pengen ke Puncak......

SARANA UMUM

Kejadian di Giant

Aku lagi di Giant sama Nanien, niatnya mau ngambil duit di ATM Mandiri. Karena ATM yang didalam duit nya udah habis, kami keluar lagi, mau ngambil di ATM yang di luar. Lagi ngambil, ada mobil datang sambil klakson2. Aku melotot ngeliatin supirnya yang gak sopan. Tapi, kami didatengin Security, lalu dia bilang, "maaf Bu, ini ATM Drive Thru, prioritas buat pengendara." kami tersipu2 malu, pengen tenggelam di telan bumi. Keliatan banget noraknya.

Tapi, sekarang udah ada kok ATM Drive Thru di Jalan Sudirman, sebelah kantor pos Pekanbaru (Ahem.... Bangga).

Kejadian di Mall Metropolitan

Tau Bidet gak? Mungkin tau bentuk gak tau namanya ya? Aku tau nama, tau gambarnya, tapi belum pernah ngeliat langsung. Ini bidet




Bidet ini toilet buat perempuan, kalo buat laki2 urinor. Teorinya aku tahu, bidet itu bakalan ngeluarin air secara otomatis setelah kita pipis. kita gak perlu repot pake gayung atau selang lagi buat bersih2. Di Bekasi, mall nya udah keren ada bidetnya. Di Mall2 Pekanbaru, yang ada biasanya cuma toilet bowl aja, jadi aku masih awam dengan bidet. Saat lagi di MM, aku kebelet pipis. masuk ke toilet, aku bingung gimana cara menggunakan si bidet itu. Lama banget, baru aku nekad. Aku duduk kaya aku lagi pake toilet bowl. Srrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr..... pipis dengan lancar. Tapi tanpa ada tanda2 dari Tuhan, muncratlah air dari bidet pada bagian yang salah. Bajuku basah. Mana rasanya gak enak lagi pipis tapi gak dibersihin. Saat keluar toilet, orang2 udah ngantri, kayanya mau marah karena aku kelamaan. Tapi liat aku basah, semuanya ketawa. Aku kaya tikus kejebur got.

Selasa, 19 Januari 2010

FORBIDDEN FOR UGLY DUCK

NOTE : Turut berduka cita atas kecelakaan mobil yang menimpa atanotonogoro sehingga menyebabkan Driver ata berpulang ke Rahmatullah...  Keep strong Dear, Hope God save u... Mudah2an Almahrum diterima di sisiNya, diampuni segala dosanya dan diterima segala pahalanya.


Assalamualaikum Wr, Wb, sore yang mendung di belahan bumi Pekanbaru. Gimana di tempat Kamu? Aku harap nanti malam akan turun hujan, karena siang tadi, panasnya bukan main. Sebelum memulai posting, mau cerita dikit. Jam 3an, pulang kerja aku nyapu rumah sambil hidupin tipi. Karena penguasa remote nya ayah, maka aku membiarkan saja siaran apapun yang akan ayah pilih. Dengan yakin, ayah memilih siaran TVRI Riau. Sambil terus nyapu, aku pasang telinga untuk mendengarkan acaranya. Gini kata penyiarnya :
Rumah yang menjadi ciri khas suatu daerah disebut rumah adat. Jarang diketahui bahwa ternyata di daerah Kampar Riau ada sebuah rumah adat yang terletak di daerah Kampar Barat, masyarakat setempat menyebutnya RUMAH BORDIR
HAH??? RUMAH BORDIR? Aku menyingkirkan sapu dan merasa sangat tertarik dengan acara yang satu ini. Sang Penyiar melanjutkan,
Nama rumah adat itu sendiri berasal dari kata LENTIK. Rumah adat LONTIAK memang tidak sepopuler.... bla bla bla
Ternyata LONTIAK. Jauh banget dari kata BORDIR... Hehehee, telinga dan otak sama eror nya.

Baiklah sodara2, lihat ke bawah



Hehehe.... itu foto waktu wisuda Februari 2007. Yang disebelahnya oknum bernama MASHURI, cowok biasa dengan wajah ganteng, kepribadian ganteng, keuangan ganteng tapi tetap gak bisa bikin kuch kuch hota hei. Wisuda merupakan moment Kebahagiaan Sehari buatku. Beneran lho, aku cukup bangga waktu wisuda  karena dari satu angkatan anak 2002, kami yang pertama menyelesaikan skripsi, terus diwisuda dengan sukses. Ini dia anak2 beruntung itu.



Sehari setelah wisuda dunia berkata : WELCOME TO THE JUNGLE, SELAMAT DATANG DI DUNIA PENGANGGURAN. PLEASE SPEND YOUR TIME WITH EMPTY HOPE.

Itu terjadi padaku. Setelah wisuda, hidup malah lebih membosankan. Kebiasaan waktu nyusun skripsi, sibuknya dari pagi sampe malam, nyebarin skala penelitian, stand by di tempat penelitian nungguin subjek yang cocok dengan kriteria penelitian, ngejar2 dosen buat bimbingan, ngetik revisi skripsi sampe pagi... Begitu terus sampe akhirnya sidang skripsi berlangsung.... BERHASIL.... BERHASIL..... Yah segitu aja. Euforia wisuda cuma terasa sehari. Sambil nunggu ijazah asli keluar, mulailah aku berburu kerja. Gak hanya koran, intenet bahkan door to door perusahaan aku datangi buat melamar kerja. Ini betul terjadi. Seorang sarjana yang baru tamat dan belum ada pengalaman kerja, sangat susaaahhhh dapat kerja. Perlu waktu lama, usaha maksimal dan doa sampe nangis darah. Apalagi untuk jurusan yang aku pilih, Psikologi. Keren banget kayanya ada title Sarjana Psikologi dibelakang nama, tapi nyari kerjaan yang sesuai jurusan,susye bener... Waktu SMP aku udah cita2 pengen jadi psikolog. Pikir ku kala itu, kalo udah tamat aku mau buka praktek. Gimana gak enak kerjaannya, orang datang ke kita terus berkeluh kesah, kita kasih solusi dan dibayar. UHUI. Kebahagiaan akan bayangan hidup kaya, pupus setelah benar2 memilih jurusan itu, ternyata untuk bisa buka praktek harus nyambung sekolah lagi, S2 Profesi, oke dengan semangat 45 aku browsing nyari tahu berapa  biaya yang diperlukan untuk S2. Setelah tau, aku hanya tertunduk lesu dan meyakinkan diri bahwa aku gak akan mampu membiayainya. Mencapai 9 digit angkanya, mungkin sekarang lebih mahal lagi. Maka dengan cepat aku menetapkan cita2 baru. Aku pengen kerja di bagian HRD. Sebenarnya aku pengen kerja di RSJ, lebih asik, minimal kalo magang disitu, dapat pengalamannya. Tapi mengingat aku sangat gampang terpengaruh, ibu mewanti2 ku untuk membatalkan keinginan itu, ibu takut aku ikut jadi gila. Bukan tanpa alasan ibu takut, aku pernah sekali main ke RSJ, pulang2 aku melakukan hal2 aneh dan janggal di rumah. Padahal aku cuma beberapa jam aja disana. Target ku  muluk2 banget, pengennya jadi Personalia di Bank atau hotel.

Maka mulailah aku berburu pekerjaan. Lihat sana sini, sangat susah mencari lowongan : DICARI S-1 PSIKOLOGI FRESH GRADUATED UNTUK BAGIAN PERSONALIA DI BANK X... Gak putus asa, aku mendatangi bank2 di Pekanbaru dan memasukkan lamaran. Gak ada respon sama sekali. Aku mulai intropkesi diri. Mungkin jangan ketinggian target dulu, maka aku memasukkan lamaran kepada seluruh pemasang iklan lowongan di koran. Thanks God, aku diterima di salah satu sekolah swasta yang baru buka. Kerjaan ku disitu kesannya keren, terapis anak autis. Tapi yang terjadi, kerjaanku tiap hari ngejar2 anak autis yang lari2 keliling lapangan, menerima tamparan, pukulan, cakaran dari mereka dengan ikhlas. Apalagi kalo anaknya lagi Tantrum, ngamuk2 gak jelas, aku sangat kewalahan. Menilai kinerjaku yang sangat minim, maka dengan ikhlas aku dirumahkan oleh kepala sekolahnya.... Alhamdulillah, bidang ini memang gak cocok untukku.

Dengan semangat aku mulai berburu lagi. Pada tahap kedua perburuan ini, aku menyadari sesuatu. Terjadi DISKRIMINASI antara seorang pencari kerja berwajah cantik dengan seorang pencari kerja barwajah standar. Aku mengenyampingkan hal lain yang juga berpengaruh disini, yaitu koneksi.

Aku, seseorang dengan wajah biasa, berat badan berlebihan dan tinggi badan kurang, sangat sering gugur pada tes wawancara pertama. Ini gak omong kosong lho. Aku benar2 mengalaminya. Pernah aku wawancara kerja, kandidatnya ada 2. Aku dan seorang kakak berwajah cantik, bertubuh tinggi langsing. Sambil nunggu wawancara kami ngobrol2, ternyata dia sarjana ekonomi. Heran, yang dicari kan sarjana Psikologi. Wawancara berlangsung aman terkendali. Sampe2 bapak yang wawancarain ngomong dengan pastinya,
Saya ingin bagian personalia disini ditangani oleh anak psikologi. Saya ingin tahu sehebat apa kinerja kamu.
Wajar dong aku jadi berharap, tapi sampe seminggu aku gak juga dipanggil. Maka positiflah kalo kakak itu yang diterima. Pernah juga aku wawancara untuk sebuah perusahaan survey. Lagi2 aku gagal pada tes wawancara, teman dekatku yang berwajah cantik diterima. Gak masalah buatku karena aku mikir, mungkin belum rezeki. Pernah sekali aku main2 ke kantornya, pemandangan yang nampak adalah semua orang yang kerja di lapangan, yaitu yang melakukan survey, berwajah not bad. Dengan nilai rata2 8. Pahamlah aku apa yang terjadi. Gak semuanya memang perusahaan menetapkan kriteria pegawainya berwajah cantik. Tapi berapa persen sih itu? Aku sadar, kalo karyawan adalah image dari perusahaan. Jika ada pelamar yang sama nilainya dan sama baiknya, maka pasti fisik yang akan jadi bahan pertimbangan untuk menerima pelamar tersebut.

Bagi yang mempunyai skill, kreativitas, modal dan kesempatan akan lebih baik bagi mereka. Bisa buka usaha sendiri gak perlu nyari kerja kesana kemari. Namun aku yakin, gak sampe 10% dari seluruh sarjana yang ada mempunyai semua kelebihan itu. Lebih banyak yang mencari kerja daripada yang membuka lapangan kerja.

Dulu, abang sepupuku yang baru merintis usaha Event Organizer nanya sama aku,
Nan, ada teman nanan perempuan yang cantik
Aku mikir2 siapa ya temanku yang cantik dan kayanya berbakat buat kerja di EO, belum sampe kepikiran si abang nyambung lagi,
Gak pentinglah mesti sarjana, yang penting mau kerja apa aja dan "mau tandatangan diatas perut" untuk meng golkan proyek.
Tau kan artinya, pegawai yang mau melakukan apa aja untuk memenuhi tuntutan dari perusahaan, termasuk menumbalkan dirinya demi berhasilnya sebuah kerja sama. Aku yang sangat awam kala itu, cuma bengong. Lihat di perusahaan besar, lihat di bank, di hotel! Pegawai perempuannya rata2 cantik dan memiliki tubuh ideal. Bagi laki2 berwajah standar gak akan sesulit kaum hawa berwajah standar mencari kerja. Perempuan sering termarginalkan dengan stereotype yang tumbuh di masyarakat. Makanya perempuan berlomba2 jadi cantik, makanya perempuan takut tua, makanya perempuan rela diet mati2an, makanya perempuan rela mengumbar aurat, makanya perempuan  rela operasi plastik, makanya perempuan rela mengeluarkan budget jutaan demi sepotong baju dari perancang terkenal, makanya perempuan rela mengorbankan apa saja demi memenuhi tuntutan kecantikan itu. Perempuan cantik, harus terus menunjang kecantikannya agar selalu cantik, apalagi perempuan yang gak cantik, harus melakukan banyak hal agar terlihat sedikit cantik.

Tahun 2007 akhir, aku bekerja di sebuah perusahaan swasta bagian Personalia. Saat itu, perusahaan mencari pegawai untuk bagian sales dan staff admin. Maka kami buka lowongan di koran. Banyak berkas yang masuk, aku ikut menyeleksi untuk tes wawancara. Karena untuk staff admin yang dicari adalah perempuan, maka bapak2 yang ada disitu langsung ikut menyeleksi. Mereka mengabaikan suaraku, maka terpilihlah seorang cewek yang di foto kelihatan cantik. Pas hari wawancara, dia lebih cantik dari fotonya. Gambarannya, rambut panjang, wajah mulus, kulit sawo matang, tubuhnya seksi berisi, payudaranya gede dan bikin sirik. Aku yang ikut dalam proses wawancara gak sempat ngomong banyak, mungkin bapak2 itu terpesona dengan pemandangan indah di depan mereka. See? Aku ngerti, untuk bagian sales dan marketing yang menjual produk, resepsionis yang menjadi Front Office dari perusahaan, atau public relation yang membawa nama perusahaan keluar, menetapkan kriteria kecantikan dalam penerimaan karyawan. Aku juga memahami, untuk perusahaan hospitallity sekelas hotel bintang, memang diperlukan  karyawan bagiam operasional dengan penampilan fisik yang baik, memang begitulah standarnya. Tapi, untuk bagian back office, apakah hal itu juga penting? Untuk apa menerima seorang akuntan yang cantik tapi gak bisa menyusun neraca keuangan? Lebih baik menerima perempuan yang berwajah biasa tapi mahir menghitung pengeluaran perusahaan sampai pada hal2 kecil.

Mungkin ada teman2 yang protes dengan postinganku kali ini. Yang merasakan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja gak seperti itu. Atau seseorang yang berkarir mapan, dan tidak merasakan bahwa kecantikanlah faktor yang membuat mereka mendapatkan pekerjaan. Ya ya, aku juga gak bilang bahwa semua perusahaan begitu. Dari 100%, kira2 50% yang begitu. Masih protes? Lalu bilang postinganku gak ilmiah, gak pake penelitian kuantitatif, jadi aku gak bisa seenaknya menetapkan angka segitu. Okey, mau 50%, 40%, 10% atau bahkan 0,0001% pun perusahaan yang menetapkan keindahan fisik dalam syarat penerimaan karyawan, maka itu tetap ada kan. 0,0001% juga sebuah nilai. Menandakan bahwa ada yang berbuat, walaupun presentasinya kecil. Aku emang gak menulis berdasarkan penelitian lengkap, hanya berdasarkan penglihatan, pendengaran dan pengalaman belaka. Sekedar berbagi, membuka cakrawala dan menggambarkan bahwa ada bagian kecil dari masalah kehidupan yang terabaikan. Masalah yang sempat aku hadapi dan mungkin ada teman2 yang juga mengalaminya.

Lain kali, ada baiknya pemasang iklan lowongan  lebih spesifik membuat iklannya :
DICARI KARYAWAN PEREMPUAN, FORBIDDEN FOR UGLY DUCK!!!

Atau :
MOST WANTED : KARYAWAN PEREMPUAN UNTUK STAFF LEGAL, PENDIDIKAN TERAKHIR GAK PENTING, PENGUASAAN Ms. OFFICE GAK PENTING, YANG PENTING CANTIK, LANGSING, PUTIH, BERAMBUT PANJANG DAN SIAP MELAYANI BOS 24 JAM.

Senin, 18 Januari 2010

WEDDING INVITATION

Kesel banget hari ini.... Banyak kejadian yang bikin bete. Tapi yang paling bikin bete waktu tadi sore2 ke warung ujung rumah, terus si kakak yang jaga warung teriak, "NANAN, BERAPA BERAT BADANNYA SEKARANG? KOK JAUH KALI NAIKNYA?" Halah, kakak nya lebay....

Baiklah lupakan kakak yang bikin bete itu. Back to topic, WEDDING INVITATION ato undangan nikahan. Pada usia2 seperti sekarang ini, aku lagi gencar2nya nerima undangan pernikahan.... Baik teman smp, sma atau temen kuliah dan teman kerja. Emang katanya usia yang paling pas buat menikah ya seperti sekarang ini, 24, 25 atau 26 an lah..... Dulu, waktu baru tamat SMA, ada teman2 yang nikah muda, aku takjub nerima undangannya sambil mikir, apa gak terlalu cepat dia menikah. Bahkan beberapa diantara peserta pernikahan dini itu, banyak juga yang udah cerai. Jadi seumuran aku sekarang, statusnya single parent dengan 1 anak.

Sekarang ini, nerima undangan nikahan gak ngerasa aneh lagi. Wajar!!!! Umur udah cukup. Tapi, gak semua orang menemukan jodoh pada umur yang tepat kan??? Okeh, sebelum ke main idea, saya minta maaf yang sebesar2nya, seandainya setelah membaca postingan kali ini ada oknum2 yang merasa tersinggung. Sungguh, saya gak bermaksud menyindir atau menghina, hanya ingin berbagi tentang pikiran saya mengenai masalah yang nanti dibahas. Maaf sebelumnya, kulo nuwun  ya.....

Ada orang2 yang beruntung hidupnya, pada usia yang cukup, mempunyai pekerjaan yang baik dan menemukan jodoh yang tepat lalu hidup berbahagia selamanya. Membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Namun, gak sedikit juga orang2 yang pada usia mature, belum menemukan sosok yang layak menurutnya untuk dijadikan pendamping hidup. Mungkin semua orang akan mengernyitkan kening saat seseorang yang berusia 35 tahun, dengan status  single. Mungkin juga, mulut orang akan berkomentar : 

"Kenapa si A itu belum nikah ya? Seret jodoh! Kebanyakan pilih sih!"

"Ih, amit2 deh kalo jadi si B itu, teman2nya udah punya anak tiga, dia masih sibuk ngejar karir."

"Ya iyalah gak laku2, mana ada cowok yang berani deketin, cantik sih cantik, tapi judes." 

"Si C itu, karir melulu yang dikejar, akhirnya gak ada yang mau lagi sekarang. Makanya jangan ketinggian ngejar karir, cowok2 pada takut. Emang enak jadi perawan tua."

"Si D itu nunggu apa lagi sih? Umur udah tua, kerjaan udah ada. Pilih2 tebu dapat ampas nanti."


Jangan bohong, kadang kita juga mikir kaya gitu kan kalo ada tetangga, sodara, kenalan, teman kerja atau teman sekolah dulu yang belum juga nikah padahal usianya udah lebih dari cukup.

Nikah itu kan sunnah Rasul. Semua orang PASTI ingin menikah. Walupun diantara teman2ku yang udah menikah, rata2 bilang nikah itu gak enak, capek, belum lagi ekonomi sulit, suami banyak minta,  suami banyak tuntutan, banyak tingkah, bikin makan hati, tapi aku tetap ingin menikah, namun aku juga gak merasa dikejar apapun untuk cepat2 menikah lalu memaksakan diri untuk merasa siap, aku gak mau menyesal nantinya. Proses penantian itu aku jalani dengan sabar, gimana nanti ujungnya, sama siapa nanti akhirnya atau bahkan jika tidak ada nanti akhirnya, aku harus menyiapkan mental. Orang indonesia biasanya emang suka mengunderestimate seseorang yang berbeda, yang lain dari yang lain, yang melawan arus, yang menjalankan hidup di rel yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya, termasuk orang2 yang belum menikah pada usia mature. Coba tanya deh, sama orang2 yang ada disekeliling kita, yang masih single sampai usia yang kita anggap udah lewat jauh, dia pasti juga pengen nikah, pengen ngerasain bahagianya punya pasangan, pengen merasakan indahnya bercanda dengan anak. Tapi, kesempatan itu BELUM datang buat dia.

Aku punya teman, seorang kakak yang umurnya udah 37 tahun. Sampai sekarang dia masih single, dan belum pernah menikah. Aku ngeliat, dia menjalani hidup secara enjoy, gak pernah punya beban yang berlebihan untuk cepat2 nikah sehingga asal pilih cowok. Pernah aku menyelaminya, ingin tahu kenapa sampai sekarang dia belum memutuskan untuk menikah, jawaban dia ya biasa aja. Gak ada hal2 istimewa. Karena BELUM ketemu aja. Toh dia juga punya harapan untuk menikah, punya suami, punya anak, punya rumah sendiri. Dia gak pernah memupuskan impian itu. Dengan caranya dia menjalankan hidupnya, sampe kadang aku lupa kalo umurnya beda jauh dariku. Dia tetap becanda, tetap ketawa. Biasa aja!!! Palingan kalo ada temennya yang nikah, dia ketawa dan ngomong, "Kalah set lagi." Dia bilang, masa2 kritis akan ketakutan itu udah lewat jadi sekarang yang ada ya cuek aja. Emang kalo dia gak nikah,orang susah? Analisaku sih, dia takut hidup nya susah, bukan hanya hidupnya tapi hidup suami dan anak nya kelak. Pernah aku bilang, kan rezeki datangnya dari Tuhan kak. Tapi sekarang, di saat aku juga mengalami hal yang sama, ngerasa takut akan masa depanku kelak, aku mengerti. Dia gak ingin melibatkan orang lain jika kelak dia mengalami kesulitan, selama masih bisa ditanggungnya sendiri, maka dia akan tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Orang lain gak akan memahami cara dia berfikir, tapi tetap kita harus menghormati dan menghargainya. Menikah, Gak Menikah atau Belum Menikah, itu kan bukan kita yang berkehendak, ada Dzat yang lebih tahu, yang lebih faham dan lebih mampu menyelami ke sanubari kita, kapan kita benar2 siap untuk menikah. Hidup kan belum berakhir, masih banyak kesempatan untuk mencari, jika sampai batas akhir hidup, belum juga ditemukan, maka itu takdirNYA lah yang bekerja.

Gak hanya perempuan, laki2 juga ada kok yang BELUM MENIKAH sampai usia tua. Dari tadi aku pakai istilah belum, kenapa BELUM? Ya karena belum menjadi TIDAK. Seandainya sampai meninggal belum juga, baru lah akan menjadi tidak. Aku kenal seorang Bapak, yang udah tua dan belum menikah. Umurnya 51-an gitu lah. Dia tetap berdiri tegak di atas kakinya sendiri pada usia senja. Gak menyusahkan siapapun. Tugas2 rumah tangga, dia cari jalan keluar untuk mempermudah dirinya. Nyuci baju tinggal kirim ke laundry, makan tinggal catering aja. Malahan, dia mengabdikan hidup dengan menyekolahkan keponakan2nya sampe selesai kuliah dan bekerja. Yang hebatnya, dia gak pernah putus asa, dia tetap aja bilang, kalo dia pengen nikah, pengen punya istri, pengen mengadakan resepsi, pengen meletakkan cincin kawinnya dalam kotak perhiasan. Mungkin dia juga sudah lelah dengan hujatan, hinaan orang lain, baik yang dilakukan secara terang2an atau yang dilakukan di belakang punggungnya. Aku pernah mendengar langsung, sejawat Bapak itu menghina hidup yang beliau jalani. Aku diam aja waktu bapak itu menghina, tapi aku juga gak setuju dia bilang begitu. Itu kan masalah pribadi individu. Kita gak berhak memvonis seorang yang telat menikah itu dengan julukan2 menyakitkan. Siapa yang tahu apa yang tersimpan di kalbunya? Siapa juga yang bisa menebak jalan hidupnya gimana, kita juga belum tentu akan mendapatkan takdir yang lebih baik.

Sebulan yang lalu, ibuku menerima telepon dari seorang teman lama. Kemudian dia bilang Alhamdulillah sambil menangis terharu. Aku tanya, siapa yang telepon, ibu bilang teman SMA nya dulu. Berarti umurnya sama denga ibu, 49 tahun. Dia ngasih tau kalo dia baru aja menikah. Aku ingat banget, waktu ibu reunian di rumah kami, ibu cerita temannya itu belum pernah menikah, padahal dia gak jelek dan punya kerjaan tetap sebagai guru. Aku liat dia sambil bilang, kasian ya Bu, nasibnya jelek. Dan sekarang aku tahu, aku salah ngomong NASIBNYA JELEK. Kita masih boleh berusaha dan menunggu jodoh itu datang, seumur hidup kita.Nasib kita baik atau nggaknya, kita sendiri yang menentukan.

Jodoh datang atau nggak bukan kuasa kita sebagai manusia. Kita cukup berusaha dan berdoa. Biarlah Dia yang menentukan segalanya. Sebagai manusia, kita juga berhak untuk memilih. Menikah atau nggak, itu hak kita. Kadang, ada orang yang lebih merasa bahagia menjalani hidup tanpa pasangan. Dia bisa melakukan hal positif yang lain, dia menemukan lebih banyak kemudahan dari kesendiriannya. Itu PILIHAN. Kita yang punya pilihan berbeda, yang mendambakan hidup berpasangan dan mempunyai keluarga utuh, gak berhak menjudge orang lain yang mempunyai pilihan berbeda dengan kita. Kalau pun kita tahu, bahwa orang tersebut mempunyai pilihan untuk menikah, namun belum menemukan jodohnya, kita juga jangan buru2 memberikan label negatif padanya. Banyak, bahkan sangat banyak hal yang tak mampu kita selami dari individu lain. Kita gak akan pernah mengerti seseorang sampai ke lorong2 gelap hatinya. Karena itu, kita harus lebih menghargai perbedaan. Jika dulu kita pernah bergosip tentang kakak teman kita yang belum menikah juga, sementara kakak kita sudah punya anak empat, mulai sekarang berhentilah! Kita belum tahu apa kelak yang akan terjadi pada kita, kita belum tahu takdir apa yang ditetapkan Tuhan untuk kita. Mengertilah dengan orang2 yang punya pilihan berbeda untuk hidupnya. Dan hargailah seseorang yang tidak seberuntung kita dalam menemukan pasangan hidup.

Dan bagi umatNya, yang sampai usia dewasa belum juga bisa memberikan WEDDING INVITATION pada orang lain, tetap SEMANGAT ya.... Hidup gak akan berakhir hanya karena kita BELUM menemukan pasangan, hidup juga belum tentu indah bagi teman2 kita yang sudah bertemu dengan pasangannya dan membentuk keluarga yang utuh. Siapa yang tahu bahwa teman kita yang udah nikah merasa iri melihat kita yang masih menjalani hidup secara bebas, tanpa perlu memikirkan urusan susu untuk anak atau kado untuk ulang tahun mertua :)

Dedicate to : 
Kakak ku yang masih mencari, mendapatkan lalu ingin pergi lagi... Hahahaa, khusus untukmu kakak, postinganku kali ini.....

Minggu, 17 Januari 2010

CERITA BIASA AJA


Ehm... Jumat kemaren aku nonton pilem "SUSTER KERAMAS"... Lumayan lah walaupun gak bikin deg2an banget. Sepanjang sejarah aral melintang di dunia horor movie, ada beberapa pilem yang menurutku benar2 seram, sampe termimpi2 dan berteriak kencang di bioskop; BANGSAL 13 (tau kan karakter suster Frida yang berwajah datar, itu hantu yang paling menakutkan); POCONG 2 (Revalina yang ketimpa pocong, unforgetten moment); D REAL POCONG (Ini benar2 seram menurutku, nonton berdua sama Nanien, dan kami berteriak sepanjang film berlangsung). Kayanya itu aja, kalo yang lain standar. Ada yang mau rekom pilem lain????

Secara kebetulan pada hari Jumat itu, dari pagi udah banyak dengerin cerita seram, baik kejadian di kantor atau di asrama Bekasi dulu. Tapi gak usah dibahas ya, bikin takut.

Jadi, pulang nonton aku nganterin Fitra pulang dulu. Sepanjang jalan kami cerita yang seram2, dan pas di Jalan Nangka, tiba2 kami mencium bau kemenyan yang menyengat banget. Dan kami langsung terdiam....

REVIEW... cerita2 seram, jadi ingat waktu masih brondong, jaman SMA. Aku punya teman... ah ah ah, teman sepermainan... Namanya... aduh, sebutin gak ya, kan kasian oknum tersebut, rumahnya jadi tercemar. Okeh, nama samaran aja, Adin... Teman dekatku waktu SMA, selain satu kelas, satu bangku, rumah kami juga dekat. Kalo naek motor cuma 5 menit tapi kalo jalan kaki dengan kecepatan jalanku yang cuma 1 cm / 1 menit, bisa ditempuh dalam waktu sejam. Aku sering maen ke rumah Adin, bisa dibilang sering banget. Karena di rumah Adin banyak buku, service antar jemput gratis dan yang paling penting, kalo mau makan tinggal ambil aja, stock makanannya banyak. Tapi, rumah Adin itu belakangnya kuburan. Gak keliatan kalo kita cuma di dalam rumah aja, tapi kalo udah maen ke halaman belakang, maka cukup jelaslah lah pemandangan itu.

Rumah Adin biasa aja, tapi karena lokasinya dekat kuburan jadi horor. Okey, cerita2 standar yang pernah dia bilang sama aku. Ada anak kecil kaya tuyul lari2 di rumahnya, pas dikejar2 tu anak ilang  begitu aja. Atau waktu tengah malam, ada suara grasa grusu di belakang rumahnya, pas didatengin, ada tali pocong (merinding!). Dan yang paling bikin seram adalah waktu maghrib2. Adin cerita kaya ada rombongan pengantar jenazah gitu lewat rumahnya. Karena gak lazim lewat maghrib2, keluarga mereka keluar buat ngeliat, dan yang terlihat adalah serombongan pengantar jenazah yang gak napak tanah kakinya. SMUANYA... Iiiiihhhh, aku merinding kalo ingat cerita itu. sekarang aja jadi liat2 ke belakang neh...

Kalo aku sih, gak pernah ngalamin kejadian yang terlalu seram. Cuma sekali pernah, waktu aku lagi di kamarnya sendirian tiba2 aja hawa kamarnya panas banget, padahal kipas angin nya hidup., terus ada yang ngetuk2 kaca kamarnya. Sumpah, sekarang seluruh bulu2 di tubuhku berdiri. Aku takuuuuttttt.....

Satu lagi sebelum lupa, jadi gang masuk rumah Adin itu simpang empat. Gak terhitung lagi jumlah kecelakaan yang pernah kejadian disitu. Pernah malam2 aku ke rumahnya, kepepet tugas banget, padahal biasanya aku gak berani ke situ malam2. Pas mau pulang, Adin cerita, kalo sekarang daerah rumah dia lagi sepi, karena baru ada kecelakaan maut yang merenggut nyawa seorang remaja laki2. Kejadiannya tengah malam, malam apa gitu, aku juga udah lupa. Tapi, katanya, waktu menguburkan, masyarakat lupa buka tali kain kafannya.  Jadi lah, sering ada yang ngeliat anak itu di jalan atau mendengarkan  ulangan kejadian kecelakaan itu pas tiap malam kejadian. Kata Adin, warga lagi nunggu waktu tepat, buat bongkar kuburan en ngelepasinnya. Dan malam itu, Adin sukses membuat aku menjadi bodoh, dengan minta antarin pulang ma dia, terus sampe rumah, aku bawa pembantu buat anterin Adin pulang lagi.....

Jumat, 15 Januari 2010

BUNGA TIDUR

Tahun2 cepat berlalu ya. Gak terasa udah mau masuk minggu ke-3 Januari  2010. Bentar lagi umur aku 26 tahun. Ih, cepat banget ya. Kalo aku misalnya, bisa hidup dengan menghitung rata2 umur manusia pada umumnya, yaitu 60 tahun, masa hidupku cuma tinggal 46 tahun. Itu kalo panjang umur, tapi kalo gak? IH... sekarang ini aku takut mati. Mungkin karena ibadahku yang lagi kacau balau. Pernah aku bilang sama ibu, aku pengen nikah sekarang, karena aku gak pengen punya anak piatu. Ibu heran, terus aku jelaskan, kalo aku nikah sekarang, mungkin umur 27 aku baru punya anak. Seandainya aku meninggal umur 50 tahun, anakku baru berumur 20an, dia bakal kekurangan kasih sayang dari ibunya, aku gak mau itu terjadi. Dan saat itu, ibu memandangku dengan nista, lalu ngomong, "Kenapa gak kawin waktu tamat SD aja." Ah, orang memang sulit mengerti isi hatiku. Kemarin juga gitu, waktu mau ke Dumai, aku mengalami patologi jiwa, takut mati. Kami berangkat jam 9 malam, dengan kondisi cuaca hujan deras, jalanan yang dikuasai oleh mobil2 besar dan kerusakan permanent di jalan lintas pekanbaru-dumai dibeberapa titik, lengkap sudah penderitaanku. Sebelum berangkat aku telepon kabogohku. Selain pamit, aku ngasi tau nomor pin atm ku, maksudnya atm ku yang isi nya hasil transferan dia semua, heheheee..... Dia heran ngapain aku kasih tau pin segala, dengan nelangsanya aku menjawab, kalo terjadi apa2 nanti dijalan denganku,  dan kalau terjadi hal yang terburuk, dia harus ngambil semua duit yang ada di ditu. Sumpah, dia ngakak abis dan langsung bilang, "BODOH!" dengan nada puas.


Lho, kenapa aku jadi curhat tentang isi otakku yang nista itu. Baiklah kembali ke topik di atas, Bunga Tidur atau Mimpi. Pasti semua orang pernah mengalaminya. Aku juga gitu. Bahkan kalo aku mau, mimpinya bisa aku sambung2. Jadi gini, tubuh kita kan punya batas waktu maksimal buat tidur. Biasanya kalo tubuh udah gak pengen tidur, tapi rasa malas menguasai sehingga memaksakan diri untuk tidur, mimpi nya bakal aneh2. lucu2. Seram2. dan sambung menyambung.



Tapi, believe it or not, mimpi yang terjadi pada saat tidur benar2 lagi nyenyak, sering  kali merupakan pertanda akan munculnya suatu kejadian. Mimpiku pada jam2 tidur nyenyak, sering kejadian. dan kejadiannya biasanya terbalik. Yang paling melekat dalam ingatanku ada empat. 

MIMPI

Aku nikah, dengan cowok yang aku gak kenal. Setelah ijab kabul, kami duduk di pelaminan. Keluarga ku berdirinya menjauh, yang ada di dekatku cuma Bang Dedi, kakak iparku. Gak lama, suami ku  itu pergi begitu aja meninggalkan pelaminan, tanpa ada kesan dan pesan. Aku diam aja tanpa merasa kehilangan, yang manggil justru Bang Dedi. Bang Dedi mengejar suami ku itu, tapi dia seperti menghilang dalam gelap.



KEJADIAN
Pagi2 waktu bangun tidur, ibu ngasih tau kalo keponakan Bang Dedi, anak kakaknya, meninggal di Jakarta atau Bandung gitu lah, tempat dia kuliah. Aku dan ibu langsung aja menuju ke Jl. Pepaya, ke rumah duka. Di sana udah rame teman2 SMA nya dulu. Cerita kematiannya simpang siur, ada yang bilang, kecelakaan, mabuk, bahkan ada yang bilang abis make narkoba terus kecelakaan ditabrak mobil. Okeh, itu gak penting. Kami lalu masuk ke dalam. Mama nya anak yang meninggal itu keliatan shock, walaupun gak sampe pingsan atau histeris. Dia cerita anaknya itu pintar, mahasiswa undangan dari universitas favorite di Jawa sana. Terus, dia menunjukkan foto ny. WOW... aku merinding disco, itu cowok yang semalam ada di mimpiku. Yang jadi suamiku. Rambutnya keribo dan badannya kecil. Aku ingat banget. Pantesan yang ngejar2 dia dalam mimpi itu Bang Dedi, mungkin waktu aku mimpi, kejadiannya lagi berlangsung. Karena waktunya hampir bersamaan, tengah malam.


MIMPI
Tahun 2009 kemarin aku ikut ujian CPNS. Aku lulus, namaku keluar sebagai salah satu peserta yang lulus. Aku bangga dan memberitahukan pada ayah ibu yang lagsung terharu mendengarnya.


KENYATAAN
Tahun 2009 aku ikut ujian CPNS, waktu pengumuman, namaku gak keluar di koran, artinya aku gak lulus. Waktu baca koran, aku ketawa dan bangga, karena aku mimpi nya pas malam sebelum pengumuman nya keluar. Jadi aku udah yakin aku gak bakal lulus. KEREN!!!

MIMPI
Temenku yang baru nikah, pengen cepat hamil. Pas dia ngecek pake test pack muncul garis dua, artinya positif. Dia langsung kasih tau aku. Terus suaminya. Suaminya senang banget dan langsung menggendong istrinya sambil mutar2 gitu.

KENYATAAN
Paginya, temen ku haid....
Heheee, aku langsung sms dia terus bilang, aku mimpi dia hamil, mudah2an benar. Dia bilang, amiiiin, tapi mungkin belum sekarang karena dia lagi haid.


MIMPI
Temanku kuliah hamil. Suaminya temenku juga waktu KKN. Pas istrinya melahirkan dia telepon aku, ngasih tau kalo anaknya lahir cewek. Aku bilang selamat ya terus tanya anaknya mirip siapa.


KENYATAAN
Teman kuliahku, yang suaminya teman KKN ku baru aja nikah. istrinya hamil dan lagi nunggu hari buat melahirkan. Pas lahir anaknya cowok. Dia sms aku dan bilang benar anaknya cowok. 
Aku emang sms dia abis mengalami mimpi itu, aku bilang, anaknya yang lahir nanti cowok, karena aku mimpi anaknya cewek. Kira2 mimpi itu sebulan sebelum dia punya anak.


Tapi gak semua juga mimpi yang menunjukkan adanya suatu kejadian. Kadang, mimpi benar2  hanya bunga tidur. Aku pernah mimpi digigit ular, katanya bakalan dapat jodoh, tapi ditunggu2 berbulan2, gak juga muncul cowoknya. Pernah juga aku mimpi, ada pesta di rumah ku. Menurut orang2 jaman dulu, itu mimpi gak bagus, karena bakalan ada keluarga yang tertimpa musibah. Aku udah deg2an, stres dan takut. Tapi Alhamdulillah, gak ada kejadian mengerikan yang menimpa orang2 terdekatku.


Oh ya, ada satu lagi. Tahun 2005an aku pernah memulai hubungan dengan seorang cowok. Putus nyambung udah ratusan kali terjadi, tapi kami tetap berusaha menjalaninya. Tahun 2007 an, aku putus sama dia. Benar2 putus dan gak ada nyambung2 lagi. Aku jadi ingat mimpiku, dalam mimpi aku didatangi bapak2 tua pake baju putih dengan tubuh bersinar2. Dia bilang, kalo si M (cowokku waktu itu) bukan jodohku. Jodohku nanti adalah seseorang dengan inisial.... (beneran lupa antara F, D, M, N, Z, H) terus si bapak ngasi liat gambarnya. Keren banget calon jodohku itu, kulitnya putih, rambutnya cepak agak ikal, pake kacamata, badannya agak gendut. Aku gak percaya sama mimpi itu, sampai akhirnya aku beneran putus sama si M aku jadi teringat2 mimpi itu lagi. Awal 2008 aku dekat sama seorang cowok, inisialnya R. Tanpa komitmen jadian kami menjalani hubungan sampai sekarang, yang penting kami tahu kalo kami saling sayang  dan sama2 punya tujuan untuk serius. Ciri2 fisik kabogoh ku,  kulitnya hitam, rambut semigondrong lurus, gak pake kacamata,dan kurus. Aku juga gak tau, apakah beneran mimpi itu pertanda, apakah nanti akhirnya kabogoh akan menjadi seseorang yang terakhir, yang jelas aku menjalani sambil berusaha sebaik2nya.


Jadi, mimpi itu bukan merupakan petunjuk dari Tuhan yang harus benar2 kita percaya. Banyak caraNya untuk memberikan petunjuk kepada kita, mimpi hanya salah satunya. Suatu saat, jika kita bermimpi buruk, anggap aja itu suatu peringatan agar kita lebih waspada.

SI KAKAK NAIK ODONG-ODONG

Kamis malam jumat area rumah mamak... dari tadi bahas masalah pengabdi setan sama si bapak. Mamak pengen ngajak si bapak nonton pengabdi se...