KATARSIS

Aku takut...

Saat kau telah memilihku, aku malah mengecewakanmu.

Aku takut...

Saat kau yakin padaku, aku tak bisa membahagiakanmu.

Aku takut...

Saat kau berjuang untuk hidupku, aku malah melukaimu dengan segala kealpaanku.

Aku takut...

Saat kau lelah menjalani harimu, aku jauh darimu, terlalu jauh bahkan sekedar menyediakan makanan untukmu pun aku tak mampu.

Sungguh aku takut...

Kau salah karena telah memilihku, kecewa karena telah mempertahankanku dan terluka saat kau memilikiku.

Aku takut aku tak layak untuk mendampingimu, aku takut aku tak pantas untuk kau perjuangkan, aku takut akan melihat penyesalan di wajah mu saat kau menyadari bahwa aku tak sesuai dengan impian mu.

MENUJU KEGELAPAN

Warna kulitku berubah drastis... Dulu warnanya cokelat muda sekarang kulitku MENUJU KEGELAPAN, warnanya jadi hitam... Terbakar matahari, terkontaminasi ultraviolet, mengikis keindahan alami kulitku.

Kota Dumai memang membakar. Keliling2 selama beberapa hari di Dumai, kulitku mengalami metamarfosa, panas Dumai emang beda. Panas laut, panas debu, panas minyak, bikin kulit kering dan pecah2....

Mungkin karena aku emang ada bakat hitam ya... Ayah hitam, andy hitam, kak kiki hitam,tentu aja aku jadi rentan menghitam....

Perlu di lulur ne badanku sekarang, jangan sampe aku berubah status jadi WANITA BERBADAN GELAP. Minimal warna nya jangan hitam lah, cukup cokelat tua aja. Masih bisa di klasifikasikan dalam warna kulit orang Indonesia. Mudah2an lulur yg akan aku beli, punya zat2 whitening tingkat tinggi...

WANITA

Pernah nonton film bokep gak?? Kalo belum,perlu juga sesekali dilihat. Jangan hanya satu, coba lihat 5 film sekaligus. Lupakan adegan2 yg perlu di sensor,tp lihatlah gimana film2 itu mengeksploitasi pemeran wanitanya.

Sebagai cewek,aku kadang kasian liat cewek yang ada d bokep itu. Mukanya, badannya,alat vitalnya, semua di sorot habis. Kalo yg cowok,paling punggung atw bagian2 kecil tubuhnya aja.

Sahabatku sesama wanita,hal seperti itu terjadi karena kita ini merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah. Aku bahagia karena aku wanita. Makhluk yang lebih banyak merasakan daripada memikirkan.

Kita lah yang harusnya menjaga diri kita. Hargai diri kita sebagaimana mestinya. Tutuplah bagian2 tubuh yang memang seharusnya ditutup. Jangan mau jadi penyebab laki2 berdosa.

Agama saja meletakkan wanita pada tempat yang mulia,yang harus dijaga kehormatannya. TUHAN mengamanatkan kita melakukan tugas mulia, menjadi media bagi proses terciptanya seorang makhluk kemudian menghirup udara di dunia. Kita pula lah yg wajib memberikan makanan pertama bagi makhluk itu. Makanan terbaik dengan gizi yang paling paripurna. Thanks God, tubuh kita lah yang memproduksi makanan itu.

Wanita,menjadi lambang bagaimana moral suatu bangsa. Jangan mau menjadi korban eksploitasi oleh siapapun. Untuk apa kita memakai rok yang hanya menutupi sedikit kaki bagian atas,saat ada laki2 yang melihatnya lalu merasakan gairah, sudah berapa banyak dosa kita bertambah.

Tubuh kita memang menggoda,tapi jangan menjadikannya sebagai alat penggoda laki2.

Suara kita memang merdu,tapi jangan sampai menyuarakan hal2 tabu.

Wanita,makhluk yang mempunyai samudra maaf dihatinya, mempunyai ladang kebaikan d kalbunya, mempunyai kekuatan tak terhingga di tubuhnya yang tampak tak berdaya. Wanita,sosok yang penuh kasih sayang, yang ikhlas mengorbankan nyawa untuk hidup orang2 yang dicintanya, yang rela kelaparan agar anak2nya bisa tetap makan, yang menangis saat dirinya disakiti namun menjadi bengis saat keluarganya diusik. Seperti inilah seharusnya kita, wanita. Jangan menjadi iblis saat kita bisa menjadi peri. Jangan menjadi sumber dosa, jangan menjadi sungai maksiat. Jangan mau kaum kita menjadi penghuni sebagian besar neraka.

Wanita itu kita. Yang ALLAH SWT muliakan, yang Nabi Muhammad hargai. Kita, bisa membuat hitam menjadi putih, bisa merubah baik menjadi picik. Kita, bisa menjelma menjadi ular,yang meliuk saat mendengarkan lagu, namun mengeluarkan bisa ketika melihat mangsa.

Wanita,bisa merubah cinta menjadi nista. Makhluk maha, namun kadang malah kita yang membuat diri kita hina. Wanita, senyumnya maut, kerlingnya racun, tubuhnya candu.

Jangan merasa bangga karena orang lain kagum saat melihat bentuk tubuh kita,itu hanya cobaan. Jangan jadikan anugrah itu sebagai musibah bagi orang lain.

Kita ini indah, jadikan itu sebagai berkah yang harus dijaga.

C I N T A

Cinta adalah kata yang selalu diukir oleh pujangga
Cinta ada di mana-mana
Cinta bisa dirasakan kapan saja
Saat terluka atau tertawa
Saat bahagia atau derita

Kita adalah manusia yang selalu ingin hidup dikelilingi cinta
Hubungan dimulai atas nama cinta
Kemudian berlanjut ke tahap yang lebih serius karena cinta
Seandainya berakhir pun, cinta juga lah penyebabnya

Cinta.... cinta.... cinta......
Kata yang tak pernah habis terucap
Kadang bersuara mesra
Namun kadang terdengar menakutkan

Saat berikrar sehidup semati atas nama cinta
Saat pertama kali melangkah ke gerbang pernikahan
Saat mulai menapaki kehidupan yang sebenarnya

Cinta saja tak cukup untuk bertahan....


Banyak hal yang akan menggerus rasa cinta secara perlahan
Banyak perbedaan yang akan menumbuhkan kebencian

Akhirnya terpaksa bertahan bersama, tanpa cinta
Atau malah terpisah karena tak ada lagi cinta

Cinta, suatu rasa yang bisa saja setajam pisau
Namun pada suatu masa, selembut salju

Kadang pahit seperti jamu
Kadang bisa semanis madu


Cinta itu tergantung kita

Sungguh, saat dia mulai mekar berikan pupuk dan air
Agar dia tumbuh subur, indah dan wangi
Ketika cinta terasa sangat indah, jagalah dia
Kita yang harus menjaga agar cinta tidak layu dan membusuk

Hubungan dua anak manusia yang berdiri atas nama cinta
adalah keterikatan yang sangat rentan
Rentan akan godaan, rentan akan kebencian, rentan akan perpisahan

Sekali lagi,
Saat masa-masa berat datang
Saat amarah membakar
Pejamkan mata sejenak
Ukirlah wajah "sang cinta" dalam benak kita
Ukirlah senyuman di bibirnya
Dan ukir pula tangisan di matanya
Ingatlah saat terbaik bersama "sang cinta"
Saat pertama kali hati kita disentuhnya
Saat pertama kali tangan kita digenggamnya
Saat pertama kali kita lebur dalam pelukannya

Jika hati yang panas belum terasa dingin

Ambil nafas sejenak, pejamkan mata dengan tenang
Ingatlah, saat kita menyakitinya
Saat dia menangis karena kita
Saat dia berkorban untuk kita
Saat dia menyerahkan apapun yang dia punya demi melihat seulas senyum di wajah kita
Saat dia terbakar terik nya matahari demi memenuhi keinginan kita
Saat dia membeku dihembus angin malam  demi menepati janji pada kita

Saat kita,
Menyebabkan peluhnya menetes,
Menyebabkan hatinya menangis
Menyebabkan tubuhnya terluka
Menyebabkan waktunya tak lagi cukup untuk dirinya sendiri

Apakah kita sudah lupa....
Saat sakit dia ikhlas merawat kita
Saat lelah dia memijit pelan bahu kita
Saat sedih dia mengusap luka hati kita

Ingat kah masa saat dia membuat kita tertawa?
Ingat kah masa saat dia menuruti apapun keinginan kita?
Ingat kah masa saat dia tersenyum dalam bahagia kita,
menangis dalam kesedihan kita, mengerti semua yang kita rasakan.

Cinta itu bunga
Perlu pupuk dan air untuk hidup
Kemudian tumbuh, berkembang dengan indah
Saat kita mulai lupa menyiramnya
Jangan berharap pada sang hujan
Saat kita mulai malas memberikan pupuk padanya
Jangan biarkan ada orang lain yang akan melakukannya

Cinta antara kau dan aku
Kau dan dia
Dia dan mereka
Mereka dan kita
Kita dan kami
Kami dan kau
Cinta yang harus selalu dijaga
Mungkin cinta tak kan selamanya tumbuh subur
Saat dia mulai layu, bergegaslah beri pupuk agar dia tak mati
Saat dia telah kering, segeralah beri air agar dia segar kembali
Namun saat dia terlanjur mati,
Jangan tergesa mengganti dengan "cinta" yang lain,
Rawatlah kembali bunga yang sama
Jangan memaksa untuk bisa indah seperti sebelumnya
Namun, tetap saja bisa membuat kita bahagia saat melihatnya, 
Nyaman bila berada di sisinya,
Bangga karena dapat menjaganya,
Dan bahagia karena telah memilikinya.

Jangan pernah lepaskan "sang cinta" yang telah kita genggam
Biarkan dia merasa lapang dalam genggaman kita
Biarkan dia dengan dirinya
Dan kita dengan diri kita

Saat dia berbuat salah sekali,
Pastikan seribu kebaikannya tersimpan rapi dalam memory kita
Ingat lah itu, agar kita bisa tetap menatapnya dengan senyuman.


CINTA ITU BERBAGI, CINTA ITU TOLERANSI, CINTA ITU MATERI

BUKAN HANYA SEKEDAR MEMINTA, BUKAN HANYA SEKEDAR MEMBERI, DAN BUKAN HANYA SEKEDAR NAFSU BADANI

Saat kita tersesat di tengah hutan rimba. Mungkin kita perlu kompas untuk menunjukkan arah. Mungkin kita perlu makan untuk tetap bertahan hidup. Mungkin kita perlu alat komunikasi untuk meminta pertolongan. Mungkin semuanya ada. Tapi  yang terpenting, kita perlu "sang cinta" untuk menjadi terang dalam kegelapan yang kita rasakan. Untuk menjadi cahaya yang membantu kita mencari jalan keluar. Dan yang menjadi udara untuk menyambung nafas hidup kita.


SMUPEG JAPAN

Orang2 sering bilang, masa paling indah adalah masa SMA. Betul sekali!!!!!

Masa SMA adalah masa dimana kita masih dimaklumi melakukan kenakalan. Melanggar aturan. Masa yang bebas. Bebas dari segala beban kehidupan. Tahunya cuma main dan bersenang2. Apalagi zaman aku SMA dulu, kemajuan tekhnologi belum seperti sekarang, kesempatan untuk bersosialisasi banyak. Pikiran hanya tertuju pada belajar, ngumpul sama teman2, ketawa2. BAHAGIA. Anak sekarang kayanya udah merasa cukup dengan handphone sebiji terus tenggelam dalam dunianya sendiri............

SMA ku dulu, SMU PGRI, biasa disingkat SMUPEGJAPAN (SMU PGRI JAlan PANdan), cukup terkenal di kalangan murid2nya sendiri. Hehehehee...... Sekolah swasta, yang mengutamakan kedisiplinan di atas segalanya. Pakaian harus rapi, lengkap dan bagi cewek, kaus kaki harus sampe ke bawah lutut, kaya pemain bola. Tiap hari di razia. Saat itu, karena aku pakai jilbab, aku gak merasa was2 pake kaus kaki pendek banget dengan gambar Power Rangers. Biasanya aku luput dari pemeriksaan. Ternyata, malang gak dapat di tolak, suatu hari aku kena razia. Kaos kaki power rangers ku ditangkap, kemudian menghilang di telan bumi. Dia tak pernah kembali. Kesalahan ku makin berat, waktu ibu guru menyibak (halah, bahasanya....... menyibak, gak ketemu kata lain yang pas) jilbab ku, dan terlihatlah dasi ku, yang sengaja aku gulung2 sampe pendek banget, terus di ujung nya ada gambar Crayon Sinchan. Makin murka lah beliau..... Nasib.... Aku kehilangan sepasang kaos kaki power rangers. Tapi tidak ada yang tahu, di rumah aku masih punya sepasang kaos kaki power rangers............

Peraturan di sekolah ku saat itu, untuk anak kelas 1 dan kelas 2, tiap catur wulan kelasnya di acak sesuai nilai. Jadi gak ada kesempatan buat akrab ma teman2. Baru 4 bulan, udah di aduk lagi. Nilai ku seperti kurva tak beraturan. Kadang bagus banget, kadang jelek banget. Tergantung hati dan perasaan... 

Kelas I cawu 1, 1.4 nilainya bagus, pindah ke 1.2, nilainya masih bagus, pindah lagi ke 1.1, nilai langsung hancur. Ranking 43 dari 44 siswa. Hahahahah.... emak ku stress memikirkan anaknya ini. Langsung turun ke kelas 2.3, karena senang riang di kelas itu, nilaiku naik, pindah ke kelas 2.2. Tetap merasa senang riang , naik lagi ke kelas 2.1. Menjelang naik kelas 3, wali kelas nanya, mau pilih kelas IPA ato IPS, dengan mantap aku pilih IPS. Wali kelas ku ikhlas, mungkin dia merasa aku gak cukup layak di kelas IPA.

Terdamparlah aku di kelas 3 IPS 1. Kelas biasa, murid2nya biasa. Nilai anak2nya juga biasa. Sebagai makhluk yang sangat tidak terkenal di sekolah, aku menjalani hidup di kelas 3 dengan bahagia. Karena udah gak ada lagi cerita kelas nya di rolling, selama setahun tetap ada di situ. Jadi anak IPS itu membahagiakan. Lihatlah muka anak IPA kalo lagi jam istirahat, berkerut2, ditekuk, sibuk mikirin rumus mungkin. Anak IPS, mana ada mikirin rumus, matematika aja cuma 1 jam seminggu. Hasilnya, guru matematika sering kali diabaikan. Anak IPS sering menjadi korban ketidak adilan yang menyenangkan. Kalo misalnya pelajarannya sama dengan anak IPA dan gurunya gak datang satu, pasti guru yang ada akan masuk ke kelas IPA, membiarkan anak IPS bersuka cita karena jam pelajaran kosong. Itu sering terjadi. Dan saat jam kosong, yang terjadi di IPS 1 adalah....................



dan ini.......................



serta ini.......................................


 

Mana ada dalam kamus kelas kami belajar sendiri saat guru nya gak ada. Anak2 malah lebih leluasa berlarian ke sana kemari, mondar mandir, berdiri dan melakukan hobi masing2.....................




Belajar? Itu gak terlalu penting. Yang penting itu nilai ulangan bagus. Apa gunanya aku duduk di sebelah Nia, di belakang Indah, di depan Vince kalo ulangan pun aku harus susah payah menghafal. Teman2 di sekelilingku suka berbagi. Kalo ulangan antropologi, jangan di tanya, Nia itu ahlinya. Dengan kacamata nya yang tebal dan wajah yang terkesan pintar, pasti guru gak akan nyangka dia menyalin semua jawabannya dari buku. Tanpa ragu dan tanpa segan, Nia meletakkan catatan di laci meja. Wajah nya polos, seolah dia gak melakukan perbuatan kriminal itu. Aku  tinggal nunggu aja jawaban Nia, terus aku salin abis2an. Kalo Nia lagi gak bisa, ada Vince, dia punya keahlian yang sama dengan Nia. Setelah beres, tingal di sebarkan jawabannya ke anak2 depan.

Semua orang tentu punya kecendrungan yang berbeda dalam belajar. Ada yang suka Antropologi, Ekonomi, Tata Negara, Sejarah. Aku gak cendrung kemana2. Gak ada pelajaran yang sangat aku kuasai. Tapi yang paling sulit adalah Tata Negara, aku gak pernah ngerti sedikitpun tentang mata pelajaran satu ini. Yang lain masih bisalah, kalo Tata Negara, aku minta ampun sama Tuhan dan minta tolong sama Indah. Dia suka pelajaran itu. Jadi, waktu ujian sebelum EBTANAS dulu, pas ujian Tata Negara, anak2 satu kelas (bener2 semuanya ) tinggal nunggu jawaban Indah. Kenapa bisa gitu dulu ya? Mungkin pengawasnya keluar lama. Jadi kami tinggal bilang..............

"Nomor satu apa Ndah?"

Indah menjawab lantang.............. 

"A" begitu seterusnya. Sampe guru datang. Kami pura2 konsentrasi ngerjain sendiri.

Aku sebagai anak yang baik, pendiam, duduk di belakang. Di kursi nomor 4. Padahal aku begitu baik dan pendiam, entah mengapa, wali kelas tiba2 memindahkanku ke depan. Pas di depan meja guru.

"Rinanda, kamu pindah ke depan ya. Kalo kamu tetap disitu, kamu cuma jadi biang ribut."

Astaghfirullah, fitnah yang keji. Aku menuruti perintah bu Guru, pindah duduk ke depan, menemani Afif yang selama ini menduda. Dan entah kenapa, banyak guru yang sirik sama aku. Terutama guru Ekonomi/Akuntansi. Dendam apa ya ibu itu? Dia mengucilkanku. Kata2nya selalu menyakitkan......

Gini omongannya.................

"Kalo kamu mau keluar, pintu terbuka lebar."

Aku lupa apa reaksiku saat itu. Seharusnya aku langsung ngasah parang di depan ibu guru ekonomi itu, agar dia takut dan meralat ucapannya. 

Lain waktu, pas aku duduk berdua Kulin di belakang, dia ngomong dengan pedas.......................

"Marlini, kalo kamu duduk sama orang baik, maka baik lah kamu jadinya. Kalo kamu duduk sama Rinanda....."

Gak sampai hati meneruskannya. Saat itu, aku pengen punya samurai dan membuka samurai itu secara perlahan, lalu meletakkannya pas di muka ibu itu.

Mungkin masa itu memang masa2 yang berat dalam karirku sebagai pelajar baik. Lagi2 aku bermasalah dengan orang yang sama. Aku di panggil wali kelas, terus ibu itu bilang...........

"Ibu Ekonomi gak mau ngajar di kelas kita sebelum kamu minta maaf. Jadi kamu boleh pilih, mau minta maaf atau gak masuk sampai ujian akhir di pelajaran dia."

Ah, dilema yang berat. Padahal waktu itu, hanya terjadi kesalah pahaman. Ibu ekonomi nuduh aku makan kuaci. Ya betul, aku emang makan kuaci pas dia ngajar, tapi anak2 lain juga sama. Sekelas makan kuaci. Kenapa hanya aku yang dipojokkan. Karena aku gak suka menyusahkan anak2 sekelas, yang mungkin merindukan kehadiran ibu itu, aku menjawab dengan tenang....

"Baiklah Bu, saya gak masuk sampai ujian akhir daripada harus minta maaf."

Saat itu aku ngerasa keren udah berhasil membangkang ke guru. Pas aku masuk, anak2 sibuk nanyain, dan mereka pun mendukung keputusanku. Sampe2  Edwin, mantan ketua kelas yang mengundurkan diri dari jabatannya tak lama setelah dia dilantik, dengan tegas bilang....

"Tenang aja Ndut, nanti kami ganti2an nemenin di kantin belakang ya."

Aku terharu. Merasa anak2 begitu baik padaku. Alhamudulillah, sampe akhir masa sekolah GAK ADA SATUPUN MAKHLUK HIDUP DARI 3 IPS1 yang muncul menemaniku. Mungkin itu lah takdirku. Setelah mengalami perang dengan ibu ekonomi, aku gak nyangka dia masih ikhlas ngasi aku nilai 6. Kirain bakal di merahin. Sampe akhir masa sekolah, aku gak bertegur sapa dengan ibu itu. Sebenarnya waktu selesai sekolah, ibu menganjurkanku ambil jurusan FKIP, ibu mau aku jadi guru. Aku sebenarnya mau menjadi anak yang berbudi pekerti tinggi dan menuruti nasehat orang tua, tapi mengingat kelakuan ku sendiri, aku menolak anjuran ibu. Gimana kalo nanti aku ketemu murid yang seperti aku, wah.... aku pasti gak tahan untuk gak ngajak perang. Tidak Ibu, aku akan memilih langkah ku sendiri.

 

Ini foto2 hari terakhir belajar. Abis itu, ujian akhir dan gak akan ketemu lagi dalam suasana seperti ini.

Rindu kembali ke masa lalu. 
Saat hidup terasa mudah, 
langkah pun terasa ringan. 
Saat belum menyadari ternyata hidup itu berat
Penuh perjuangan 
dan harus memiliki kekuatan mental untuk menjalaninya. 
Saat belum mengerti warna dunia,
segalanya masih dipandang terang.
Saat hari2 hanya diisi dengan tertawa.
Saat semua terlihat bahagia.
Saat hati tak pernah sarat beban.
Saat belum mengerti bahwa setiap senyuman itu beda makna.
Saat gak menyadari, 
suatu saat akan beranjak dewasa,
Memikul tanggung jawab, dan
harus mengambil banyak keputusan penting.

Saat masih lugu, 
saat pikiran masih jernih,  
hati pun masih bersih.
Saat dunia hanya terlihat putih.
Saat semua manusia terlihat sama baiknya.
Saat persahabatan terasa begitu erat.
Sungguh, aku merasa sangat rindu....................


NO TITLE

HEY MEN.................................................

Sebelum mulutmu bersuara untuk mengaturku, mengejekku, menghinaku, mentertawakanku, pikirkan sejenak, apa kah selama ini kau pernah berbuat baik padaku? Menolongku. Merangkulku ketika aku susah. Menghapus air mataku saat aku menangis. Menenangkanku saat aku marah. TIDAK PERNAH!!!! Kau bukan siapa2 bagiku, aku pun bukan siapa2 bagimu. Jadi STOP!!! Tutup mulutmu sebelum aku muntah, dan marah!!!!

Lihat dirimu... Apakah kau sudah begitu sempurnanya hingga merasa berhak memvonis orang lain? Kau hanya manusia biasa, sama seperti aku. Aku gak pernah mengganggumu, jadi jangan kau ganggu hidupku. Kita punya cara masing2, Sayang. Kau gak akan pernah bisa menjadi aku, aku pun gak pernah mau menjadi kau. Tolong kau pahami itu.

Bagiku, kau itu HANYA ANAK KEMARIN SORE. Kau hanya mampu mengkritik, tapi saat dikritik kau marah. Merajuk. Dan gak bisa menerima kritikan orang terhadapmu. 

KAU MASIH BAU SUSU. Yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang kau hadapi. Kau malah lari ke pangkuan ibumu untuk mengadu. Menangis di bawah ketiaknya. Seperti PECUNDANG.

KAU MASIH MENTAH. Bahkan untuk memilih seseorang yang kau anggap "SAHABAT". Apakah itu sahabat terbaikmu? Seseorang yang mentertawakanmu di depanku? Seseorang yang menceritakan keburukan mu di depanku? Seseorang yang menjadikanmu tumbal untuk menutupi segala kesalahannya? Seseorang yang datang padamu untuk meminta, bukan untuk berbagi? Ah, kasihan sekali kau. Aku, yang kau jajah dengan sumpah serapah, yang kau salahkan dengan pedas, masih lebih baik. Aku gak kenal cara persahabatan seperti itu. Sukurlah, kau bukan sahabatku. 

KAU, LELAKI ITU........

Jangan jatuhkan nilai mu di hadapanku. Aku menilai mu baik selama ini. Jangan hancurkan itu karena tingkahmu sendiri. Aku kagum, kagum saat aku tahu  betapa kreatifnya kau, betapa kritisnya kau. Aku kagum karena kau pintar. Tapi Sayang, kenapa kau tidak cerdas? Sudah cukup puaskah kau dengan kepintaranmu itu? Pintar itu hanya angka Sayang, berwujud IQ. Tapi, hidup di dunia ini gak cukup hanya pintar. Kau harus cerdas dan bijak. Agar kau mampu memandang suatu masalah dengan objektif dan fleksibel. Jangan hanya kau lihat dari sisimu, lihat pula dari sisi orang lain, agar kau tahu bagaimana wujudnya EMPATI itu. Agar kau mengerti, untuk apa Tuhan menciptakan manusia dengan menganugrahkan akal budi, agar kita saling mengerti, tolong menolong, tenggang rasa. Atau, Tuhan memang lalai menganugrahkan mu AKAL BUDI? Tapi, Tuhan tak pernah lalai, Dia Maha Sempurna. Kau memilikinya, tapi tak mampu menggunakannya.

Kau masih perlu membangun mentalmu, batinmu. Bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan pengetahuan, kemanusiaan,  tata krama, agar PINTAR mu menjadi CERDAS. Kau harus tahu, tak semua pisau sama tajamnya, tak semua air laut sama asinnya. Dunia ini ABU2, Nak, jangan kau terpaku pada HITAM dan PUTIH. Benar menurutmu, belum tentu benar menurut orang lain. Mengertilah itu. Jadi, tolong!!! Keputusanku, langkahku, caraku, semua benar menurutku. Kau cukup melihat saja, jika aku salah menurutmu, jangan tiru cara ku. Itu saja!!!! Tak perlu kau mengotori mulutmu, dan menyakiti hatiku.

LELAKI YANG BERDIRI ANGKUH DI SITU...................

Jangan kau terpaku dengan dirimu sendiri. Pendapatmu, fikiranmu, nilai2 yang kau anut bukan merupakan HUKUM, KETETAPAN DAN KEBENARAN. Jangan paksakan kebenaran mu pada ku. Kita berbeda... 

Sekali lagi, jangan paksakan apapun padaku. Aku, hidupku, jalanku, keputusanku, biarkan saja aku. Aku tak punya keterikatan batin denganmu. Jangan kau lihat kalau kau tidak suka. Cukup itu saja.

Kau HARUS MENJADI LELAKI MATURE, Sayang, pelajari banyak hal.  Fahami banyak hal. Jangan kau melakukan hal2 tak berguna yang akhirnya akan menghancurkan dirimu sendiri. 

Mulai lah kau mengontrol setiap kata yang keluar dari mulutmu. Jangan bicarakan tentang keadilan di sini, di tempat ini. Berhentilah menyoroti orang2 di sekitarmu yang kau anggap tak adil. HEYYYY.... Bukankah dari awal sebelum kau datang, sistem ini sudah terbentuk, berurat dan mengakar kuat. KITA lah yang harusnya beradaptasi, bukannya dengan GEGABAH dan FRONTAL ingin merubah sistem. Aku juga merasakan ketidak adilan, tapi, ya sudah, bagaimana kita bisa melawan seribu orang bersenjata dengan sebatang tubuh kita yang punya kekuatan apa2. 

LELAKI YANG KRITIS.....

Tempat mu bukan disini untuk mengkritisi segala hal yang kau nilai salah. Carilah wadah lain, dunia lain, yang mau mendengarkan pendapatmu. 

DARI AWAL KAU TAHU, YANG KAU MASUKI KANDANG MACAN, KAU TAK PUNYA TARING YANG KUAT. KUKU MU PUN BELUM TERASAH TAJAM. Jadi, JANGAN TERLALU KUAT 'MENGEONG' AGAR MACAN2 YANG GANAS ITU TIDAK TERGANGGU ATAU MEMANGSAMU.


RUMAH DARA (H)




Udah pada nonton belum pilem "Rumah Dara(H)" Aku nonton hari senin kemarin, dan sampai detik ini, bayangan si Dara itu masih ngikutin kemanapun aku pergi.

Awalnya, aku fikir itu pilem drama biasa. Judulnya aja Rumah Dara (H nya gak kelihatan). Palingan juga cerita tentang kos2an cewek yang terlibat cinta dengan anaknya yang punya kos. Gak seru, not my type. Tapi perkiraan itu langsung sirna, setelah dua orang temanku nonton dan bilang ternyata pilem seram. Sebangsa dengan Air Terjun Pengantin, pilem psikopat. Adrenalinku terguncang, kenapa aku ketinggalan? Padahal selama ini aku gak pernah ketinggalan pilem horor baru. Dengan tekad bulat, aku janjian dengan Indah. Bermodalkan uang 21ribu, aku mengarungi jalan raya menuju ke Holiday 88 di SSQ. Nyampe di bioskop tepat waktu, bayar parkir seribu, beli karcis 15ribu, masih ada 5ribu lagi pertahanan hidup. Dengan gagah berani, aku dan Indah memilih duduk di atas. Aku yang paling ngerasa keren, aku udah khatam nonton pilem hantu. Udah gak kaget lagi, biasa aja. Palingan adegan biasa, hantunya muncul tiba2 dari kolong tempat tidur, ato muncul di cermin. Standar lah. Yang bikin kaget kan bunyi musiknya, JEGAR JEGAR... Hantunya gak nyeremin. 

Kesan pertama masuk bioskop, panas, AC nya gak nyala. Indah duduk dengan tenang di sebelahku. Pengalaman2 sebelumnya sih, Indah cuma pasang badan aja nemenin aku nonton. Pada kenyataannya aku nonton sendiri, Indah maen game, onlen, nutup muka pake jilbab. Paling enak nonton pilem horor sama Nanien, kami bisa teriak bareng, kaget bareng dan ngebahas pilemnya pas pulang. Sayang dia sudah bersuami, terlalu cepat dia memutuskan bersuami, aku jadi single fighter bertualang nonoton pilem horor.

Dengan mengabaikan udara panas, aku duduk dengan penuh percaya diri. Pilemnya mulai main, masih biasa, kayanya ketebak jalan ceritanya. Mataku gak lepas dari layar, Indah udah mulai gelisah. Nyampe lah adegan intinya, bunuh2an di Rumah Darah itu. Aku mulai histeris. Indah udah ngeluarin hape. Aku deg2an liat muka Ibu Dara. Kenapa mukanya bisa sedatar itu? Kali ini aku meleset, yang serem gak cuma musiknya, semuanya serem. Indah udah gak ngeliat ke layar, dia onlen. Aku yang tangguh, tetap nonton, walopun nutup mata pake jilbab, pilemnya tetap kelihatan kok. Aku histeris, dikit2 ngomong,

"Ndah, Ndah, lihat tu..." Indah cuek.....

"Ndah, lihat muka ibuk nya...." Indah tetap diam.....

"Ndah, mati dia Ndah, dibunuh...." Indah gak mengacuhkan ku...

"Ndah, Ndah, aku pengen muntah...."

Beneran aku mual. Bukan, jangan salah sangka,  aku gak hamil kok. Aku muntah ngeliat adegan pembunuhan terang2an itu. Aku gak sanggup. Gak sanggup. Tapi gak mungkin keluar, kalo pas lagi turun tangga, muka ibu Dara di klos ap, pasti aku shock. Aku harus bertahan. Pembunuhan demi pembunuhan masih bisa aku toleransi dengan nutup mata pake jilbab, pas adegan mutilasi tanpa sensor, ngeliat darah muncrat2, ngeliat tangan orang dipatah2in, ngeliat ibu hamil melahirkan sendiri, aku menyerah. Adegan selanjutnya lebih bagus, aku maen game di bioskop. Bersama Indah, kami menundukkan kepala dalam2, menulikan telinga dari pilem itu. Sekali2 angkat kepala nunduk lagi. Lumayan, sempat gameover dua kali, gak dapat skor tertinggi. Lama banget rasanya waktu. Kami cuma numpang maen game di bioskop yang panas ini. Gak sampe seperempat pilem yang dilihat. Mulailah kami menyalahkan pihak2 terkait...

Indah   : "Siapa yang buat pilem nih, gak bisa ya buat pilem lain yang lebih manusiawi."

Aku   :  "Ya, aku lebih suka lihat  pilem hantu beneran daripada adegan bunuh2an."

Indah   :  "Kok lulus sensor ya pilem kaya gini. Keluar yok"

Aku   :  "Jangan Ndah, nanti pas kita keluar, muka ibu Dara klos ap, biar bertahan aja."
Indah   : "Kata Adi emang seram, tapi aku gak nyangka seseram ini. Tu kan kau, coba nonton yang lain."

Aku  :  "Enak aja, Adi yang salah kenapa gak ngomong lengkap2."

Diam lagi, konsentrasi maen game............

Aku   :  "Aku mual, aku pengen muntah lihat bunuh2an kaya gitu."

Indah  : "Kalo aku gak tega..."

Aku   :  "Berarti kau ada bakat kejam Ndah."

Okeh pembicaraan jadi meleset.... Akhirnya, dengan putus aku bilang

"Ndah, aku pengen minta lagi duit aku sepuluh ribu, kan yang kita lihat gak nyampe seperempat."

Akhirnya siksaan berakhir. Adegan diakhiri dengan klos ap tangan bu Dara yang bergerak2. Gak ngerti juga inti pilem itu apa. Yang jelas, bu Dara melakukan praktek perdagangan organ tubuh manusia. Tapi, kenapa keluarga bu Dara jadul2 ya? Apa mereka itu hantu? Ato mereka emang orang jaman 1880 an yang terus hidup pake organ tubuh orang lain. Gak jelas. Seharusnya kan, keluarga bu Dara biasa aja, gak perlu pake bahasa..

"Apakah kamu tidak ingin beristirahat malam ini dengan tenang?" 

Tidak nya itu pake tasdik ya, TIDAQ. Bahasa jaman dulu. Aneh.... Mengambang. Walopun pake organ tubuh orang, nyawa kan gak bisa dibeli. Aku pikir, ibu Dara itu hantu yang tersesat. Tapi ternyata nggak, anak2nya mati semua, dia juga akhirnya mati walopun tangannya bergerak2. Hanya sutradara yang tahu latar belakang keluarga bu Dara.

Pulang nonton, kami memaksakan diri makan mie ayam dengan memakai uang recehan yang tersisa. Indah makan bakso. Pas nyampe rumah, aku masih teringat bu Dara. Indah sempat membuat pernyataan,
  
"Tiba2 aku mikir, bakso yang aku makan tadi itu daging orang yang dibunuh bu Dara."

Ihhhhh, aku mual, tapi aku kan gak makan bakso. Aku makan mie ayam, biarlah Indah sendiri yang mikir gitu. Aku nggak. Sampe sekarang aku masih ngerasa bu Dara ada di dekat aku. Tadi malam aku tidur jam 3 pagi, yang aku bayangkan, bu Dara lagi nongkrong di atas lemari sambil bawa2 sinso.

Sekarang, aku masih teringat2 bu Dara dan keluarganya. Aku trauma ngeliat mereka. Apalagi bu Dara yang bawa2 sinso. Bunyi sinso nya terngiang2 di telingaku, BREM BREM BREM........ Putus kepala orang satu. AKKKKKKKKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHH..............

PERBEDAAN PERILAKU INDIVIDU YANG MENGALAMI MASA TUMBUH KEMBANG PADA TAHUN 90an DAN TAHUN 2000an



Jangan terpesona dengan judul panjang di atas ya..... Bagi anak Psi yang lagi nyari judul skripsi, jangan terhasut oleh bisikan setan untuk mengambil judul itu. Dan jangan salah sangka, tulisan ini  jauh dari Validitas dan Reliabilitas. Gak pake alat ukur dan teori2 pendukung. Ini cuma tulisan biasa, biasa aja. Benar2 biasa.

Go.....

Pernah gak memperhatikan anak jaman sekarang? Mereka jauh lebih berani. Lebih cerdas. Lebih kritis. Gak ngerti juga apa sebabnya. Mungkin karena kemajuan tekhnologi sehingga informasi apapun bisa dengan mudah di update. Ato jangan2, akibat dari penggunaan bahan pengawet pada makanan, yang kita konsumsi jadi hormon2 anak sekarang bekerja dengan jauh lebih brutal. Wallahualam.....

Hari sabtu kemaren, aku janjian sama Indah. Jam 1 teng aku nyampe di rumahnya, ternyata dia belum pulang kerja. Aku tunggu sambil ngobrol sama papa mama Indah. Tiba2 aku dikagetin Dea, adek Indah paling kecil. Umur Dea kira2 7 tahunan gitu lah, aku gak tahu pasti. Si Dea ini centilnya luar biasa, genit aja bawaannya, udah ngerti pacar2an. Terus si Dea ketawa2 karena sukses ngagetin aku. Kerennya lagi, dia langsung ngomong gini....

"Tambah gendut aja...."
Hahahahaaa..... berani sekali anak ini. Kalo gak ada emak bapak nya di depan mata, udah aku masukin goni, bawa ke warung, tukar dengan teh botol sosro dingin. Demi menjaga sopan santun, aku ketawa dan jawab,

"Emangnya kakak pernah kurus De?"

Jawaban Dea,

"Kalo dikempesin bisa...."

Makin kurang ajar aja. Tapi aku tetap ketawa garing karena emak bapak Indah ikut ketawa. Ahhhh, orang tua jaman sekarang emang aneh ya. Tolong Indah, itu adek nya diajarin sopan santun, jangan cuma diajarin kasih makan kelinci aja. Waktu aku kecil dulu, jangankan ngomong gitu, ngeliat muka orang yang lebih besar aja bawaannya segan, malu terus pengen lari menjauh. Aku juga belum bisa bedain cowok cewek sebelum kelas 5 SD. Saat itu, semua teman sama, gak ada jarak kalo lagi main.

So, aku mau compare, antara anak yang mengalami masa tumbuh kembang di tahun 90-an dan 2000-an.

Subjek Perbandingan


Riandy Satria Putra (5 Agustus 1993)
 
 
 
  Nadita Khaira Ananda (7 Agustus 2009)
 

Jangan buru2 memvonis aku nepotisme ya karena pake subjek adek dan keponakan ku sendiri. Hal ini aku lakukan berdasarkan pemikiran yang matang, disertai dengan alasan yang jelas. Pertama, aku melihat langsung gimana mereka melewati masa tumbuh kembang. Kedua, mereka lahir di bulan yang sama, jadi mereka mempunyai banyak kesamaan karakter, secara keseluruhan Dita adalah versi cewek Andy waktu kecil, sama semua sifatnya. Dan yang ketiga, mereka punya lingkungan tinggal yang sama, keluarga nya sama, perlakuannya juga sama. Dita, cucu semata wayang yang sangat disayang oleh keluargaku dan keluarga ayahnya. Andy, anak bungsu cowok satu2nya, mendapat banyak perlakuan istimewa, terutama dari ibuku, ibarat kata, kalo mau makan dia tinggal mangap aja karena ibu yang menyiapkan semuanya. Andy dan Dita sama sifatnya, zodiaknya, karakternya, yang membedakan mereka hanya masa tumbuh kembangnya.  Aku gak akan membahas hal2 berat yang detail sampe teori2nya, ini cuma berdasarkan semua yang aku lihat. Mereka sama, tapi beda.
 
 
Andy 

Waktu kecil dulu, selalu minta ke mall tiap lebaran. Hari raya pertama, jam 9 pagi dia udah eksis nunggu Plaza Citra buka.

Andy mulai sadar kamera waktu SD, kelas 1 atau 2 gitu lah. Tiap difoto dia punya dua gaya original, tangan di pinggang atau tangan dilipat ke dada.

Aku gak pernah ngeliat Andy, dekat banget sama anak cewek, remaja cewek, tante2 cewek selama dia tumbuh kembang. Dia kenal cewek, kelas 2 SMP.

Andy mainnya waktu kecil dengan tetangga sekitar rumah, gak pernah jauh2. Pernah dia berhasil kabur ke rumah orang yang rumahnya cuma beda gang aja dengan rumahku, dia udah senang banget. Lompat2 main disana. Selain itu, dia berkeliaran di tempat2 yang terjangkau pandangan mata.

Ahem, si Andy waktu seumuran Dita, kalo mau boker bakalan menghilang. Gak ada kabar gak ada berita, Ibu udah panik nyariin ternyata dia boker di belakang kursi dengan malu2. Itu terjadi setiap kali dia boker.

Andy sampe sekarang pun, kalo sakit gak bilang2. Menunjukkan gejala aja, sampe ada yang sadar dan ngasih dia obat.

Ini buka rahasia, si Andy kalo beli baju, gak akan banyak permintaan. Kayanya, kelas 3 SMP dia baru ngerti pilih baju. Sampe detik ini, dia gak pernah beli underwear sendiri.... hehehehhe....
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________

Dita

Dia tinggal di Siak, tiap ke Pekanbaru (paling kurang sebulan dua kali dia ke Pekanbaru), tujuan hidupnya cuma satu, ke Mall. Mall nya cuma mau antara Mall Ciputra atau Mall SKA.

Dita sangat narsis, jangan lihatkan kamera di depan mukanya, dia akan langsung berpose. Minta difoto, terus harus lihat hasilnya dan minta foto lagi. Gayanya macam2, tangan di pipi, tangan piss, peluk orang disebelahnya, pake jilbab, pake kacamata, lagi sholat, pake baju muslim, telanjang, lagi sisiran, kepala miring ke kanan, ke kiri, banyak banget. Kalo mau lihat langsung, datang aja ke rumah. Dalam rumah, penuh foto Dita, dia menguasai rumah ini lebih dari siapapun.

Dita dari umur dua tahun kurang, udah bisa mengklasifikasi cowok. Jangan harap dia mau digendong kalo cowoknya udah tua. Sama ayah ku aja dulu dia gak mau dekat2. Tapi kalo sama brondong keren, dia agresip. Overacting. Kalo dia lagi pake jilbab, terus kita bilang cantik, dia bakalan nyariin cowok ganteng dulu untuk memamerkan kecantikannya, kalo udah ketemu baru lah dia mau lepas. Waktu dia jatuh, dibantu ibunya berdiri, terus dia ngeliat Om Putra nya (adek ipar kak Kiki) yang ganteng datang, Dita akan menjatuhkan diri lagi supaya Om Putra yang bantuin dia berdiri. 


Dita akan jadi anak kecil paling menjengkelkan kalo dia di rumah aja seharian. Jam terbangnya tinggi, udah sampe kemana2. Apalagi kalo abis mandi, rumah bakalan hancur dibuatnya kalo gak dibawa jalan2. Dita gak level maen pistol2an, dia cuma mau ke Mall, Mall dan Mall.....

Dita gak ada segan2 boker dimanapun dia mau boker. Di mall juga kalo dia mau dia bakalan boker. 

Dita tahu kalo ada yang gak enak ma badannya. Dia akan bilang ke Ibunya, "Bu, Dita demam, minta obat." Hebat kan? Ini anak keturunan Einsten kali ya......

Kalo niat belikan baju untuk Dita, siap2 mengorbankan diri sendiri. Waktu seharian habis karena Dita akan memilih semua baju yang dia suka, mencoba semua sendal yang menarik menurutnya. Jangan harap dia mau kalo baju yang dibeli gak sesuai dengan yang dia pilih.

___________________________________________________________________________________
___________________________________________________________________________________

Yah itu cuma perbedaan kecil aja. Pada dasarnya sama aja, tapi yang membedakan adalah perilaku yang dimunculkan. Dita relatif lebih cerdas, lebih berani, lebih kritis.

Dita sayang banget sama Andy, tapi Andy sering mengabaikan Dita. Walopun Dita udah bermanja2 sambil nari bugil didepannya, Andy tetap diam. Kalo lagi jalan, Dita sering pilih duduk di belakang, dekat Andy. Dia main sendiri, Andy sibuk dengan henpon. Dita gak perduli, yang penting dia bisa dekat2 Om nya yang ganteng itu. Mereka cocok mungkin ya, Dita nya ramah tamah, Andy nya diam dingin.

Persamaan mereka juga ada. Sama2 sok berani. Dita bakalan berani melakukan tindak kekerasan pada anak yang kelihatan lemah dari dia, tapi kalo sama yang lebih besar, dia gak berkutik untuk membalas. Andy, kalo dirumah kaya raja hutan, di TK dia pernah gigit anak orang, tapi di SD, dia nangis2 pulang karena dipukul sama teman sekolahnya. Saat itu, bang Isap, abang sepupu yang tinggal di rumah, menyarankan Andy untuk ngelempar temannya pake batu.Keras kepalanya juga sama. Gak mau dibilangin, bandel gak jelas. Tapi mudah2an aja kalo udah besar Dita baik kaya Andy, gak aneh2,walopun banyak minta tapi gak pernah mengecewakan keluarga dengan terjerat pergaulan gak jelas.




PSI A/2002/UINRIAU






Semalam, aku pergi ke rumah sodara. Gak terlalu jauh dan gak niat lama, makanya gak pake baju yang macam2. Celana hitam, jaket abu2 dan jilbab ungu. Waktu ngaca, ketawa sendiri karena ngerasa gak matching. Tiba2 jadi ingat masa muda.... Masa2 kuliah dulu, karena anak kelas kami, ahli mengkritik orang lain, terutama orang yang pake baju gak matching. Kalo aku lewat didepan mereka pakaian seperti itu, pasti dibahas langsung, dengan tajam.... setajam silet........................................

Aku  masuk kuliah tahun 2002, ngambil jurusan psikologi di UIN Riau. Tahun itu, baru di sana yang ada jurusan psikologi. Maka terdamparlah aku pada sebuah kelas, dimana anak2nya benar2 terpecah belah, jauh dari rasa persatuan dan kesatuan...... Beneran, aku duduk di kelas A angkatan 2002, penghuninya cewek semua. Semester awal, ada cowok tiga biji, kurang satu, tinggal dua, semester berikutnya kurang lagi, sampai habis sama sekali. Sebagaimana jaman orde baru, kursi2 kelas terbagi dua, yaitu sayap kanan dan sayap kiri, begitu juga kelas kami. Anak sayap kiri biangnya rusuh, heboh dan tukang kritik. Anak sayap kanan bagian yang kalem2, baik2, gak pernah ribut berlebihan. 

Kelas A, gak pernah kenal istilah kompak. Sering terjadi perpecahan, keributan dan buntutnya sindir menyindir, gak teguran. Kaya anak SD. Semua punya gank masing2. Kalo main tunggal, biasanya anaknya kurang terkenal. Aku, termasuk dalam warga yang selalu duduk di sayap kiri. Kalo lagi ngerumpi, ributnya setengah mati. Kalo lagi gosip, jadi kompak banget. Tapi, kalo udah ada satu orang aja yang ngerasa gak senang dengan anak lain, dijamin anak yang gak disenangi itu akan mengalami trauma akut karena mendengar sindiran pedas setiap hari.

Jadi ingat, aku dulu temenan satu gank berempat. Gak tahu kenapa, pas seorang dosen ngadain acara di daerah Rumbai, ada oknum yang ngerasa gak suka dengan gank kami yang sebenarnya biasa aja. Hasilnya, sepanjang acara berlangsung, gank kami dikucilkan, diabaikan, disindir2, gak diajak ngobrol, gak diajak foto2. Parah. Karena merasa tersiksa, kami pulang duluan. Di Mobil, anak2 nangis. Kecuali aku, aku tegar bertahan untuk gak nangis mendapatkan perlakuan keji itu. Tapi, ya gitu aja. Besok2nya baik lagi, ngobrol lagi, gosip lagi. HAY, kalian anak Psi 2002 kelas A masih ingatkah kalian pernah memperlakukan gank kami secara hina.... Aku masih ingat nama dan wajah kalian secara jelas..... :)

Sesuai dengan perilaku kaum primitif pada umumnya, kalo udah kepepet baru kompak. Waktu lagi nyusun skripsi, aku terpaksa jadi pemain tunggal karena anak2 gank belum ada yang maju. Perlu diketahui ya, di Psi UIN, buat lulus  harus melewati 3 tahap (jama kami dulu, gak tau sekarang gimana). Pertama, seminar proposal, Kedua, ujian kompre. Ujian kompre sama dengan ujian biasa, tapi dilakukan secara lisan. Yang diujiankan juga cuma pelajaran intinya aja, bangsa2nya Psi Klinis, Psi Perkembangan, Psi Sosial, Psi Agama, Psi Industri dan Organisasi, apalagi ya, udah lupa. Terus yang ketiga baru ujian munaqasah (sidang skripsi). Dan sebelum melewati 3 tahap itu, semuanya WAJIB hapal  juz amma, tau kan, ayat2 pendek. Ini suatu tantangan sendiri buat kami, yang rata2 gak punya kemampuan menghafal ayat yang memadai. Hafalannya itu, boleh di angsur2 setorannya ke PA. Saat itu, aku dan Memi yang PA nya sama, kewalahan menghafal ayat2 pendek juz amma. Soalnya skripsi aja udah bikin stress, kalo mesti hafal surat2 pendek sebanyak itu, bisa hangus otak yang udah hank ini. Dengan akal kadal, waktu mau setoran ayat, waktunya harus tepat pas PA sibuk baru nyetor. Bacanya cepat2 supaya gak bisa disimak banget. Hehehee.... sukses lhooo.... PA kami yang baik itu langsung menanda tangani kertas bukti kalo kami emang beneran udah hafal ayat. Tapi tetap aja kami keteteran.

Memi, teman sepenanggunganku saat itu, biang ribut di kelas, dia juga otak pelaku kriminalitas terhadap gank kami. Dia yang menyindir2 pedas secara langsung  sampe Nanien trauma lihat muka Memi (heheheee, ini lebay) Kalo dia udah gak suka, omongannya nyakitin banget. Dia juara ngomong. Kadang heran juga, yang diomonginnya gak selalu betul, tapi karena dia ngomongnya yakin, kayanya jadi benar aja apa yang dia bilang. Sekarang anak iu terdampar di Natuna, udah membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dan dari semua teman2ku yang udah nikah, baru Memi inilah yang bilang kalo nikah itu enak, tentram dan damai. Tuhan telah menunjukkan jalan yang lurus padanya. Okeh, kembali ke juz amma. Aku dan Memi, waktu itu betul2 kepepet. Jadwal kompre udah keluar, seminar udah beres tapi juz amma belum tuntas. Kalo belum tuntas juz amma gak boleh ikut kompre. Daripada gak ikut kompre, lebih baik nipu dikit. Waktu setoran ayat, setelah baca cepat2, kami bilang ama PA udah dihafal semua. PA nya gak percaya, dia sibuk2 nyari2 juz amma nya, kami paksa. Dia bertahan untuk gak percaya, kali ini kami paksa dengan derai air mata. Maka luluh lah sang PA, dia tanda tangan semuanya. Seolah2 kami emang udah beneran hafal juz amma itu..... HORE..... Sukses ikut kompre. Oh ya, selain mata kuliah inti, saat kompre ada juga ujian sholat jenazah sama pengetahuan agama atau akidah apa gitu, udah lupa. Aneh2 aja yang nguji. Waktu aku lagi ujian akidah, bapak pengujinya nanya, 
"Kamu pernah tanya nggak sama ayah kamu, uang jajan yang dia kasih ke kamu itu uang halal atau uang haram?"
Aku takjub, bisa2nya bapak penguji punya ide bertanya seperti itu, dan aku jawab dengan lugunya, 
"Gak pernah Pak, udah sukur dikasih. Kalo saya tanyain gitu, nanti bapak saya gak mau kasih jajan lagi."
Bapak itu memandangku dengan tatapan hina. Langsung dia ngasih ceramah panjang tentang uang halal dan uang haram. Selanjutnya, aku berdebat sama dia. Aku mempertahankan jawabanku, yang ternyata, setelah ujian selesai, aku tahu aku salah jawab. Aku udah pesimis gak akan lulus. Ternyata ujian kompreku, lulus. HORE......

Waktu munaqasah, kami dapat jadwal pertama. Entah karena dosa udah nipu hapalan juz amma, sebelum dibantai sidang, ketua sidang nanya hafalan. Dia menyebutkan sepenggal ayat, terus kimi harus menyelesaikannya. Semua shock. Kadang, dia baca ayat paling akhir. Bayangin aja, dia baca awalnya aja udah gak mampu melanjutkan apalagi yang dibaca ayat paling akhir. Mana bacaannya sempurna dengan tajwid maksimal, makin keriting otak ingat2 hapalan. Palingan, kalo udah mentok, pasang senyum aja plus muka minta dikasihani. Giliran aku yang maju, dengan penuh percaya diri, karena merasa yakin saat pengerjaan skripsi aku terjun 100%, tanpa mencontek skripsi siapapun. Aku merasa mampu menjawab, karena sehari sebelum sidang, anak2 yang sidang hari itu ngumpul buat belajar sama2. Membahas skrispi masing2. Ternyata tak seindah yang dibayangkan. Aku hancur sehancur2nya, karena gak melampirkan Surat Pernyataan telah melakukan penelitian. Skripsi ku waktu itu judulnya, Perbedaan Stress Pada Wanita Hamil Pertama Yang Berusia Kurang Dari 20 Tahun dan Lebih Dari 30 tahun, Study Pada Wanita Hamil di Kota Pekanbaru. Aku juga gak ngerti, setan mana yang menghembuskan ide untuk mengambil sampel ibu hamil dari satu puskesmas di 11 kecamatan yang ada di Pekanbaru. Tapi yang jelas, aku cuma punya surat pernyataan dari RSUD. Bukannya aku ilegal ya, tapi emang surat rekom penelitian dari Kesbang cuma dapat sebiji. Setiap tempat minta yang asli. Gak mungkin aku minta 11 biji surat rekom dari kesbang. Ngurus yang sebiji itu aja udah seminggu. Jadilah, waktu pengumuman, dengan yakin ketua sidang bilang, DITUNDA. Apa itu ditunda? Bilang aja GAK LULUS!!! Aku dikasih waktu seminggu buat melengkapi surat pernyataan itu. Ah, bertele2. Padahal secara isi skripsi, udah keren banget. Tebal, panjang, banyak angkanya. Kurang itu aja dipermasalahkan. Tapi tetap aja aku gak bisa bertahan dengan alasan skripsi yang aku buat udah keren menurutku. Aku bertualang di rimba Pekanbaru, dan berhasil mendapatkan surat pernyataan itu. Dengan penuh kemenangan, suratnya aku antarkan ke Pudek III. Sebelum pergi, aku diceramahinya tentang betapa pentingnya surat pernyataan itu demi legalitas sebuah penelitian, bla bla bla..... Ahem, akhirnya aku LULUS dengan nilai B. Nilai B udah bagus banget waktu itu. Gak tau kenapa ya, pas angkatan kami, dosen2nya susaahhhhhh banget ngasi nilai A. Setahu aku, sampe sidang terakhir periode Februari 2007, nilai paling tinggi, B. Cuma beberapa orang yang dapat nilai B, termasuk aku (Ahem, lobang hidung mekar...), maka terjadilah ijab itu,
Dengan ini menyatakan bahwa saudara Rinanda Tesniana berhak menyandang gelar Sarjana Psikologi beserta hak2 yang terkadung didalamnya
HOREEEE.....  Setelah berjuang untuk mendapatkan gelar kesarjanaa itu, pas udah mendapatkannya, BIASA AJA. Kadang malah lupa ngasi embel2 S dibelakang nama. 

Dulu, benci banget rasanya. Harus belajar mata kuliah agama, yang rasanya gak ada hubungannya sama Psikologi. Kalo mata pelajaran agama yang umum, kaya Aqidah atau Tafsir Hadist, masih bisalah dimaklumi. Nah ini, kami dipaksa harus lulus bahasa arab 4 SKS. Asal tahu aja, aku udah 3x ikut ujian itu gak lulus. Banyak kok anak2 lain yang berpartisipasi remed ujian bahasa arab. Waktu itu, karena udah putus asa dan merasa gak akan bisa lulus selama2nya dengan otak sendiri, terpaksa pake otak orang. Jadilah, Eren, lulusan pesantren yang   merangkul teman2 jahiliyahnya ini. Eren ikut masuk ke ruang ujian, dia mengerjakan semua soal, kami tinggal duduk manis nunggu Eren selesai... Heheheee.... thanks so much to Eren, banyak pahalanya karena anak2 lulus semua.

Anak Psikologi 2002 kelas A, gak kompak, itu benar. Tapi jangan salah, kami  juga bisa kompak kalo lagi mengkritisi suatu hal. Kami ahli kritik. Kalo lagi nunggu dosen, atau lagi jam istirahat, anak2 duduk di tangga yang menghadap ke jalan. Gedung Psi saat itu emang dalam posisi baik, dimana menjadi gedung pertama dari seluruh fakultas yang ada, kami jadi leluasa mengkritik setiap makhluk yang lewat. Kritikannya gak lepas dari warna baju orang yang tabrakan, 
"WOW, baju cewek itu tabrakan, trus masuk rumah sakit"
atau
"Ih, yang itu tabrakannya langsung meninggal"
Itu pernyataan kalo yang pake baju udah parah banget nabrakin warnanya. Bayangin aja, rok hijau, baju oren, jilbabnya merah, apa gak silau mata lihatnya. Cowok2 gak luput dari perhatian. Jangan ada cowok yang pake baju berwarna norak lewat, pasti langsung dibahas. Ato cowok yang gak pake baju dalam, siap2 malu aja. Parah. Tapi sekarang, aku jadi rindu lagi suasana itu. Suasana kampus. Bisa nyantai, puas ketawa, puas untuk bertingkah seenaknya, puas untuk marah2in dosen yang kelamaan ngajar waktu kuliah sore, kalo kuliah sore harus pulang cepat. Karena pilem korea Full House udah nunggu di rumah. 

Masa kuliah adalah masa transisi. Saat kita harus melepaskan segala atribut remaja untuk memasuki gerbang dewasa awal. Waktu dimana kita seharusnya udah menyelesaikan tugas2 remaja akhir, dan siap untuk melaksanakan tugas2 sebagai dewasa awal. Setelah selesai kuliah, kami semua berpisah, mengejar takdir masing2. Ada yang melanjutkan S2, ada yang berburu kerja, ada yang langsung pergi ke pelosok daerah untuk memulai hidup baru, ada yang nikah. Macam2..... Dan mudah2an, saat kita reuni belasan tahun lagi, kita telah menjadi manusia dewasa,  yang mungkin, gak semuanya sukses, kaya dan mempunyai karir yang gemilang, tapi kita tetap bisa menghargai semua yang telah kita raih. Kita lebih matang untuk menyikapi setiap takdir yang telah terjadi dalam hidup kita masing2. Dan kita akan lebih bijaksana saat melihat teman lain yang lebih segalanya dari kita. Lupakan masa lalu, saat kita bertengkar karena iri dengan teman yang lebih baik, lebih cantik, lebih kaya dan yang terpenting, kita bisa menerapkan ilmu yang kita dapatkan selama menempuh pendidikan, minimal untuk keluarga kita sendiri. 

Apa kabar kalian semuaaaaa wahai anggota Psi A 2002 UIN Riau.......  Eva Yuliza, Maida Adelina, Oliya Bonevi, Memi Suryani, Rina Muharani, Nursiyah, Yuli Fitria, Nurhayati, Merry Anggraeini, Dewi Rahayu NN, Kurnia Adisti, Ika Fatmawati, Vera Hardianis, Reni Rahmalia, Marito Rusni, Billa, Septi Apriyeni, Winda Lestari, Desi Dini Putri, Duma Siregar, Elina Suryani, Herwita, Lindriyani, Maida Yuspita, Kasmawati, Okti, Miss u so much.........................................................................................

 

I'M NOT HIS PRINCESS





Kabogoh ku, pria yang udah mengisi hidup ku selama dua tahun ini. Aku biasanya panggil dia Aa'. Dia cowok biasa. Bagi orang mungkin dia gak punya kelebihan  yang membuat dia beda dengan cowok lain, tapi bagiku dia berbeda. Di hatiku dia menempati tempat khusus, dia menjadi  istimewa untukku karena dia gak pernah menganggapku istimewa.

Dua tahun menjalani proses dekat tanpa ada kata jadian, kami lebih banyak menjalani hubungan jarak jauh. 
Januari 2008 kami mulai dekat, Juni 2008 aku berangkat ke Bekasi selama 6 bulan. Januari 2009 aku balik lagi ke Pekanbaru, dia pindah ke Padang. Gak lama di Padang, dia pindah lagi ke Medan. Aku juga udah lupa kapan terakhir kali ketemu dia. Yang jelas, sebelum pindah ke Medan dia mampir dulu ke Pekanbaru. Itu juga karena aku paksa2. Awalnya dia gak mau, setelah aku nangis darah, marah2 dan mengeluarkan ancaman2 gak jelas, dia berkenan mampir. 

Dia gak romantis, cuek dan gak pernah berusaha berubah sedikit lebih manis, bahkan demi aku. Anaknya juga aneh, agak2 eror, tapi sering ngerasa pintar. Sering bilang aku sarjana murtad, karena katanya, dia lebih pintar dari aku walopun dia gak pernah kuliah. Sering bangga2in IQ nya yang (katanya) 120 an, sementara aku cuma 109. Dia juga malas jawab kalo aku udah nanya2in masalah kerjaannya, katanya, dijelasin seribu kali juga aku gak bakal ngerti. Kata2 yang paling sering keluar dari mulutnya, "Iyalah, aku kan hebat."

Menjalani hubungan dengannya, aku sempat kaget. Heran. Janggal. Dan gak bisa nerima kenyataan. Okeh, sebelum sama Kabogoh, aku ngejalanin hubungan sama cowok yang romantis banget,  nelpon bisa 10 x sehari, sering bgt bilang "I love u", fokus utama hidup nya adalah aku. Aku selalu ngerasa tersanjung kalo lagi sama dia, melayang dengar gombalannya. Hubungan kami putus setelah dua tahun jalan. Gak ada alasan apa2, yang paling utama Ibuku gak suka aja ngeliat mantanku itu. Ibu sering ngeledekin, "Ngomongin apa aja ketemu dari pagi sampe malam. Gak bosan2 dia liat muka Nanan yang gak seberapa itu?" Dengan Kabogoh, boro2 dari pagi sampe malam, dia mau jemput siang2 aja udah sukur banget. Sore, udah dipulangin lagi. 

Gimana aku gak kaget jalan sama Kabogoh, aku, yang selama ini lebih sering menginjakkan kaki ke mall daripada ke pasar (bukan sombong ya, ke mall juga cuma window shopping) diajaknya mengunjungi tempat2  yang belum pernah aku datangi. Aku, lahir, besar, sekolah, kuliah dan menghabiskan seumur hidupku sampe sekarang di Pekanbaru. Tapi, aku gak pernah jalan keliling kota Pekanbaru, banyak daerah yang aku gak tau. Jangankan Pekanbaru, nama jalan di komplek aja aku gak hapal. Jadi, aku kaya mendapatkan shock therapy dengan cara Kabogoh mengencaniku (heheheee....)

Kencan Pertama

Kencan biasa yang gagal, karena mobilku mogok dan dia terpaksa dorong mobil di jalan yang mendaki....

Kencan Kedua

Dengan yakin, dia bawa aku ke Kebun Binatang. Ibu, teman2, kakak dan semua yang aku ceritain ketawa, ngapain banget ke Kebun binatang. Kebun binatang Pekanbaru emang gak ada bagus2nya. Kotor, hewannya juga gak diurusin. Padahal tempatnya luas, kalo dirawat mungkin bakalan rame. Kabogoh gak merasa aneh ngajak aku ke sana, dia cuma mau nunjukin, kalo hewan2 di sana terlantar. Aku diajaknya keliling, sampe di kandang Singa, dia berhenti lama ngeliatan si Raja Hutan itu. Terus dia bilang, "Kasian kan Nan binatang disini, sampe Singa pun udah gak sanggup buat berdiri. Aku sering kesini sendirian, buat ngeliatin mereka aja. Kadang kasih makan kalo lagi ada uang." Emang, Singa nya cuma diam aja, keliatannya lemah banget. Aku yang gak pernah suka dengan binatang apapun, jadi ikut2an kasihan sama binatang2 itu.

Kencan Ketiga

Itu kencan paksaan, aku yang maksa2 mau ikut. Hehehehe, aku emang wanita yang agresip, gak malu2 ngomong kalo ada maunya. Waktu itu dia mau ke kandang ayam, ngeliatin ayam sakit. Sampe di kandang, aku agak2 ngeri juga, karena aku belum pernah liat kandang ayam sebesar itu, yang bisa nampung ribuan ayam. Aku juga gak pernah liat ayam sebanyak itu. Kabogoh gak perduli, dia cuek aja naek ke kandang, terus tenggelam ditengah2 ribuan ayam. Dia ngeliatin ayamnya satu2. Dicek seluruh tubuhnya. Aku sendiri, gak cukup bernyali untuk ngeliat dari dekat. Dia juga gak ngomong apa2, dia membiarkan aku bengong kesana kemari.

Kencan Keempat

Dia ngajak aku jalan. Aku yang buta arah, mengikuti dengan ikhlas kemanapun dia bawa. Sampe di suatu tempat (belakangan aku tahu nama daerahnya, Kebun Durian), ada sungai dan mesjid gitu, dia ajak aku duduk di pinggir sungai nya. Bengong aja ngeliatin anak2 main. Gitu aja, terus pulang. Aneh!!!

Kencan kelima dan seterusnya sampe sekarang, aku banyak menemukan hal2 baru. Aku melihat banyak hal yang selama ini gak pernah aku lihat. Aku ikut Kabogoh nongkrong di terminal AKAP malam minggu, itu tempat anak2 motor jual tampang, ada yang ngetrek, ada yang.... yang apa ya? Aku juga gak ngerti kenapa anak2 itu berdiri2 di atas motor padahal motornya melaju kencang. Aku jadi tahu tempat makan enak, yang letaknya dekaaattt banget dari rumahku. Banyak banget, dia banyak membuka mata ku untuk lebih peka dengan hal2 kecil yang dekat denganku.

Awal2 jalan, aku sering protes. Kenapa aku bisa jadi prioritas paling buncit dalam hidupnya setelah kerjaan, keluarga, motor, bola, etc. Dia cuek aja, gak perduli. Setelah menjalankan hubungan jarak jauh, aku lebih banyak protes. Ujung2nya bertengkar. Kami jarang bertengkar, penyebab pertengkaran kami hanya satu, aku! Aku yang selalu jadi pemicu dan pencetus perkelahian. Dia tetap cuek. Kalo lagi berantem, biasanya Kabogoh menghindari komunikasi yang lama denganku, setelah aku reda, baru dia ajak ngomong biasa. Jadi aku gak dapat perlawanan yang seimbang.
Hubungan yang kami jalani adalah hubungan yang berdiri diatas perbedaan. Semuanya beda. Ibu, yang setia menjadi pengamat sosial anak2nya, selalu bilang, kalo aku dan kabogoh bertolak belakang dalam segala hal.

Perbedaan yang menonjol, adalah fisik. Aku, gendut, pendek, berwajah bulat dan lebar. Kabogoh, kurus, tinggi dengan wajah tirus. Waktu aku liatin foto Kabogoh ke temanku, Nia, dia kaget dan spontan ngomong, "Ya Allah Nan, cowok kau pecandu tu. Cepatlah sadar." Hakhakhakhak..... 

Latar belakang hidup yang kami jalani pun beda. Aku, seumur hidup tinggal dengan orang tua, walopun bukan keluarga kaya, tapi cukup mampu memenuhi kebutuhan2 hidupku. Kabogohku, dari latar belakang keluarga biasa, tapi menurutnya, sejak krisis moneter usaha bapaknya menurun drastis, berawal dari situ, dia harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya. Keluar masuk hutan juga dijalaninnya supaya bisa makan. Dan itu dilakukannya sendiri.

Sifat dan karakter kami  gak sama. Misalnya kalo lagi bertengkar, aku yang paling berapi2 ngomel, marah2 dengan intonasi suara tinggi, sampe nangis2 gak tentu arah. Dia nya diam aja. Paling parah, dia matikan hape. Tapi kalo udah netral, dia ngajak membahas masalah baik2, dia ngomong biasa, gak keras, gak ngomel, tapi PASTI aku jadi terdiam. Karena semua yang dia bilang benar, aku yang salah.

Aku sering ngerasa gak suka, gak puas, gak senang dengan sikap dia terhadapku. Dia jarang banget bilang sayang, cinta, dan sejenisnya. Kalo aku tanya dengan nista, "Kamu sayang aku?" sekali dua kali dia jawab, "Iya, aku sayang kamu." Tapi jangan coba2 tanya lagi, jawabannya jadi nyebelin, "Ingat umur Buk!  Umur udah tua, masa masih kaya anak SMP yang bilang2 sayang terus." Aku gondok. dan malu. Pernah juga, aku kirim poto manis, dengan pose menawan (halah, lebay.....), dia balas sms, Ngapain kirim2 poto gitu, posenya gitu2 aja, menuh2in memori. Gimana aku gak nangis bombay??? Lain waktu, dia yang minta kirim poto, katanya kangen. Aku kirim poto jelek, muka bangun tidur yang belum nyentuh air, kalo lagi baik, dia bilang, manis banget, keliatan natural muka kamu. Kalo lagi jahat, dia bilang, kaya mau tanding sumo. Next, waktu jalan ke mall, aku ngeliat baju lucu, karena lagi gak punya duit, aku minta izin ngambil duitnya, dia bilang boleh, sukses lah aku punya baju lucu itu. Terus, waktu lagi telpon2an, aku bilang, aku mau minta kado buat ulang tahun ku, dia jawab, itu kan udah tadi beli baju. Ngerasa gak ikhlas dapat kado baju sebiji, aku protes, masa cuma itu aja, tambah baju satu lagi. Dengan tegas dia bilang, "Udah itu aja, jangan ngelunjak." Tu kan? Jahat! Hatiku teriris2 dengarnya.

Pernah juga, aku main ke rumahnya yang di Bogor, waktu aku masih di Bekasi, dia mudik seminggu sebelum pindah dari Pekanbaru ke Padang. Pulangnya aku naik bus, dia nganterin ke Baranangsiang (bener gak ini nama terminal di Bogor?). Aku, yang menyadari kalo itu adalah pertemuan terakhir kami, setelah itu dia pindah kerja, berharap akan ada moment2 romantis sebelum berangkat, misalnya ngobrol dulu setengah jam, terus dia bilang pasti dia bakalan sedih pisah jauh dari aku. Yang terjadi : Dia narik2 tangan aku, kaya lagi narik karung beras, nganterin ke bus dengan terburu2, ngeliatin sampe aku duduk. UDAH!!! Gitu aja. Musnah semua angan2 tentang perpisahan romantis itu. 

Memang, Kabogoh gak pernah memperlakukanku dengan khusus. Kadang aku iri, ngeliat gimana Bang Ricky, suaminya Nanien, memperlakukan Nanien dengan romantis, memuja sepanjang masa, telpon2an tiap saat. Ato, pacarnya Indah, Mas Adi, yang jatuh cinta sama Indah pada pandangan pertama. Aku tanya sama Kabogoh, apa dia love at the 1st sight sama aku, jawabannya bikin pengen bunuh diri. "Pertama kali jumpa aku kasian liat kamu, kamu kaya vespa, gak ada menarik2nya."
Tindakan2 asusila yang Kabogoh lakukan banyak, gak cukup hanya ketiduran waktu aku telpon buat curhat, bilangin rambut aku cuma tiga lembar waktu aku bilang aku pengen warnain rambut, mengutamakan kerjaan diatas segalanya.  Aku yang harus lebih mengerti. Supaya aku gak tersiksa sendiri.

Seiring berjalan waktu, aku lebih tenang sekarang. Aku mengerti dengan segala tingkah minusnya. Sekarang ini, dia benar2 gak perduli dengan ku, karena kerjaannya numpuk. Biasanya kalo kejadian kaya gini, perang teluk akan meletus. Aku stress, marah, pengen putus. Dia juga emosi karena aku gak ngerti dengan kerjaannya. Maka, aku perlu berkompi2 pasukan untuk memenangkan peperangan itu, ya aku kalah telak. Cukup dia ngomong satu kalimat aja, aku sadar aku yang salah. Sekarang aku terbiasa. Mungkin malah kabogoh yang heran kenapa aku gak marah2 kaya biasanya, malahan dia sms, maaf ya, aku gak sempat perhatiin kamu kaya biasanya. Heheheee......

Diingat2, dia juga pernah kok melakukan hal kecil yang manis. Pas aku ulang tahun ke 24, dia gak ngasih apa2, karena waktu itu aku masih di Bekasi. Lebaran pulang ke Pekanbaru kami jalan, sampe di rumahnya, dia buka jok motor, ngambil bungkusan yang ternyata isinya cincin. Aku terharu. Walopun dia ngasihnya bulat2 gitu aja, sekalian tempatnya, tanpa ada inisiatif memasangkan ke jariku, aku tetap terharu. Aku pengen nangis saking bahagianya, tapi.... ah, lagi2 dia merusak suasana, "Udah jangan berlebihan gitu, ntar juga kalo gak ada duit mau di jual lagi." 

Sekarang aku malah mencintai dia yang seperti itu. Dia selalu menerima ku apa adanya, gak pernah nuntut aku buat diet, buat cantik, buat wangi. Dia gak pernah memintaku untuk sempurna. Aku jadi nyaman menjadi diriku. Jalan sama dia, aku gak perlu make up lengkap. Dia malah komentar kalo aku dandan, "Itu pipi kenapa merah2?" atau "Aduh, jalan kita jauh banget ya, sampe mata kamu merah2 gitu?" awalnya aku heran, terus ngeliatin di cermin, ternyata mataku gak merah, dia ketawa dan aku sadar, dia menghina eye shadow ku. Lain waktu dia bilang, "Habis parfum sebotol ya kalo kita mau jalan." 

UGH, dia emang abnormal dengan segala kelakuannya itu. Tapi aku heran, dia banyak fans. Gak cukup seorang dua orang cewek yang suka ma dia, yang pdkt ma dia, yang (parah banget) ngajakin check in ato bapak2 yang minta dia jadi menantu, malas aku dengarnya, aku kesal. Gak satu dua orang cewek2  ganjen yang coba merusak hubungan kami, awal2nya aku emang goyah, sekarang udah biasa aja. Kalo emang dia tergoda, ya udah, aku mulai lagi misi loveseeker. 

Kabogoh, pria istimewa dihatiku. Dia gak pernah memintaku untuk melakukan apapun untuk membuatnya tetap mencintaiku. Dia membiarkanku jadi diriku seada adanya. Dia menerima segala kekuranganku. Dia memaklumi sifat2 burukku. Dia memahami saat aku marah dan menangis. Aku tahu dia  pun merasa takut menjalani hubungan bersamaku. Dia takut gak bisa membahagiakanku, dia takut jika kelak kami bersatu aku akan terseret ke dalam masalah2 hidupnya, dia takut dia gak mampu memberikan kehidupan layak untukku, banyak ketakutan yang pernah dia bilang padaku. Namun, dia gak pernah mengeluh, dia menunjukkan kerja keras, benar2 keras, sampai waktunya 24 jam habis untuk bekerja. Itulah kabogoh ku, selalu bekerja keras menutupi kekuranganku yang terbiasa hidup dalam kemudahan. Aku ingin mengambil sedikit saja semangat juangnya, semangat kerjanya, pola pikirnya. 

I'm not his princess.... Dia gak memujaku dengan berlebihan, dia gak menganggapku segala2nya, dia gak pernah bilang aku cantik, dia marah kalo aku salah, rotasi hidupnya gak terfokus padaku. Ya, dia gak pernah bilang aku sempurna, namun saat dia bilang, "Aku akan berusaha dengan cara apapun untuk menjadi pasangan hidup terbaik seorang inanda Tesniana" itu udah lebih dari cukup. Seribu kali kata cinta pun, gak bisa menandingi indahnya perasaanku saat dia mengatakan itu.